Advertise Here

Promote your business.

Advertise with us

take your brand to new heights.

Advertising info

Let's do cool things together!.

Space available to advertise

Target your audience.

keep calm and advertise

Get your business noticed!.

Showing posts with label museum. Show all posts
Showing posts with label museum. Show all posts

Thursday, November 27, 2014

Museum Kepurbakalaan Banten

Hari masih pagi ketika saya memutuskan untuk mengajak anak-anak berwisata ke Museum Situs Kepurbakalaan Banten yang terletak di Kawasan Wisata Banten Lama di desa Kasemen, Serang-Banten, pada Minggu 21 Juli 2013. Kebetulan saya tinggal di desa Kramatwatu yang letaknya dekat dengan kawasan situs sejarah Banten Lama yang pernah jaya pada abad ke XVI.
Saya berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor melalui. Situs pertama yang saya temui adalah Danau Tasikardi. Danau ini merupakan penampungan air yang akan dijernihkan untuk kemudian dialirkan ke keraton menggunakan pipa-pipa yang terbuat dari tanah liat dan ditanam di bawah tanah. Mengagumkan bukan? Bahkah teknologi pipa sudah ada di abad ke XVI. Konon, bagian dasar danau ini dilapisi keramik. Dan dahulu danau ini menjadi tempat wisata bagi para keluarga kerajaan. Danau seluas 5Ha ini kini juga menjadi tempat rekreasi yang dibuka untuk masyarakat umum. Suasananya begitu sejuk karena di sekeliling danau banyak pepohonan rindang. Disini kita dapat bermain sepeda air yang berbentuk bebek.
Saya tidak mampir ke danau tersebut, karena tujuan saya yaitu Museum Kepurbakalaan Banten.  Jarak dari rumah saya ke museum ini hanya 10 menit dengan berkendara. Jika menggunakan angkutan umum, bisa memalui pasar lama Serang dengan membayar ongkos sebesar Rp7.000,-. Memasuki halaman museum kita dapat melihat sebuah Meriam Ki Amuk. Meriam ini adalah hasil rampasan dari tentara Portugis yang berhasil dikalahkan dalam perang. Meriam ini terbuat dari tembaga dengan panjang 2.5 meter.
Meriam Ki Amuk
Meriam Ki Amuk
Selain meriam, di halaman museum juga dapat dilihat peralatan penggilingan tebu untuk pembuatan gula, serta berbagai hiasan pintu gerbang yang terbuat dari batu-batu yang diukir.
Didalam museum kita dapat melihat lebih banyak lagi benda-benda bersejarah lainnya. Untuk masuk ke dalam museum, cukup membayar harga tiket masuk sebesar Rp1.000,- saja. Tepat di pintu masuk kita akan disuguhi hasil kerajinan gerabah masyarakat Banten pada abad ke XVI. Di sebelah kanan pintu, dipajang silsilah raja-raja dari Kesultanan Banten Lama, serta patung sapi peninggalan kebudayaan masyarakat hindu jauh sebelum islam ada di Indonesia.
Sementara disisi kiri pintu, terdapat miniatur wilayah Banten Lama yang terletak di sisi teluk Banten. Disinilah saya kemudian mendapatkan infromasi dari petugas bahwa, jauh sebelum Singapura maju, Banten telah berjaya dengan pelabuhan Karangantu sebagai satu-satunya pelabuhan di Asia Tenggara yang menjadi pintu masuk para pedagang dari berbagai Negara.
Lukisan dan silsilah raja
Lukisan dan silsilah raja
gerabah
Melihat miniatur ini saya langsung tergoda untuk mendatangi satu persatu tempat-tempat bersajarah di kawasan wisata Banten Lama, seperti keraton Surosowan yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Banten Lama, Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke XVI, Benteng Speelwijk yang menjadi pusat pertahanan VOC, Vihara Avalokitesvara yang cantik yang juga dibangun pada abad ke VXI, Istana Kaibon, serta Pelabuhan Karangantu.
Selesai mempelajari miniatur sebagai panduan untuk menjelajahi seluruh situs yang ada, saya melanjutkan masuk ke dalam museum. Saya melihat alat-alat pertanian yang digunakan untuk bercocok tanam. Ada juga pengampul pancing yang terbuat dari timah, serta uang logam kuno. Disudut ruangan perdapat patung manusia dalam lemari kaca. Petung tersebut tengah memperagakan cara menyuling emas dengan alat tradisional pada abad ke XVI.
keramik
senjata
Dekat dengan patung tersebut dipamerkan berbagai perabotan rumah tangga yang terbuat dari keramik peninggalan masyarakat cina yang bermukim di Banten. Perabotan seperti piring, gelas, dan mangkuk ini berwarna dominan putih dan dan lukisan biru di atasnya. Benar-benar terlihat antik dan cantik!
Di dalam museum ini, yang paling banyak dipamerkan adalah benda-benda peninggalan kerajaan Banten Lama. Disini saya melihat banyak senjata seperti tombak dan keris. Ada juga batu berbentuk balok yang dulu digunakan sebagai tiang pintu gerbang keraton, serta besi-besi sebagai kunci. Selain itu, dipamerkan juga berbagai lukisan dan miniatur yang menggambarkan suasana kerajaan dan masa penjajahan.
Saya juga tertarik pada batu-batu berbentuk lempengan hitam yang di permukaannya terdapat tulisan berbaha inggris kuno. Rupanya lempengan batu tersebut adalah batu nisan orang-orang penting dari eropa yang meninggal di Banten. Di antara nisan-nisan orang eropa tersebut, ada juga satu batu nisan yang di atasnya terukir huruf kanji. Mungkin itu batu nisan untuk orang cina.
Salah satu lukisan suasana kerajaan dan penjajah
Salah satu lukisan suasana kerajaan dan penjajah
Dalam museum ini terdapat satu ruangan khusus yang di dalamnya tersimpan sebuah mesin cetak yang digunakan untuk mencetak uang secara manual pada tahun 1900-an. Di dinding ruangan ini terpasang juga contoh-contoh uang kertas yang digunakan sebagai alat tukar pada masa itu. Contoh uang ini berukuran besar dan dalam bentuk digital printing.
Dekat dengan pintu keluar, dipamerkan sebuah rumah adat suku Baduy. Baduy adalah sebuah suku yang bermukim di pedalaman Banten. Mereka membatasi diri dari peradaban modern untuk menjaga kelestarian adat leluhurnya. Hampir seluruh bagian dari rumah adat baduy ini terbuat dari bambu, hanya atapnya saja yang terbuat dari daun aren.
Rupanya rumah adat Baduy ini bukanlah hal terakhir untuk dilihat sebelum keluar dari museum. Tepat di muka pintu terdapat sebuah lemari kaca yang di dalamnya tersimpan bacaan khutbah jum’at yang dicetak dan terbuat dari tembaga. Dengan adanya cetakan khutbah ini tentu semakin menegaskan bahwa Banten Lama adalah kerajaan yang bernafaskan islami pada abad ke XVI.
rumah adat baduy

Wednesday, November 26, 2014

Museum Sandi

Sejarah perkembangan ilmu intelejen atau persandian di Indonesia khususnya Yogyakarta dimulai dari sebuah rumah kecil yang berada di tepian barat Sungai Progo. Para pejuang Indonesia melakukan kegiatan persandian di rumah Bapak Ponijan di Dusuh Dukuh, Purwoharjo, Samigaluh, Kulonprogo DIY.  Kegiatan ini ketika akan melakukan SO 1 Maret 1949, setelah peristiwa ini rumah Bapak Ponijan dikenal dengan Rumah Sandi.

Peran pentingnya ilmu sandi atau intelejen bagi sebuah negara menjadi alasan utama Pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY, membuat sebuah museum tentang Lembaga Sandi Negara agar masyarakat umum mengetahui seluk beluk sebuah organisasi sandi negara. Museum Sandi Negara berlokasi di kawasan Kotabaru, Yogyakarta setelah sebelumnya menempati di lantai dasar Museum Perjuangan Yogyakarta. Di museum ini, aneka macam koleksi yang bernilai sejarah menceritakan dunia persandian secara lebih luas.

Memasuki ruangan di museum ini, pengunjung bisa melihat banyak hal tentang seperangkat alat-alat sandi yang digunakan oleh petugas sandi kala melakukan kegiatan persandian. Di tempat ini pengunjung bisa melihat peralatan yang digunakan para kurir dalam bertugas, salah satunya sepeda onthel untuk mengantar surat-surat rahasia dari dinas code ke alamat yang dituju. Tidak ketinggalan pula di tempat ini juga terdapat beberapa alat persandian yang digunakan petugas sandi dalam menjalankan misinya.

Misalnya telegraf yang dibuat pada tahun 1809. Para pejuang Indonesia pernah merebut stasiun telegraf dari tangan Belanda dan kemudian menggunakannya untuk kepentingan bangsa. Ada pula mesin sandi BC-543 buatan Swedia yang diserahkan oleh Belanda setelah mengakui kedaulatan RI pada tahun 1949. Tak ketinggalan, mesin sandi SRE-KG buatan Indonesia ikut melengkapi koleksi Museum Sandi.

Melalui koleksi Cuneiform yang terpajang di lantai atas, Anda menengok kembali ke masa peradaban Mesopotamia Kuno. Kala itu, bangsa Sumeria mengembangkan sistem komunikasi berupa tanah liat bertuliskan simbol-simbol atau piktogram yang melambangkan makna sebenarnya. Bangsa Yunani Kuno dan Sparta juga mempunyai alat komunikasi yang dinamakan Skytale berupa tongkat yang dibalut sehelai kain bertuliskan huruf-huruf penuh arti. Sebagai media pembelajaran, Museum Sandi dilengkapi dengan fasilitas pusat informasi dan media permainan yang menggunakan teknologi multimedia. (aanardian/kotajogja.com)

Museum Sandi Negara I Lokasi: Jl. Faridan Muridan Noto No. 21, Kota Baru, Yogyakarta I Telp:  (0274) 561417

Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia


Sejarah Museum Bank Indonesia
Pada 1828 De Javasche Bank didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Sekarang gedung tersebut menjadi sebuah museum yakni Museum Bank Indonesia
Ada cara yang cukup praktis dan menyenangkan untuk mengetahui seluk beluk BI. Yakni dengan mengunjungi Museum Bank Indonesia (Museum BI) yang berlokasi di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Sejak lahir, Museum BI telah menjadi wahana penjelajahan yang penuh dengan edukasi dan rekreatif bagi para pengunjungnya. Dan ini bisa menjadi alternatif atau bahkan referensi wajib bagi masyarakat Indonesia yang ingin tahu cerita perjalanan bangsa dari sisi mata uangnya.
Mewah dan cukup modern. Itulah kesan yang timbul saat pertama kali menginjakkan kaki di museum ini. Dari luar, bangunan kuno ini terlihat megah dengan cat berwarna putih. Kesan kuno seketika pudar saat sudah berada di lobi, tepat di tengah, antara pintu masuk dan pintu keluar yang berhadapan.
Untuk masuk museum, kita harus menitipkan tas terlebih dahulu di sisi kanan lobi. Setelah itu, mengambil tiket di tempat yang tersedia (sekitar dua meter dari pintu masuk). Dengan tiket yang dibuat menyerupai uang itu, petualangan pun dimulai. Perjalanan dimulai dengan memasuki ruang gelap berbentuk cembung yang berilustrasi uang logam berjatuhan. Didukung teknologi canggih,pengunjung akan merasa dihujani uang logam, sekaligus mendapat penjelasan mengenai uang itu.

Di ruang Audio Visual Melalui film berdurasi 30 menit itu, jelas tergambar sejarah kantor pusat pertama BI adalah bekas bangunan rumah sakit (Binnenhospital) dan De Javasche Bank yang berdiri pada 24 Januari 1828. Pada masanya, De Javasche Bank memiliki fungsi tempat sirkulasi berbagai macam perdagangan hasil bumi yang datang dari berbagai penjuru wilayah Hindia Belanda. Gedung ini sempat direnovasi beberapa tahap dan mengalami perluasan, sampai akhirnya ditempati BI yang berdiri 1 Juli 1953.
sebagai museum yang diresmikan pada 15 Desember 2006, dan terbuka untuk masyarakat umum. Sejak saat itulah Museum BI melakukan pembenahan dan mempercantik diri untuk kepuasan pengunjungnya. Puncaknya adalah pada saat Presiden Republik Indoneisa, DR H Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan kembali museum ini pada 21 Juli 2009. Sejak saat itu, tampilan dalam museum ini lebih terlihat indah. Kaya akan visual modern-klasik seolah menuntun untuk memasuki lorong waktu sejarah yang mengesankan.

Menikmati pertunjukan dalam teater tersebut, membuat tubuh malas beranjak dari tempat duduk studio mini yang sejuknya terasa hingga ke daging dan tulang. Namun, untuk tahu lebih banyak, perjalanan tidak boleh berhenti sampai di situ. Persis setelah keluar dari ruang teater, kita akan memasuki ruangan medium masa lampau. Di ruang ini, kita disambut replika pelabuhan dan kapal, lengkap dengan rempah-rempah seperti pala, kayu manis, dan lain
lain yang menjadi alat tukar di masanya.

Pada dinding awal ruangan terbentang peta kuno sebagian daratan Asia. Itu peta zaman dahulu yang menggambarkan penuh sumber kekayaan alam. Masih diruang yang sama, panel aktivitas perdagangan sebelum kedatangan bangsa Barat sampai terbentuknya BI menjadi sebuah rangkaian peristiwa yang disuguhkan lewat papan informasi dan televisi modern. Kali ini, display elektronik otomatis yang menajadi pemandu setia dalam menjelaskan lewat audio visual canggih perihal sejarah kondisi ekonomi, politik sepanjang masa.
Di ruangan ini kita cukup menggunakan ujung ibu jari untuk untuk menyentuh layar monitor display agar dapat mengikuti kronologi perekonomian Indonesia mulai dari Masa Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, Masa Revolusi Fisil, Masa RIS, hingga Masa Berdirinya Bank Indonesia.

Di Museum BI kita juga bisa langsung berkenalan dengan sejarah kelembagaan BI. Secara garis besar kita dapat memahami fungsi BI sehubungan dengan moneter, perbankan, dan sistem pembayaran dari beberapa kurun waktu. Banyak sekali peran BI bagi pemerintah dan bagi pengembangan sektor swasta, terutama usaha-usaha kecil lewat pemberian kredit kepada perbankan.

Kita bisa melihat sekilas metamorfosis logo BI yang sudah mengalami beberapa kali perubahan. Perubahan ini semata-mata agar lembaga ini lebih berwibawa dan semakin berkarakter.

Dari semua ruang pamer, ruang emas moneter menjadi favorit pengunjung. Di sini, kita akan melihat tumpukkan batangan emas yang dilindungi kaca transparan. Mengkilau, memancarkan cahaya, dan menggambarkan simbol kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Dari sejumlah informasi yang tertulis, batangan emas yang asli memiliki kadar emas 99,99 persen tiap batangnya, dan memiliki ketebatan 4 cm dengan berat 13,5 Kg.

Pengunjung bisa memegang dan merasakan langsung berat emas tersebut di tempat yang telah disiapkan. Tapi jangan salah, emas yang ada di museum ini hanya berupa reflika yang dibuat sama persis dengan aslinya. Sebab, emas asli yang disimpan sebagai cadangan devisa negara dan dapat digunakan ketika negara mengalami krisis politik dan ekonomi yang mempengaruhi nilai tukar mata uang disimpan di BI. Meski bukan emas asli, ruangan ini menjadi salah satu tempat favorit pengunjung yang ingin berfoto.

Keluar dari ruang emas moneter, pengunjung akan memasuki ruang numismatika. Di sini kita hanya dapat merasakan cahaya sinar lampu temaram yang terdapat banyak kepingan dan lembaran uang, serta uang terbitan khusus dan sangat langka. Uang-uang ini dibagi ke dalam beberapa kelompok dan dipilih berdasarkan periode terbitnya. Contoh-contoh uang yang pernah dipergunakan di Nusantara itu mampu mengundang decak kagum. Betapa tidak, di sini ada uang kertas BI yang pertama kali dikeluarkan pada tahun 1952, terdiri atas beberapa pecahan mulai dari Rp. 5 hingga Rp. 1.000.

Di sini kita juga dapat menemukan uang seperti robekan karung beras bernama Kampua, uang kerajaan Buto, Sulawesi Tengara yang diprediksi pernah dijadikan alat tukar pada abad ke-14 hingga abad ke-19. Ada juga uang Token yang hanya terbit di komunitas tertentu, seperti di perkebunan, di tempat rekreasi dan tempat perjudian. Uang Token bentuknya berbagai macam (segi tiga, segi lima, bulat) dan terbuat dari kertas, kayu, bambu, dan logam.

Masih banyak objek lain yang tidak kalah menarik untuk disaksisakan di museum ini. Sepenjang perjalanan menelusuri ruang museum pengunjung bisa menemukan informasi mengenai hal-hal lain. Ada seragam tentara Belanda, Jepang hingga seragam Soekarno. Termasuk reflika atau patung yang menggambarkan sistem transaksi perbankan pada masa lampau. Alhasil, mengamati semua koleksi yang bertebaran di museum ini, merupakan kepingan kabar yang jika disatukan melahirkan sebuah cerita perjalanan bangsa Indonesia

Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia



polri_ruang.jpg
MUSEUM KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia
Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan museum semi modern yang dimiliki Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini. Dengan desain bangunan tahun 70-an ditambahi jendela-jendela modern menambah kesan klasik modern dengan desain interior mendasari konsep galeri. Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia menawarkan penelusuran sejarah kepolisian Negara Republik Indonesia melalui sentuhan galeri sehingga tanpa terasa membawa para pengunjung pada alam kepolisian masa lalu hingga masa kini. Warisan-warisan kekayaan Kepolisian Negara Republik Indonesia disajian untuk anda. Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Museumku.
Ruang Koleksi dan PeristiwaTugas kepolisian yang khas, memerlukan alat peralatan yang khas dalam tugas. Alat peralatan tersebut merupakan koleksi Kepolisian Negara Republik Indonesia khususnya dalam melakukan penegakan hukum. Koleksi peralatan tersebut memberikan gambaran bagaimana perkembangan teknologi dalam mendukung, membantu dan dimanfaatkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk menjalankan tugas pokok.
Dalam ruang ini akan dipamerkan berbagai koleksi peralatan utama dan alat bantu utama Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam menjalankan tugas.
Ruang SejarahKonsep lembaga kepolisian dalam tatanan kenegaraan telah ada sejak masa lampau. Dalam perkembangannya Kepolisian Negara Republik Indonesia mengalami perubahan seiring dengan perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Namun identitas Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai salah satu aparatur pemerintah pelayan, pelindung, dan penegak hukum tidak pernah dan tidak akan pernah lekang oleh waktu. Karena tugas dan pekerjaan polisi selalu ada dan diperlukan oleh masyarakat serta Kepolisian Negara Republik Indonesia terus dan harus terus meningkatkan kemampuan teknis profesi tanpa henti untuk menghadapi perkembangan keadaan.
Hall of FamePasang surut Kepolisian Negara Republik Indonesia juga dipengaruhi dengan gaya kepemimpinan dan kepribadian pemimpinnya. Sikap dan pribadi pemimpin dalam memimpin merupakan hal yang dapat dipelajari dan dianalisis untuk dimanfaatkan pada generasi penerus. Budaya, tradisi, kebiasaan, peraturan, dan kebijakan senantiasa mempengaruhi dan menjadikan seorang pemimpin menjadi unik dan khas.
Hall ini didedikasikan kepada para mantan pimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan disajikan gambaran para pemimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia yang telah banyak memberikan warna untuk Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Ruang KepahlawananTidak banyak yang dapat memahami kehidupan seorang polisi dalam kesehariannya. Cakupan area tugas dan berbagai macam tantangan yang dihadapi secara langsung dan tidak langsung akan membentuk karakter yang khas seorang polisi. Semua itu tidak diketahui, yang ada hanya "dimana polisinya?" saat masyarakat memerlukan tugas-tugas kepolisian.
Pada ruang ini akan diperlihatkan suka duka seorang polisi yang bertugas pada area-area yang tidak banyak orang mengharapkannya.
Ruang Simbol dan KesatuanSimbol dan Kesatuan adalah merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Simbol merupakan atribut yang menandakan seseorang berada pada suatu status tertentu yang dapat menjadi kebanggaannya dan didapat dari suatu perjuangan dan usaha.
Sedangkan Kesatuan merupakan kumpulan orang yang melaksanakan tugas yang sama untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam site ini disajikan bermacam pangkat dan lambang kesatuan serta pakaian seragam termasuk atributnya dari masa ke masa.
Ruang Penegakan HukumPerkembangan kejahatan sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Semakin tinggi peradaban masyakarat maka akan semakin tinggi modus operandi tindak kejahatan itu sendiri. Berbagai bentuk kejahatan yang terjadi dalam masyarakat (kejahatan internasional, kejahatan sosial, terorisme, dan sebagainya) akan disajikan dalam ruang ini.
Digambarkan juga bagaimana Kepolisian Negara Republik Indonesia menanggapi setiap kejahatan yang sangat mengganggu dan merugikan masyarakat.
Kids Corner
Ruang ini diperuntukkan kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dan negara. Pengenalan sejak dini pada anak-anak tentang tugas dan fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia dilakukan dengan cara yang menyenangkan.
Anak-anak akan dibawa dalam alam seakan mereka menjadi petugas polisi sungguhan, menjadi penyidik (detektif), petugas Samapta, petugas patroli. Melakukan pencarian jejak, petunjuk dan mencoba belajar menjadi seorang penyidik.
Disamping itu masih banyak permainan interaktif lainnya, buku-buku pengetahuan dan aktivitas bermain sambil belajar lainnya.
Sumber: Brosur 'Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia'

Alamat:
Museum Kepolisian Negara Republik Indonesia (Museum Polri)

Jl. Trunojoyo No. 3
Kebayoran Baru
Jakarta Selatan 12110
Telp. 021 721 0654

Museum Kebangkitan Nasional

gedung kebangkitan nasionalGedung yang saat ini menjadi Museum Kebangkitan Nasional merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang ada di Jakarta. Gedung megah ini dibangun pada tahun 1899 dan selesai pada tahun 1901. Pada awal keberadaannya di masa pemerintahan Hindia Belanda gedung ini digunakan sebagai tempat pendidikan Sekolah Dokter Djawa dan Sekolah Kedokteran Bumiputera atau yang lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandsche Artsen) yang secara resmi dibuka pada 1902.
Masuknya tentara Jepang ke Indonesia pada 1942, mengakhiri penggunaan Gedung STOVIA sebagai tempat kegiatan pembelajaran. Pada 1942-1945 saat pemerintahan Jepang berkuasa memfungsikan gedung Eks-STOVIA ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda. Pada 20 Mei 1974 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan Gedung Eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan Nasional” yang selanjutnya pengelolaan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.
Ada beberapa museum yang menempati Gedung Kebangkitan Nasional ini, yakni Museum Kesehatan, Museum Pers, Museum Wanita dan Museum Boedi Oetomo. Selain itu gedung ini juga dimanfaatkan sebagai perkantoran swasta dan beberapa yayasan, antara lain oleh kantor Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA), perpustakaan Yayasan Idayu, Yayasan Perintis Kemerdekaan dan Lembaga Perpustakaan Dokumentasi Indonesia.
Di dalam museum tersebut terdapat ruang pamer koleksi, yang terdiri dari ruang pengenalan (ruang penataan kembali), ruang awal pergerakan nasional. Ruang kesadaran nasional, ruang pergerakan nasional, ruang propaganda studie fonds, ruang memorial budi oetomo, dan ruang pers. Dan masing-masing dalam ruangan ini teridiri dari beberapa koleksi yang dipamerkan.
Beberapa benda bersejarah yang disimpan di museum ini antara lain koleksi perabotan, jam dinding, lampu antik, genta, perlengkapan medis, pakaian, senjata, foto, diorama, lukisan, patung, peta, miniatur dan koleksi lainnya. Selain itu ada pula benda lainnya seperti miniatur kapal tradisional pinisi dari Bugis, salinan lukisan tua yang menggambarkan tentara Pangeran Diponegoro yang tengah melakukan latihan perang, serta karya instalasi seukuran manusia sebenarnya yang diletakkan dalam salah satu ruang belajar, memperlihatkan para pelajar STOVIA dengan pakaian semi-tradisional mereka.
Museum ini sudah sering dijadikan tempat untuk berkunjung para pelajar, museum ini terdapat di Jl. Abdulrahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat, buka di hari Selasa – Jumat: 08.30 – 15.00, Sabtu – Minggu:08.30 – 14.00, Senin & Hari libur nasional: Tutup.

Museum Affandi

affandi_galeri_1.jpg
Museum Affandi terletak di Jalan Laksda Adisucipto 167, yaitu jalan utama yang menghubungkan kota Yogyakarta dan Solo, di tepi barat Sungai Gajahwong. Letaknya sangat strategis sebagai salah satu kompleks museum seni lukis di Yogyakarta. Kompleks museum menempati tanah seluas 3.500 meter persegi terdiri atas bangunan museum beserta bangunan pelengkap, dan bangunan rumah tempat tinggal pelukis Affandi dan keluarganya. Lahan yang berteras tidak menghambat Affandi dalam menciptakan tata letak bangunan beserta lingkungannya. Pembangunan kompleks museum ini dilakukan secara bertahap dan dirancang sendiri oleh Affandi.
GALERI I
Pada tahun 1962 Affandi selesai membangun Galeri I dengan luas bangunan 314,6 meter persegi sebagai ruang pameran bagi sejumlah hasil karya lukisnya. Bangunan Galeri I ini kemudian diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Prof.Ida Bagus Mantra, pada tahun 1974.
Pada Galeri I dapat disaksikan hasil karya Affandi yang berupa lukisan dari tahun-tahun awal hingga tahun terakhir semasa hidupnya. Lukisan tersebut terdiri atas sketsa-sketsa di atas kertas, lukisan cat air, pastel, serta cat minyak di atas kanvas.
Hasil karya dua buah patung potret diri yang terbuat dari tanah liat dan semen, serta sebuah reproduksi patung karyanya berupa potret diri bersama putrinya, Kartika, yang aslinya menjadi koleksi Taman Siswa Jakarta.
Sebuah mobil Colt Gallant tahun 1976 adalah mobil kesayangan semasa hidupnya yang telah dimodifikasi sehingga menyerupai bentuk ikan yang terpajang di dalam ruangan ini pula. Selain itu terdapat sepedanya dan sejumlah reproduksi di atas kanvas dan kertas.

GALERI III
GALERI II
Pada tahun 1987, Presiden Soeharto memberikan bantuan berupa pendirian sebuah bangunan Galeri II, yang menempati areal tanah seluas 351,5 meter persegi. Bangunan Galeri II ini kemudian diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan, pada tanggal 9 Juni 1988.
affandi_galeri_3.jpg
GALERI III
Galeri III didirikan pada tahun 1997 dan diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tanggal 26 Mei 2000 dan dibangun atas ide dasar yang sama dengan bangunan lainnya antara kompleks museum yang menggunakan bentuk garis melengkung dengan atap yang membentuk pelepah daun pisang.
Galeri III mempunyai tiga lantai bangunan, lantai I digunakan untuk ruang pameran, lantai II untuk ruang perawatan/perbaikan lukisan, dan ruang bawah tanah sebagai ruang penyimpanan lukisan.
Di dalam Galeri III dipajang karya keluarga Affandi, sulaman Maryati, lukisan Kartika dan Rukmini.
Sebagai bagian dari kompleks Museum Affandi, rumah tinggal Affandi dan keluarganya berbentuk rumah panggung dengan konstruksi tiang penyangga utama dari beton dan tiang-tiang kayu, dan atap dari bahan sirap yang membentuk sebuah pelepah daun pisang. Bangunan yang ada di kompleks museum ini seluruhnya spiral lengkung dan bagian atap membentuk pelepah daun pisang. Bagian atas rumah panggung merupakan kamar pribadi Affandi, sedangkan bagian bawah digunakan sebagai ruang duduk tamu serta garasi mobil.

affandi_gerobak.jpgGEROBAK
Sebuah gerobak telah dimodifikasi menjadi sebuah kamar, lengkap dengan dapur dan kamar kecilnya, dibangun Affandi atas permintaan Maryati, istrinya sebagai tempat istirahat di siang hari dan tempat meyulam karya-karyanya. Bentuk gerobak menjadi ide pilihan Affandi, ketika semula Maryati menginginkan ‘karavan’ (yang banyak digunakan masyarakat Amerika sebagai sarana tempat tinggal yang mudah berpindah tempat).
Bangunan lain yang terdapat di kompleks Museum Affandi ini merupakan bangunan pelengkap, yang dahulu difungsikan Affandi sebagai bangunan keluarga, yang direncanakan sebagai ruang untuk konservasi lukisan, guesthouse, dan lain sebagainya. Kolam renang keluarga tempat berkumpulnya Affandi beserta anak cucu pada saat tertentu.
Sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir, Affandi wafat pada tanggal 23 Mei 1990 dan telah memilih tempat pemakamannya di antara dua bangunan Galeri I dan Galeri II, berdampingan dengan istrina Maryati, dikelilingi lukisan hasil karyanya, serta rimbunan tanaman dan mawar di sekitarnya.

STUDIO SORRANDU
Studio Sorrandu adalah sebagai tempat ruang pamer dan sanggar kreatif seni ‘Gajah Wong’ dimana anak-anak maupun dewasa dapat belajar mengembangkan inovasi, kreativitas, dan bakatnya di bidang seni rupa.
Sumber: ‘Biography dan Museum Affandi’ (Penerbit Museum Affandi. Cetakan ke-2, Tahun 2008)

Alamat:

MUSEUM AFFANDI
Jl. Laksda Adisucipto 167
Yogyakarta 55281
Telp. 0274-562 593

Museum Bank Mandiri

SERBA-SERBI MUSEUM MANDIRI
Museum Mandiri berseberangan dengan Stasiun Kota. Bangunan museum pada mulanya adalah kantor Nederlandsch Handel-Maatschappij (NHM) atau Netherlands Trading Corporation alias Maskapai Dagang Belanda. Kantor pusat NHM berada di Amsterdam, sedangkan Batavia (Jakarta) adalah kantor cabang.

mm_mm.jpg
MUSEUM MANDIRI
  • Sejak berlakunya cultuurstelsel (1830), menjadi tugas utama NHM membeli, mengirim/shipping, dan menjual komoditi yang dihasilkan dari sistem tanam paksa seperti kopi, gula, dan nila.
  • Namun selama periode 1850an dan 1860an, NHM telah bergerak dan membangun jalinan keuangan sedemikian intensif dalam bidang industri gula sehingga boleh dikatakan telah terjadi transformasi NHM dari maskapai dagang menjadi bank. 

mm_exim.jpg
BANK EXIM PERNAH BERKANTOR DI SINI
NHM Batavia dikenal dengan sebutan Factorij atau factory dalam bahasa Inggris yang berarti agen dagang di negara asing. Setelah Indonesia merdeka, NHM dinasionalisasi (1960), kemudian berkembang menjadi Bank Exim dengan kantor pusat di Gedung Factorij. 
Bank Exim kemudian bergabung kedalam Bank Mandiri (1999). Sejak 2005 Gedung Factorij difungsikan sebagai Museum Mandiri.
  • Arsitek Gedung Factorij adalah J. de Bruyn, A. P. Smits, C. van der Linde. Pembangunan gedung berlangsung selama periode 1929-1933 dan peresmian oleh Presiden Direktur NHM Karel CJ van Aalst.

mm_papan_penunjuk.jpg
PAPAN PENUNJUK
Papan penunjuk menginformasikan aneka pelayanan bank di lantai dasar dan lantai satu. Misalnya untuk pelayanan effecten (efek atau surat berharga) dan safe deposit di sebelah kiri (dari sisi nasabah), sedangkan urusan perbankan di kanan. Di lantai satu terdapat kantor inspektur gula (Suiker Bergcultuur Inspecteur) di sebelah kiri dan direksi di sebelah kanan.

mm_kas_china.jpg
CHINEESCHE KAS
Ruang pameran Museum Mandiri terletak di tiga lantai. Lantai Dasar terdiri dari Ruang Treasury (Kas Afdeeling), Ruang Pembukuan (kamar khusus untuk buku besar), Ruang Kasir China (Chineesche Kas). Di sayap selatan terdapat Ruang Perlengkapan Bank, Ruang Kearsipan dan Komunikasi, Ruang ATM. Ruang Kearsipan dulunya merupakan kantor budidaya gula yang cukup sibuk.

mm_ruang_rapat.jpg
RUANG RAPAT BESAR
Setelah anak tangga terakhir menuju lantai satu, pengunjung akan berdiri di depan Ruang Rapat Besar. Di sini terdapat seperangkat meja dan kursi untuk keperluan rapat, sedangkan dinding dihiasi foto orang-orang penting dunia perbankan Indonesia.
Salah satu yang dapat kita jumpai adalah foto Agus Martowardojo, Direktur Utama Bank Exim (1998) dan Direktur Utama Bank Mandiri (2005-2010). Bankir kelahiran Amsterdam ini dipilih Presiden SBY untuk menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu II sejak Mei 2010. Selanjutnya penunjukan Anny Ratnawati oleh Presiden sebagai wakil menteri keuangan menjadi faktor Anggito Abimanyu meletakkan jabatan di Kementerian Keuangan dan kembali ke kampus. Setahun kemudian (Oktober 2011) terjadi perombakan kebinet. Sejumlah menteri digeser dan sejumlah wakil menteri ditambahkan diantaranya Mahendra Siregar. Sejak itulah kita memiliki dua wakil menteri keuangan.  *Sebuah foto ternyata bisa membawa kita kemana-mana*

mm_lorong.jpg
LANTAI SATU
Ruang pameran lain di lantai satu adalah Ruang Foto Direktur, Ruang Makan Direktur, Ruang Presiden Direktur, Ruang Numismatika. Di sayap selatan terdapat Ruang Mandiri Club, Ruang Piala, Ruang Kepegawaian, Ruang Security dan Rumah Tangga, Perpustakaan.

mm_safe_deposit.jpg
RUANG KLUIS UTAMA
  • Di bawah lantai dasar terdapat ruang kluis utama seluas sekitar 900 meter persegi dan dinding luar setebal 100 cm sebagai tempat menyimpan uang kas, efek, maupun barang-barang berharga milik nasabah.
  • Tiga galeri di ruang kluis atau khazanah adalah Effecten Kluis (ruang penyimpanan surat-surat berharga), Ruang Safe Deposit Box, Kast Kluis (ruang penyimpanan uang).
  • Dari Kast Kluis, terdapat pintu keluar menuju taman. Riuh jalak tunggir merah sungguh menarik perhatian. Si burung hitam dengan paruh kuning dan merah menyapu sebagian ekor. Aku suka matanya; menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. Sayang dikurung. Burung secerdas itu semestinya dibiarkan menjelajahi dunia sekehendak hatinya.

mm_patri2.jpg
PRASASTI PEMBERIAN KCJ VAN AALST
  • Prasasti Kaca Patri Museum Mandiri adalah hadiah Karel CJ van Aalst (1866-1939), presdir kesepuluh NHM Batavia. Van Aalst lahir di Hoorn (Belanda) yang juga merupakan kota kelahiran pendiri Batavia J.P. Coen (1587-1629). Alih-alih Batavia, Coen sebenarnya menginginkan Nieuw Hoorn sebagai nama kota, namun bos-bos besar Kompeni di Belanda (De Heren XVII) ternyata menghendaki lain.
  • Prasasti Kaca Patri terbagi dua bagian. Bagian bawah melukiskan empat musim di Eropa dan alam Indonesia.
  • Bagian atas antara lain menggambarkan Cornelis de Houtman dikelilingi oleh empat kapal yang berlayar ke Nusantara pada tahun 1595, yaitu Hollandia, Mauritius, Amsterdam, Duyfen. Ekspedisi First Schipvaart mencapai Banten 14 bulan kemudian. Acap Houtman memperoleh penghormatan terlalu besar sebagai pemimpin ekspedisi Belanda yang pertama mencapai Nusantara. Keberhasilan yang akan sulit dicapai tanpa map yang disediakan Petrus Plancius, seorang astronomer dan kartografer handal, maupun detail rute perdagangan yang diperoleh Jan Huygen van Linschoten dari Portugis.

mm_patri1.jpg
LUKISAN CORNELIS DE HOUTMAN
Selalu dikatakan bahwa kita dijajah Belanda selama 3,5 abad. Angka ini dihitung dari kedatangan ekspedisi Houtman di Banten (1596). Sejarawan Onghokham dalam The Thugs, the Curtain Thief and the Sugar Lord menarik perhatianku bahwa bisa jadi tidak demikian halnya. Tujuan ekspedisi pimpinan Houtman yang dibiayai oleh Compagnie van Verre (cikal-bakal VOC) adalah untuk mencari dan membeli lada. Kehadiran Belanda di Banten, kota pelabuhan yang ramai pada waktu itu halnya orang-orang asing (Inggris, Portugis, China, Arab) maupun orang-orang lokal dari Aceh, Makassar, dan kota-kota pelabuhan lainnya, adalah untuk berdagang. Jadi apakah tepat jika kita menandai penjajahan Belanda di Indonesia dari kedatangan Houtman.
Bahkan satu dekade kemudian ketika Batavia didirikan pada tahun 1609, belum hadir ide besar tentang akan adanya suatu kekaisaran kolonial Belanda di kawasan Nusantara. Dikemukakan Onghokham, 'In short, no body at that time could have foreseen what would be developed out of Batavia...' Lebih lanjut, 'In the writer's opinion it was not until 1830 that Dutch colonialism started, and even then only fully in Java, because in the same year the Dutch launched a new policy to exploit the island of Java.'

mm_nhm.jpg
GEDUNG NHM, SEKARANG MUSEUM MANDIRI

Sekilas tiket masuk Museum Mandiri. Untuk melacak mengapa di tiket masuk Museum Mandiri terdapat logo delapan bank yang kini sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya maka kita akan memulai dari perjalanan NHM.
  • 1824: NHM didirikan oleh Raja Willem I di Amsterdam, Belanda.
  • 1826: NHM cabang dibuka di Batavia. 
  • 1933: NHM cabang Batavia atau Factorij menempati gedung baru yang sekarang menjadi Museum Mandiri. 
  • 1960: Nasionalisasi NHM.
  • 1965: NHM digabung dengan Bank Negara Indonesia Unit II. 
  • 1968: BNI Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah BNI Unit II Divisi Ekspor-Impor yang kemudian menjadi Bank Exim.
  • 1998: Bank Mandiri berdiri sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan.
  • 1999: Empat bank pemerintah yaitu Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Ekspor-Impor Indonesia (Bank Exim), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) bergabung kedalam Bank Mandiri.
Dengan demikian tidak mengherankan jika kita akan menemukan logo keempat bank ini di tiket masuk Museum Mandiri. Sedangkan empat logo lainnya berasal dari bank-bank pendahulu yaitu NHM, Escomptobank, NHIB, BIN.
  • NHM dinasionalisasi dan berkembang menjadi Bank Exim di kemudian hari. 
  • Escomptobank N.V. setelah nasionalisasi menjadi Bank Dagang Negara.
  • Nasionalisasi Nederlandsch-Indische Handelsbank (NIHB) dan berganti nama menjadi Nationale Handelsbank sejak 1950, menjadi cikal-bakal kelahiran Bank Bumi Daya.
  • BIN (Bank Industri Negara) didirikan pada tahun 1951 dan digabung kedalam Bank Bapindo yang dibentuk pada tahun 1960.
Itulah sebabnya aku akan memilih tiket masuk Museum Mandiri sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Diantara pertimbangan adalah tidak sekadar tiket sebagai tanda pembayaran tetapi mengisahkan perjalanan dan sejarah museum melalui penggunaan lambang berupa logo bank.

Alamat:
MUSEUM MANDIRI

Jl. Lapangan Stasiun no.1
Jakarta 11110

Museum Mpu Tantular

Museum Mpu Tantular merupakan museum yang dikelola oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan merupakan kelanjutan dari didirikannya lembaga kebudayaan kebudayaan Stedelijk Historisch Museum Soerabaia oleh seorang warga Surabaya yang berkebangsaan Jerman, bernama Von Vaber pada tahun 1933. Museum ini baru diresmikan pada tanggal 25 Juli 1937.
Museum Mpu Tantular awalnya terletak di Jalan Pemuda no. 3 Surabaya, dan setiap ruangan di dalam museum terbagi dalam beberapa segmen seperti, ruang koleksi, perpustakaan, kantor dan auditorium. Dalam masa kepemimpinan Von Vaber, beliau banyak mengadakan hubungan internasional menyangkut pembangunan dan perluasan museum, sayangnya Von Vaber lebih dulu meninggal pada 30 September 1955 sebelum menyelesaikan banyak hal.
Sepeninggal Von Vaber, museum tersebut tidak terawat, koleksi-koleksinya banyak yang rusak dan hilang. Kemudian museum dikelola oleh Yayasan Pendidikan Umum. Pada tahun 1964, museum ini memperoleh pendanaan dari Yayasan Bapak Prof Dr. M. Soetopo. Setelah dibentuknya Direktorat Permuseuman di lingkungan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, perhatian Pemerintah terhadap museum yang dikelola Yayasan Pendidikan Umum menjadi lebih serius.
Museum Pendidikan Umum dibuka secara umum tanggal 23 Mei 1972 dan diresmikan dengan nama "Museum Jawa Timur". Selanjutnya timbul inisiatif untuk menyerahkan Lembaga Kebudayaan ini kepada Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Timur.
Dalam proses penegerian, Yayasan Pendidikan Umum bekerja sama dengan perwakilan Kantor Pembinaan Permuseuman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dan pada tanggal 1 November 1974 museum ini resmi berstatus Museum Negeri. Selanjutnya museum Jawa Timur diresmikan dengan nama "Museum Negeri Jawa Timur Mpu Tantular". Karena bertambahnya koleksi, pada pertengahan tahun 1975 Museum dipindahkan ke tempat yang lebih luas yaitu di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya, yang diresmikan pada tanggal 12 Agustus 1977 oleh Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyosudarmo.

Jl. Raya Buduran - Jembatan Layang Sidoarjo
Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Phone: (031) 8056688

Museum Satria Mandala


sm_diorama.jpgSejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam rangka merebut dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memakan waktu yang cukup panjang dengan pengorbanan jiwa dan raga maupun harta benda yang tak ternilai harganya. Perjuangan bangsa Indonesia dengan TNI sebagai intinya, berjuang secara bahu membahu dalam suasana kebersamaan. Dalam perjalanan sejarah dapat disarikan bahwa sejarah perjuangan nasional termasuk didalam sejarah TNI mempunyai peran penting dalam meningkatkan jiwa dan semangat serta memperkuat jati diri bangsa dalam mencapai tujuan nasional. Karena dengan belajar sejarah masyarakat bangsa diharapkan mampu bersikap serta bertindak arif dan bijaksana dalam menghadapi masa depan. Oleh karenanya minat prajurit dan masyarakat untuk memahami dan menempatkan kehidupan berbangsa dan bernegara senantiasa harus ditumbuhkembangkan.
Museum-museum, monumen, dan perpustakaan di lingkungan Pusjarah TNI, menyajikan peninggalan sejarah perjuangan bangsa Indonesia, khususnya sejarah perjuangan TNI dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan melalui diorama-diorama. Diantaranya diorama yang menggambarkan tentang kejayaan Nusantara dan cita-cita mempersatukan bangsa tersaji di Museum Keprajuritan Indonesia. Sedangkan diorama-diorama yang terdapat di Museum Satriamandala menggambarkan tentang sejarah kelahiran Tentara Nasional Indonesia (TNI). Yang di dalamnya terdapat Gedung Waspada Purbawisesa yang menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat dalam menumpas gerombolan separatis DI/TII. Selanjutnya penyajian diorama tentang peristiwa pemberontakan G30S/PKI terhadap NKRI terdapat di Monumen Pancasila Sakti. Selain itu koleksi-koleksi sumber tertulis, seperti buku-buku dan majalah-majalah yang berkaitan dengan sejarah perjuangan TNI tersedia di Perpustakaan TNI.
sm_ruang_senjata.jpgMelalui museum-museum, monumen, dan perpustakaan, masyarakat aan memahami perjuangan bangsa Indonesia khususnya sejarah perjuangan TNI dan sekaligus menumbuhkan motivasi untuk meneladani semangat juang para pahlawan bangsa.

RUANG SENJATA
Museum Satriamandala terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto no.14, Jakarta Selatan. Gedung museum ini sebelumnya dikenal sebagai Wisma Yaso yaitu tempat kediaman Ratna Sari Dewi Soekarno dan tempat Bung Karno disemayamkan sebelum dimakamkan di Blitar, Jawa Timur.
Di museum ini tersimpan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari tahun 1945 sampai sekarang, seperti aneka senjata berat maupun ringan, atribut ketentaraan, panji-panji dan lambang-lambang di lingkungan TNI, kendaraan perang seperti tank dan panser, berbagai jenis pesawat terbang peninggalan masa lalu. Satu diantaranya adalah pesawat Cureng yang pernah diterbangkan oleh Agustinus Adisutjipto serta tandu yang dipergunakan Panglima Besar Jenderal Sudriman saat bergerilya melawan penjajah.
Di dalam museum terdapat 74 diorama yang menggambarkan peranan TNI dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Satu diantaranya adalah diorama yang menggambarkan tentang Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Masih dalam kompleks Museum Satriamandala terdapat Gedung Waspada Purbawisesa menyajikan diorama yang menggambarkan perjuangan TNI bersama-sama rakyat menumpas gerombolan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, Aceh, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi pada tahun 60-an.
Selain diorama, dipamerkan pula dokumen, peta operasi, dan benda-benda relik lainnya. Fasilitas lain di museum ini adalah Taman Bacaan Anak, kios cenderamata, kantin, serta gedung serbaguna yang berkapasitas 600 kursi untuk berbagai kegiatan dan pertemuan.
Sumber: Brosur 'Profil Museum, Monumen, dan Perpustakaan PUSJARAH TNI'

Alamat:
MUSEUM SATRIAMANDALA
Jl. Gatot Subroto no.14
Jakarta 12710

Museum Zoologi Bogor

Museum Zoologi BogorBerawal dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang didirikan di Bogor pada tahun 1894, merupakan bagian dari 's Lands Plantentuin.
Pada awal didirikannya MZB berfungsi sebagai laboratorium zoologi yang memberi wadah penelitian yang berkaitan dengan pertanian dan zoologi, meliputi kegiatan inventarisasi fauna Indonesia.
Dalam perkembangannya sebagai bidang zoologi aktivitasnya diperluas.
SUSUNAN ORGANISASI
Bidang Zoologi adalah salah satu dari tiga bidang penelitian yang bernaung di bawah Pusat Penelitian Biologi, LIPI, di Bogor. Dua bidang lainnya adalah bidang botani dan bidang makrobiologi.
RUANG LINGKUP TUGAS BIDANG ZOOLOGI
Bidang Zoologi mengemban sebagian tugas Puslit Biologi. Berdasarkan SK Ketua LIPI No.23/Kep/D.5/87, Ps.59, maka tugas Bidang Zoologi meliputi:
  1. Eksplorasi dan inventarisasi fauna indonesia
  2. Melakukan evaluasi potensi ekonomi jenis-jenis fauna indonesia
  3. Pengembangan jenis-jenis fauna indonesia
  4. Pelestarian fauna indonesia
  5. Pelayanan kepada masyarakat umum, peneliti, dan pendidik untuk jasa ilmu pengetahuan zoologi.
KOLEKSI FAUNA INDONESIA
Bidang Zoologi telah mengembangkan koleksi binatang awetan dan binatang hidup untuk penelitian ilmiah. Koleksi ilmiah untuk kepentingan penelitian meliputi beberapa kelompok sebagai berikut:
1. Mamalia
Terdiri dari berbagai jenis binatang menyusui yang dikumpulkan dari berbagai kepulauan di Indonesia. Jumlah koleksi 650 jenis, terdiri dari 30.000 contoh binatang (spesimen).
2. Ikan
Berbagai jenis ikan yang menjadi kekayaan koleksi terdiri dari 12.000 jenis yang diwakili oleh 140.000 contoh binatang.
3. Burung
Dikumpulkan dari wilayah Indonesia Timur dan Barat. Jumlah seluruhnya 1000 jenis, meliputi 30.762 contoh binatang.
4. Reptil dan Amfibi
Di daerah tropis, terutama di Indonesia jumlahnya tidak banyak. Koleksi yang tersimpan tercatat 763 jenis, diwakili oleh 19.937 contoh.
5. Moluska
Kekayaan koleksi moluska di Indonesia tercatat 959 jenis yang diwakili oleh 13.146 contoh.
6. Serangga
Adalah kelompok binatang yang paling banyak jumlahnya. Koleksi serangga tercatat 12.000 jenis, diwakili 2.580.000 contoh spesimen.
7. Invertebrata lain
Terdiri dari jenis-jenis invertebrata bukan moluska dan serangga. Koleksi yang terkumpul ada 700 jenis diwakili oleh 1.5558 contoh.
PAMERAN MUSEUM ZOOLOGI BOGOR
Merupakan unit dari Bidang Zoologi, Puslit Biologi, LIPI yang merupakan penjabaran dari tugas pelayanan masyarakat umum untuk jasa ilmu pengetahuan zoologi. Unit ini mempunyai tugas memperkenalkan keanekaragaman fauna nusantara dalam bentuk awetan binatang dan replika, dengan harapan pengunjung dapat lebih mengenal kekayaan fauna nusantara, dan untuk meningkatkan kepedulian dan kecintaan generasi muda akan fauna nusantara, serta menunjang usaha pelestariannya.
VISI
Menjadi pusat informasi fauna nusantara yang terkini dan terpercaya.
MISI
  1. Mengungkapkan kekayaan dan manfaat fauna nusantara
  2. Meningkatkan kepeduliaan dan kecintaan generasi muda akan fauna nusantara
  3. Mencerdaskan bangsa melalui pengetahuan zoologi

TUJUAN
  1. Mengembangkan sarana pameran yang ideal sesuai kemajuan ilmu dan teknologi
  2. Menjadikan pameran museum sebagai sarana pendidikan yang praktis untuk mempelajari keanekaragaman, perilaku, ekosistem, dan daya guna fauna nusantara
  3. Menjadikan pameran museum sebagai wahana wisata bertaraf internasional
  4. Menjalin kerjasama secara nasional dan internasional dalam bidang penyelenggaraan pameran ilmiah terkini

Jumlah koleksi yang dipamerkan di pameran MZB meliputi 3,5% jumlah jenis fauna yang terdapat di Indonesia, dan hanya 0,05% contoh binatang (spesimen) yang dimiliki oleh Bidang Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI.

Sumber: Brosur 'Museum Zoologi Bogor'

Alamat:
MUSEUM ZOOLOGI BOGOR
(KEBUN RAYA BOGOR)
Jl. Ir. H.Juanda
Bogor

Telp: 0251-322226

Museum Wayang Sendang Mas

Wayang merupakan kesenian utama masyarakat Jawa yang telah ditetapkan menjadi salah satu warisan dunia oleh Unesco, PBB. Wayang berasal dari kata bahasa Jawa ‘wewayangan’ yang artinya bayang-bayang. Pertunjukkan merupakan sajian cerita tutur yang digambarkan melalui boneka, dan diproyeksikan ke dalam bentuk bayangan dengan bantuan tata cahaya.
Wayang digerakkan oleh seorang dalang, dengan iringan seperangkat gamelan sebagai latar musik dan dukungan tembang-tembang Jawa yang dinyanyikan seorang sinden.
Wayang di Tanah Jawa bukanlah sebentuk kesenian yang seragam. Setiap komunitas menciptakan wayang yang dikreasi sedemikian rupa sesuai dengan semangat lokal dan disesuaikan dengan kebutuhan pementasan. Wayang gagrag Banyumasan merupakan tipe wayang khas yang hanya mengambil sebagian elemen dari wayang yang berasal dari daerah lain di Jawa seperti wayang Yogyakarta, wayang Kedu dan wayang Surakarta. Sesuai karakter masyarakat yang mengagungkan kebebasan dan keterbukaan, wayang gagrag Banyumasan mengandung banyak unsur humor, dan upaya menertawakan jenis wayang baku yang penuh dengan aturan.
Museum
Museum menjadi ruang pamer yang menceritakan kembali lintasan sejarah dan beragam kreasi wayang. Mulai dibangun semenjak tahun 1982, sampai saat ini bangunan museum masih terus dikembangkan. Nama Sendang Mas merupakan bentuk singkat dari Seni Pedalangan Banyumas. Penegasan tersebut menegaskan betapa berbedanya wayang gagrag Banyumasan dengan jenis wayang lainnya.
Pembedaan itu terdapat pada aransemen musik gending yang tidak seutuhnya menggunakan standard pewayangan seperti gending sulukan dan gending pangkur. Gagrag Banyumasan juga menghadirkan tokoh baru yang berkarakter unik bernama Bawor.
Bawor dalam kisahnya merupakan anak tertua hasil doa pemujaan tokoh bijak titisan dewa, Ki Semar. Bawor lahir dari bayangan Ki Semar usai melakukan pemujaan, sehingga secara fisik memiliki kemiripan. Bentuk wajah dan tubuh yang asimetris, serba tidak beraturan, menjadi ciri utamanya. Bawor memiliki perut buncit, pantat super besar dan hidung pesek yang jelek.
Kisah-kisah pewayangan gagrag Banyumasan menghadirkan Bawor sebagai sosok bijak yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos, spontan, serba terbuka, humoris dan mengusung semangat kejujuran. Bawor dengan teguh akan memakai bahasa Banyumasan yang berbeda dengan tokoh-tokoh wayang lain yang memakai bahasa Jawa baku.
Lintasan Sejarah
Kesenian wayang telah melampaui masa ribuan tahun dan terus bertahan dengan menyesuaikan kemajuan jaman. Sejumlah ilustrasi dari berbagai bahan yang telah digunakan dalam pewayangan digambarkan di dalam museum.
Bahan
Nama Wayang
Tahun Masehi
Kisah
Kulit
Kulit Purwo
872
Mahabrata dan Ramayana
Kidang Kencana
1556
Mahabrata dan Ramayana
Gedog
1563
Serat Panji
Klitik Kulit
1648
Damarwulan
Kuluk
Duporo
1830
1830
Kerajaan Demak dan Mataram Kerajaan Demak dan Surakarta
Madya
1850
Kerajaan Kediri
Wahana
1920
Wayang Kontemporer
Kancil
1925
Dongeng Binatang
Adam Makrifat
1940
Olah Tasawuf
Jawa
1940
Sejarah Pangeran Diponegoro
Perjuangan
1943
Perjuangan Republik Indonesia
Suluk
1947
Perjuangan Republik Indonesia
Pancasila
1947
Ajaran Pancasila
Wahyu
1963
Ajaran Agama Katholik
Sejati
1972
Cerita Sejarah
Daun
Rontal Purwo
934
Mahabrata dan Ramayana
Daun Kluwih
1316
Dolanan Bocah
Kain
Beber Purwo
1361
Mahabrata dan Ramayana Gamelan Slendro
Beber Gedong
1564
Serat Panji Gamelan Pelog
Kayu
Klithik
1564
Cerita Damarwulan
Golek Purwo
1584
Mahabrata dan Ramayana
Thenguk
1900
Cerita Menak
Golek Jakin Nata
1965
Mahabrata
Orang
Wayang Wong
1760
Mababrata dan Ramayana
Pethilan
1760
Mahabrata, Ramayana, Panji
Batu
Relief Candi
Abad IX-XV
Mahabrata dan Ramayana
Suket
Permainan Anak
Kontemporer
Dongeng, Permainan Anak
Bambu
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Logam
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Karton
Permainan Anak
Kontemporer
Permainan Anak
Koleksi
Koleksi museum tidak hanya berupa jenis wayang yang merefleksikan lintasan sejarah, melainkan juga sejumlah alat bantu pertunjukkan wayang seperti blencong sebagai alat tata cahaya, gamelan sebagai alat musik wayang baku, calung sebagai alat musik gagrag Banyumasan hingga pakeliran atau layar.
Sejumlah koleksi Museum Wayang Sendang antara lain Wayang Gagrag Banyumasan Tempo Dulu dan Sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wrayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Krucil, Wayang Beber, Gamelan Slendro, Calung/Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket/Adam Marifat, Banyumas Tempo dulu, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat benda Tosan Aji, Buku perpustakaan dan arkeologi yang memamerkan sejumlah peninggalan peralatan dari bahan baku batu dan kayu.
Lokasi Museum
Jalan Gatot Subroto No.1, Banyumas

ads

ads