Advertise Here

Promote your business.

Advertise with us

take your brand to new heights.

Advertising info

Let's do cool things together!.

Space available to advertise

Target your audience.

keep calm and advertise

Get your business noticed!.

Sunday, December 21, 2014

Gunung Mekongga

Gunung Mekongga (2620 m dpl) merupakan puncak gunung tertinggi dari pegunungan Mekongga yang terletak di Propinsi Sulawesi Tenggara. Jalur pendakian dimulai dari desa Tinukari yang berarah Barat – menenggara dengan waktu pendakian 7 hari perjalanan.
Daya tarik utama gunung ini adalah hutan yang masih perawan dengan keanekaragaman flora dan faunanya. Hutan pegunungan Mekongga adalah hutan tropis basah Sulawesi yang merupakan habitat hewan endemik khas Sulawesi seperti Elang Hitam Sulawesi dan Anoa.
Puncak gunung Mekongga merupakan suatu kompleks batu gamping yang luas, untuk mencapai puncak para pendaki harus mendaki tebing setinggi kurang lebih 10 m.
Gunung yang sangat cantik, cocok untuk perjalanan juga untuk kegiatan pembukaan jalur rintisan. Banyak alternatif jalur yang bisa dicoba.

Gunung Kabaena

Kemolekan Pulau Sagori, Kabaena, Sulawesi Tenggara, kerap dinikmati oleh turis mancanegara sebelum tragedi bom Bali Oktober 2002. Pulau itu menyimpan misteri, antara lain seringnya kapal karam. Pantas banyak yang menyebutnya Segitiga Bermuda di Kabaena.
Pulau Sagori di Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, itu merupakan karang atol berbentuk setengah lingkaran. Pulau tersebut tak lebih dari onggokan pasir putih dengan panjang sekitar 3.000 meter dan pada bagian tengah yang paling lebar, 200 meter.
Wisatawan asing biasanya singgah di pulau itu dengan kapal pesiar setelah mengunjungi sejumlah obyek wisata di Kabupaten Buton dan Muna. Di Sagori mereka berjemur di atas pasir putih sambil menunggu bola matahari yang perlahan meredup saat hendak terbenam. Seusai menyaksikan gejala alam yang mengagumkan itu mereka pun melanjutkan perjalanan.

1631576-gunung-kabaena-c.jpgSagori sebetulnya lebih menarik jika dilihat dari pegunungan di Pulau Kabaena. Dari ketinggian jarak jauh itu Sagori menampilkan sapuan empat warna, yakni biru tua sebagai garis terluar, biru muda, garis putih, kemudian hijau di tengah. Warna hijau bersumber dari tajuk-tajuk pohon cemara yang melindungi pulau tersebut.

Jarak terdekat dengan daratan Kabaena sekitar 2,5 mil. Namun, pengunjung biasanya bertolak dari Sikeli, kota pelabuhan di Kecamatan Kabaena Barat, dengan jarak sekitar empat mil atau sekitar 30 menit dengan perahu motor. Sagori merupakan wilayah Kelurahan Sikeli.

Kata ”sagori” konon diambil dari nama seorang gadis yang ditemukan warga Pongkalaero–kini sebuah desa di Kabaena —pada saat air surut tak jauh dari pulau itu. Gadis itu diceritakan menghuni kima raksasa yang terjebak karena air surut.

Saat ditemukan, gadis tersebut dalam keadaan lemah tak berdaya. Para pemburu hasil laut kemudian menggendongnya ke sebuah onggokan pasir sebelum dibawa ke mokole (raja) di Tangkeno di lereng Gunung Sangia Wita, puncak tertinggi (1.800 meter) di Kabaena.

Namun, setelah beberapa saat diistirahatkan di onggokan pasir, gadis tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggal ia sempat menyebut namanya, Sagori. Sejak itu penduduk menamakan onggokan pasir itu Pulau Sagori.

Kuburan kapal

Keindahan Sagori di atas permukaan sangat kontras dengan kondisi alam dasar laut di sekitar pulau tersebut. Belantara batu karang yang terhampar di kawasan perairan pulau itu menyimpan misteri yang menyulitkan para pelaut, bahkan tidak jarang membawa petaka yang amat menakutkan.

Seperti diungkapkan beberapa tokoh masyarakat suku Sama (Bajo) di Kabaena, karang dan perairan Pulau Sagori hampir setiap dua tahun menelan korban berupa kapal pecah karena menabrak karang maupun korban manusia yang dibawa hanyut gulungan ombak pantai pulau tersebut.

Musim libur tahun lalu, misalnya, seorang siswa SMA Negeri 1 Kabaena tewas dihantam ombak yang datang mendadak saat dia bersama sejumlah temannya mandi-mandi di pantai. Sebelumnya, seorang ibu mengalami nasib serupa tatkala sedang mandi-mandi di sana.

Menjelang Lebaran lalu, sebuah kapal kayu kandas kemudian tenggelam di perairan pulau itu saat kapal dalam perjalanan dari Sikeli menuju Jeneponto, Sulawesi Selatan. Tidak ada korban jiwa, kecuali kapal tak dapat diselamatkan.

Dua tahun sebelumnya kecelakaan menimpa sebuah kapal dalam perjalanan dari Bulukumba (Sulsel) menuju Maluku dengan muatan sembako dan bahan bangunan.

”Tidak bisa dihitung lagi jumlah kapal yang terkubur di dasar laut Sagori,” ujar Uja’ (60), nelayan Sikeli dari suku Bajo.

”Kuburan” tersebut termasuk rongsokan kapal layar VOC dan kapal yang diperkirakan berasal dari China di kedalaman sekitar 13 meter saat air surut. Subair (57), Kepala SMP Negeri Sikeli, menemukan kapal tersebut pada 1973. ”Saya yakin itu kapal China karena masih menyimpan harta karun berupa piring antik dan gerabah lainnya,” katanya.

Menurut Subair, kecuali barang pecah belah, petunjuk lainnya adalah simbol-simbol China pada kapal maupun gambargambar naga yang terukir jelas.

Cerita seputar Pulau Sagori mirip Segitiga Bermuda (Bermuda Triangle) di Lautan Atlantik. Sagori juga menjadi kuburan bagi kapal-kapal yang berlayar mendekati pulau yang terletak 2,5 mil arah barat daya Pulau Kabaena itu.

Perairan Segitiga Bermuda terbentuk oleh garis (lurus) imajiner yang menghubungkan tiga titik, masing-masing di Pulau Bermuda, Miami (AS), dan Puerto Rico. Di wilayah perairan segitiga itulah dunia selalu dikejutkan denngan hilangnya sejumlah kapal bersama penumpang dan awaknya tanpa bekas. Bahkan, pesawat terbang juga kerap kali hilang misterius di atas perairan itu tanpa bisa dideteksi. Karena itu, Segitiga Bermuda dikenal sebagai ”Kuburan Atlantik”.
Tragedi kapal VOC

Kecelakaan laut terbesar di Sagori terjadi pertengahan abad ke-17 yang menimpa lima kapal milik VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), perusahaan dagang Kerajaan Belanda di Asia Timur yang beroperasi di Nusantara untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah. Kelima kapal itu bersamaan menabrak karang dalam perjalanan iring-iringan dari Batavia menuju Ternate (Maluku Utara).

Informasi agak lengkap tentang peristiwa empat abad silam itu dipaparkan Horst H Liebner, tenaga ahli bidang budaya dan sejarah bahari pada Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, saat mengikuti Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara IX di Bau-Bau, 5-8 Agustus 2005 lalu.

Menurut Liebner, peristiwa kandasnya kelima armada VOC di karang Pulau Sagori pada 4 Maret 1650 itu amat menarik untuk diteliti lebih mendetail. Namun, dia mengaku belum sempat membaca keseluruhan naskah catatan harian awak kapal tersebut.

Kelima kapal layar Belanda itu adalah Tijger, Bergen op Zoom (berdaya angkut 300 ton), Luijpaert (320 ton), De Joffer (480 ton), dan Aechtekercke (100 ton). Data daya angkut Tijger yang bertindak sebagai kapal komando tak disebutkan oleh Liebner. Seluruh penumpang (581 orang) dapat diselamatkan. Mereka terdiri dari awak kapal, serdadu, dan saudagar.

Malapetaka tersebut sangat menyengsarakan seluruh penumpang yang terancam kekurangan perbekalan. ”Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kami masih dapat menyelamatkan sedikit beras yang kering,” tutur Liebner mengutip jurnal yang ditulis salah seorang awak kapal.

Lokasi kecelakaan merupakan daerah asing bagi para pelaut Belanda maupun dunia pelayaran umumnya di zaman itu. Pulau Kabaena yang terdekat dengan lokasi musibah, dalam laporan disebut Pulau Comboina.

Penduduk setempat yang datang ke lokasi pada dasarnya bukan bermaksud menolong, tetapi menjarah seandainya tak dicegah oleh awak kapal. Penduduk yang dilukiskan sebagai ”orang hitam” diartikan Liebner sebagai etnis Sama (Bajo) yang mendiami pesisir Pulau Kabaena.

Hal itu dibenarkan tokoh Bajo H Djafar alias Nggora (80-an). ”Orang Bajo datang membantu sambil mengambil kain untuk bahan pakaian,” tuturnya mengutip tradisi lisan masyarakat Bajo seputar kecelakaan lima kapal VOC 400 tahun silam itu.

Setelah menjelang seminggu hidup di Pulau Sagori tanpa tanda-tanda kemungkinan adanya pertolongan, pimpinan pelaut Belanda memutuskan mengirim sebuah sekoci ke Ambon untuk melaporkan kecelakaan itu kepada Laksamana de Vlamingh.

Mereka juga berusaha membuat sendiri kapal menggunakan bahan-bahan dari kapal yang telah pecah berantakan. Awak kapal menyelamatkan barang dagangan dan 87 pucuk meriam.

Kapal hasil rakitan yang kemudian diberi nama Trostenburg (benteng pelipur lara) itu diluncurkan awal Mei, hampir bersamaan datangnya kapal bantuan pada 7 Mei 1650 yang dikirim atas perintah de Vlamingh. Kedatangan kapal bantuan itu sangat terlambat karena terhalang angin barat yang saat itu bertiup kencang.

Tragedi segera berakhir ketika semua awak kapal bersama muatan dan meriam diangkut ke Batavia. Bangkai kapal tersebut kini masih tergeletak pada kedalaman sekitar lima meter di dasar laut Pulau Sagori. ”Mesin dan baling-balingnya masih ada,” tutur Uja’.

Gunung Rantekambola

Gunung Rantekambola Latimojong 3455 mdpl atau setara dengan 11335 kaki,  salah satu puncak tertinggi dari sekitar 12 puncak pegunungan latimojong. Puncaknya terdapat sebuah batu yang di susun oleh pendaki yang di merupakan tanda titik tertinggi pada puncak ini, durasi waktu untuk mendaki gunung ini sekitar 5-7 hari, jalurnya bisa dari Kec. Mingkendek, Kab. Tanah Toraja, bisa juga dari Kec. Baraka, Kab. Enrekang, dan bisa juga dari Ranteballa Kec. Latimojong, Kab. Luwu. Jalur menuju ke gunung ini agak susah karna melewati punggungan yang sangat dingin karna di atas ketinggian 3000 mdpl lebih dan masih jarang nya orang yang pernah ke puncak ini.

Gunung Nepo

Bulu Nepo adalah sebuah gunung yang terletak di segi tiga emas Parepare, Sidrap dan Barru. Merupakan gunung tertinggi di wilayah tersebut. dari infomasih yang saya temukan tingginya cuma berkisar 1.000 Mdpl.
Tuk mencapai puncak Nepo ada beberapa titik akses, di sini saya memilih Bacukiki, skitar 7 KM dari jantung kota Pare-Pare kampong halaman. Menurut info yg saya dapat dari beberapa pendaki, perjalanan ditempuh skitar 6 jam di sepanjang perjalanan kita disuguhkan pemandangan2 alam yg luar biasa indah. Banyak menyimpan kisah2 tentang sejarah2 perjuangan. Melewati sebuah gunung yang dianggap bertuah oleh penganut animisme tertentu. .
Konon Gunung ini berpasangan dengan Gunung Bambapuang yg ada di Enrekang. Melihat dari struktur gunung memang agak mirip namun puncak Nepo adalah padang rumput, smentara Bambapuang batu cadas, di jaman Belanda ada sebuah tugu di puncak Nepo namun sayang itu sudah di bongkar orang2 yang beranggapan tugu berisi emas.

Gunung Lompobattang

Lampobattang artinya Perut Buncit.Terletak di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Gunung ini berdekatan dengan Gunung Bawakaraeng. Seperti Gunung Bawakaraeng, gunung ini juga menjadi objek pendakian. Bila Gunung Bawakaraeng didaki lewat lokasi wisata Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Gunung Lampobattang didaki lewat Kecamatan [ Tompobulu ]. Seperti Gunung Bawakaraeng, gunung ini juga menjadi sasaran penganut singkritisme yang melakukan ibadah haji di puncak gunung ini pada musim haji bulan Zulhijah.


Berada di puncak Gunung Lompobattang, kita melihat puncak Bawakaraeng. Berdiri tegak dengan ketinggian 2.870 Mdpl suhu minimumnya adalah sekitar 15°C dan maksimumnya sekitar 27°C. Luas gunung ini adalah 82.77 km2. Hutan gunung Lampobatang termasuk dalam vegetasi hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan Atas. Tumbuhan yang banyak ditemui adalah jenis Podocarpos ( konifer Asli ), Arega sp. Pohon Mapel ( Acercaesicum ), Rotan, Paku Tiang, Paku Besar, Tahi angin ( Usnea/Lumut kerak/Lychenes ), Arbei ( Morus alba ), Buni ( diplycosi / berbau seperti gandapura ), Lumut Aerobryum, Edelweis ( andaphaus javanicum ), dan sebagainya. Sedangkan faunanya adalah Anoa ( Bulbalus depressicrnius ), babi hutan, babi rusa, burung coklat paruh panjang dan Elang sulawesi
Nama : Gunung Lompobattang
Nama Internasional  : Mount Lompobattang
Bentuk / Nama Lain : Lompobatang
Ketinggian : 2871 meter / 9419 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Sulawesi (Celebes)
Huruf Awal Nama : L
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Kabupaten Gowa
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya
 

Gunung Rantemario Peg. latimojong

Adalah puncak teringgi di pulau Sulawesi yang pencapai tinggi 3478 mdpl.dengan kordinat 120°01′30″ BT – 03°23′01″ LS.dan berada tepat pada deretan pegunungan latimojonggunung ini tidak terlalu sulit tuk dijangkau hanya butuh 2-3 hari untuk sampai ke puncak. Dari puncak kita dapat melihat pemandangan yang begitu indah sepanjang mata memandang hanya awan yang membentang..,di puncak terdapat sebuah tiang tranggulasi setinggi 1,5 meter terbuat dari beton. jalur menuju puncak ini ada dua : yaitu dari kec,Baraka kab, enrekang dan kec.latimojong kab, luwu.
Masih banyak orang yang dapat membedakan antara Gunung Rantemario 3478 mdpl dengan Gunung latimojong 3305 mdpl, sebenarnya kedua puncak itu berbeda Gunung Rantemario puncaknya berada pada bagian utara tepatnya di daerah Karangan, Baraka (Kab Enrekang), sedangkan Gunung latimojong berada pada baguan selatan tepatnya di daerah Tibussan (kab. Luwu), keduanya adalah puncak tertinggi di Pegunungan Latimojong, ini juga di sebabkan banyaknya data-data yang kurang akurat yang tersebar, di tambah pengetahuan si pembaca yang tak mengetahui perbedaan antara Gunung dan Pegunungan. Pegunungan ini membujur dari Barat ke timur, dan melintang dari Utara ke Selatan. Konon kabarnya pegunungan ini merupakan tempat asal usul dari nenek moyang orang Enrekang, Toraja, Luwu dan Bone. Sedangkan saat ini yang mendominasi daerah Baraka hingga dusun terakhir Karangan adalah orang suku Duri yang berbicara dengan bahasa Duri. Berikut adalah urutan puncak-puncak pegunungan latimojong
 
Gunung Rantemario Peg. latimojong 3478 MDPL adalah salah satuh puncak dari beberapa puncak di pegunungan latimojong gunung Rantemario Latimojong merupakan puncak tertinggi Se-Sulawesi yang mencapai ketinggian 3478 mdpl. Gunung Rante Mario juga merupakan salah satuh gunung tersulit  di Sulawesi selatan menurut data kami, dikarnakan cuaca dan iklim yang sangat dingin apabila anda ingin menginap di puncak,
Sumber mata pencaharian penduduk di daerah perdusunan Pegunungan Latimojong adalah bertani kopi. Curah hujan rata-rata adalah 94,6 mm/tahun. Musim pendakian yang paling baik adalah dari Bulan July hingga Agustus. Anoa masih banyak terdapat di pegunungan ini, meskipun sudah dilindungi karena jumlahnya yang mulai berkurang, akan tetapi pemburuan ilegal masih terus berlangsung, baik oleh penduduk lokal maupun pendatang yang sengaja datang untuk berburu.

gunungBuntu Kabobong

Buntu Kabobong, buntu (Bahasa duri) = gunung, kabobong (bahasa duri) = alat kelamin wanita, sehingga buntu kabobong berarti gunung yang berbentuk alat kelamin wanita. Terletak di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan 260 km arah utara Kota Makassar. 7 km dari rumahku. Objek wisata ini sebenarnya bukan gunung tapi bukit yang jika diperhatikan secara seksama menyerupai alat kelamin wanita. Semasa sekolah di sma dulu, saya dan teman - teman sering ke tempat ini sepulang dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah di sore hari. Sekalian melatih Bahasa Inggris dengan para turis yang hendak melancong ke Tanah Toraja. Sangat mudah untuk ke sana, cukup naik kendaraan melalui jalan poros Makassar - Tana Toraja. Di pinggir jalan itulah kita dapat secara langsung menatapnya dari atas. Kalau cuaca lagi hujan atau terik matahari kita dapat berteduh di warung - warung, kafe, dan villa yang terdapat di sepanjang jalan.
Bukit inilah salah satu ikon kabupatenku, bukit yang hijau, cuaca yang sangat sejuk karena di pegunungan. Di tambah pula aliran sungai yang mengalir di kaki bukit Buntu Kabobong menambah cantik panorama.
Banyak versi tentang mitos asal mula terjadinya bukit yang erotis ini. Salah satunya dari guru geografi sma ku. Pada zaman dahulu kala terkisahlah dua pemuda dan pemudi yang dilanda asmara. Keduanya di maduk cinta sehinggga terjadilah perbuatan yang tidak senonoh di antara keduanya. Perbuatan mereka diketahui oleh seluruh masyrakat, sehingga mereka berdua diusir dari perkampungan. Dalam perjalan mereka ke arah selatan, si pemudi sangat menyesali apa yang telah ia lakukan. Si pemudi pun mencabut alat kelaminnya dan membuangnya ke arah timur. Dan JENG..JENG….!!!!! terbentuklah sebuah bukit yang berbentuk alat kelamin wanita.
Jangan lupa kalau hendak berwisata ke Tanah Toraja untuk sejenak singgah di objek wisata ini. Tipsnya berangkatlah pada pagi hari dari Makassar sehingga tepat sampai di Buntu Kabobong pada sore hari. Ngomong - ngomong mirip ngga yaah bukit itu dengan alat kelamin wanita???, soalnya aku kan belum beristri jadi belum punya referensi.

ads

ads