Wednesday, November 26, 2014

Museum Wayang Sendang Mas

Wayang merupakan kesenian utama masyarakat Jawa yang telah ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia oleh Unesco, PBB. Wayang berasal dari kata bahasa Jawa ‘wewayangan’ yang artinya bayang-bayang. Pertunjukkan merupakan sajian cerita tutur yang digambarkan melalui boneka, dan diproyeksikan ke dalam bentuk bayangan dengan bantuan tata cahaya.
Wayang digerakkan oleh seorang dalang, dengan iringan seperangkat gamelan sebagai latar musik dan dukungan tembang-tembang Jawa yang dinyanyikan seorang sinden.
Wayang di Tanah Jawa bukanlah sebentuk kesenian yang seragam. Setiap komunitas menciptakan wayang yang dikreasi sedemikian rupa sesuai dengan semangat lokal dan disesuaikan dengan kebutuhan pementasan. Wayang gagrag Banyumasan merupakan tipe wayang khas yang hanya mengambil sebagian elemen dari wayang yang berasal dari daerah lain di Jawa seperti wayang Yogyakarta, wayang Kedu dan wayang Surakarta. Sesuai karakter masyarakat yang mengagungkan kebebasan dan keterbukaan, wayang gagrag Banyumasan mengandung banyak unsur humor, dan upaya menertawakan jenis wayang baku yang penuh dengan aturan.
Museum
Museum menjadi ruang pamer yang menceritakan kembali lintasan sejarah dan beragam kreasi wayang. Mulai dibangun semenjak tahun 1982, sampai saat ini bangunan museum masih terus dikembangkan. Nama Sendang Mas merupakan bentuk singkat dari Seni Pedalangan Banyumas. Penegasan tersebut menegaskan betapa berbedanya wayang gagrag Banyumasan dengan jenis wayang lainnya.
Pembedaan itu terdapat pada aransemen musik gending yang tidak seutuhnya menggunakan standard pewayangan seperti gending sulukan dan gending pangkur. Gagrag Banyumasan juga menghadirkan tokoh baru yang berkarakter unik bernama Bawor.
Bawor dalam kisahnya merupakan anak tertua hasil doa pemujaan tokoh bijak titisan dewa, Ki Semar. Bawor lahir dari bayangan Ki Semar usai melakukan pemujaan, sehingga secara fisik memiliki kemiripan. Bentuk wajah dan tubuh yang asimetris, serba tidak beraturan, menjadi ciri utamanya. Bawor memiliki perut buncit, pantat super besar dan hidung pesek yang jelek.
Kisah-kisah pewayangan gagrag Banyumasan menghadirkan Bawor sebagai sosok bijak yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos, spontan, serba terbuka, humoris dan mengusung semangat kejujuran. Bawor dengan teguh akan memakai bahasa Banyumasan yang berbeda dengan tokoh-tokoh wayang lain yang memakai bahasa Jawa baku.
Lintasan Sejarah
Kesenian wayang telah melampaui masa ribuan tahun dan terus bertahan dengan menyesuaikan kemajuan jaman. Sejumlah ilustrasi dari berbagai bahan yang telah digunakan dalam pewayangan digambarkan di dalam museum.
Bahan
Nama Wayang
Tahun Masehi
Kisah
Kulit
Kulit Purwo
872
Mahabrata dan Ramayana
Kidang Kencana
1556
Mahabrata dan Ramayana
Gedog
1563
Serat Panji
Klitik Kulit
1648
Damarwulan
Kuluk
Duporo
1830
1830
Kerajaan Demak dan Mataram Kerajaan Demak dan Surakarta
Madya
1850
Kerajaan Kediri
Wahana
1920
Wayang Kontemporer
Kancil
1925
Dongeng Binatang
Adam Makrifat
1940
Olah Tasawuf
Jawa
1940
Sejarah Pangeran Diponegoro
Perjuangan
1943
Perjuangan Republik Indonesia
Suluk
1947
Perjuangan Republik Indonesia
Pancasila
1947
Ajaran Pancasila
Wahyu
1963
Ajaran Agama Katholik
Sejati
1972
Cerita Sejarah
Daun
Rontal Purwo
934
Mahabrata dan Ramayana
Daun Kluwih
1316
Dolanan Bocah
Kain
Beber Purwo
1361
Mahabrata dan Ramayana Gamelan Slendro
Beber Gedong
1564
Serat Panji Gamelan Pelog
Kayu
Klithik
1564
Cerita Damarwulan
Golek Purwo
1584
Mahabrata dan Ramayana
Thenguk
1900
Cerita Menak
Golek Jakin Nata
1965
Mahabrata
Orang
Wayang Wong
1760
Mababrata dan Ramayana
Pethilan
1760
Mahabrata, Ramayana, Panji
Batu
Relief Candi
Abad IX-XV
Mahabrata dan Ramayana
Suket
Permainan Anak
Kontemporer
Dongeng, Permainan Anak
Bambu
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Logam
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Karton
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Koleksi
Koleksi museum tidak hanya berupa jenis wayang yang merefleksikan lintasan sejarah, melainkan juga sejumlah alat bantu pertunjukkan wayang seperti blencong sebagai alat tata cahaya, gamelan sebagai alat musik wayang baku, calung sebagai alat musik gagrag Banyumasan hingga pakeliran atau layar.
Sejumlah koleksi Museum Wayang Sendang antara lain Wayang Gagrag Banyumasan Tempo Dulu dan Sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wrayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Krucil, Wayang Beber, Gamelan Slendro, Calung/Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket/Adam Marifat, Banyumas Tempo dulu, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat benda Tosan Aji, Buku perpustakaan dan arkeologi yang memamerkan sejumlah peninggalan peralatan dari bahan baku batu dan kayu.
Lokasi Museum
Jalan Gatot Subroto No.1, Banyumas

0 comments:

Post a Comment

ads

ads