Wednesday, November 26, 2014

Museum Tepas Pariwisata Keraton Yogyakarta


13596357871341612530Berkunjung ke Yogyakarta, rasanya belumlah lengkap bila belum bertandang ke Keraton Yogyakarta. Buat kami (saya dan suami), ini adalah agenda penting kami, wajib untuk menengok Keraton Yogyakarta. Ya..salah satu keraton di nusantara ( Indonesia), yang masih eksis hingga saat ini. Oleh karenanya, buat kami, ini adalah sebuah peninggalan sejarah budaya yang terus hidup hingga kini. Dan barang tentu bisa kita ceritakan untuk anak cucu kelak.
Sejak merencanakan liburan diakhir tahun 2012, Yogyakarta adalah pilihan untuk liburan kami. Banyak hal yang menarik disana, wisata budaya terutamanya. Berkali-kali pula suami berkata, “nanti kalau ke Yogyakarta, masuk Keraton y??” Sayapun mengiyakannya. Buat saya sendiri, bukanlah untuk yang pertama kalinya masuk Keraton Yogyakarta. Bertahun-tahun yang lalu, saya sudah study tour ke Yogyakarta, yang artinya masuk Keraton untuk pertama kalinya. Yang kedua kalinya, dulu sewaktu masih belajar di kota pelajar ini, sekali pernah berkunjung bersama dengan teman-teman. Artinya ketika saya berkunjung lagi ke Keraton Yogyakarta bersama suami, ini adalah kunjungan saya yang ketiga kalinya. Bagaimana dengan suami saya? Kunjungan ini adalah kunjungan perdananya ke Keraton Yogyakarta.
Maka, rabu 16 januari 2013 lalu, kami sudah merencanakan, mengagendakan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Pagi itu kami sudah berangkat menuju Keraton dengan menumpang becak, yang memang banyak terparkir disepanjang jalan Prawirotaman ini. Seperti biasa ongkosnya Rp 20.000; dari daerah prawirotaman (tempat kami menginap), sampai di keraton. Oleh Bapak tukang becaknya, kami langsung diarahkan ketempat pembelian tiket masuk keraton. Ini artinya kami langsung menuju Tepas Pariwisata (Regol Keben). Saya dan suami sangat antusias sekali untuk bertandang kerumah Sultan ini (Sultan Castle). Kami tidak ingin kalah juga dengan para turis mancanegara, yang juga mengagendakan berkunjung ke rumah Sultan (Sultan Castle), dalam kunjungan utamanya ke Yogyakarta.  Maka tak heran bila di rumah Sultan ini, kami bertemu dengan mereka (turis-turis asing) yang satu penginapan, juga satu kereta dalam perjalanan dari Jakarta-Yogyakarta.
Sebelum memasuki keraton ini kamipun harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket ini tentu saja kami memilih untuk turis domestic seharga Rp 5.000;/ orang. Jadi berdua, kami hanya merogoh kocek sebesar Rp 10.000; saja, ditambah Rp 1.000; untuk ijin mengambil gambar. Artinya dengan menambah biaya Rp 1.000; saja, kita bisa  mengambil gambar didalam kompleks keraton sepuasnya. Tidak mahal bukan untuk bisa masuk ke Keraton Yogyakarta ini??
Masuk dipintu gerbang ini kita akan disambut dengan ramah oleh para abdi dalem yang telah berjajar rapi didepan pintu gerbang untuk menyambut para wisatawan yang datang tiada henti. Sekilas tentang para abdi dalem keraton ini, jumlahnya sangat banyak sekali. Dalam satu bulan mereka hanya punya kewajiban datang dua hari untuk melaksanakan tugasnya di Keraton. Kok Cuma dua hari?? Iya, karena jumlahnya yang sangat banyak tadi, sehingga tidak ada masalah bila abdi dalem ini hanya datang dua hari dalam satu bulan. Hal yang paling penting juga, supaya tidak memberatkan para abdi dalem. Dua hari dalam satu bulan tentu sesuatu hal yang tidak memberatkan. Lantas apa pekerjaan para abdi dalem ketika mereka tidak bertugas di Keraton?? Para abdi dalem ini, selain menjadi abdi dalem keraton, mereka juga mempunyai pekerjaan lain, seperti berdagang (berwiraswasta), juga ada yang menjadi PNS (pegawai negeri sipil).  Begitulah sekilas tentang abdi dalem yang saya tahu, bila kawan sekalian ada yang lebih tahu tentang abdi dalem keraton ini, bisa menambahkannya.
1359636107207350207413596359581949556225Setelah masuk dipintu gerbang ini, maka bila melihat kesamping kanan kita, mata akan langsung tertuju pada sebuah tempat pagelaran/ pertunjukan yang biasanya selalu ada untuk menghibur para wisatawan yang datang. Saat kami memasukinya/ datang, tidak ada pagelaran disana, tetapi ketika kami hendak melangkah keluar pintu gerbang keraton, ternyata pagelaran wayang golek telah dimulai. Oleh karenanya, saya dan suami menikmati barang sebentar pagelaran wayang golek tersebut sebelum akhirnya meninggalkan kompleks keraton, meskipun kami tidak mengerti terjemahan dari bahasa yang digunakan. Wayang golek ini disebut wayang golek menak.  Ya…sewaktu kami datang itu hari rabu, dan jadwal pertunjukan dihari rabu adalah wayang golek menak. Bagaimana dengan hari-hari lainnya, apakah ada pertunjukan atau tidak didalam keraton?? Sudah barang tentu ada, diantaranya, tari-tarian, wayang orang, wayang kulit, macapat (nembang), juga ada aktraksi panahan. Menarik bukan??
Menonton pertunjukkan Wayang Golek Menak
Pengiring Wayang Golek Menak
1359636905172356661313596366491396751210135963650114624089971359636355383008577Kembali lagi keperjalanan kami memasuki keraton, bila kita melihat kesebelah kiri setelah memasuki pintu gerbang keraton, kita langsung melihat seperangkat gamelan, yang merupakan benda pusaka keraton. Ya..benar sekali, inilah pusaka Keraton Yogyakarta yang diturunkan saat sekaten, Kyahi Gunturmadu, dan Kyahi Nagawilaga. Saat itu, ada beberapa abdi dalem yang sedang melakukan ritual di gong pusaka keraton tersebut. Dengan seksama kami melihatnya, pun begitu juga dengan turis lainnya memperhatikan ritual tersebut. Mengitari tempat ini, kamipun mendapat informasi, Bahwasannya setelah gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta tahun 2006 lalu telah meruntuhkan bangsal Trajumas, tempat kami melihat benda pusaka keraton tersebut. Oleh karenanya, setelah itu dilakukanlah rekonstruksi. Selain itu juga disini kita juga dapat melihat artefak/ temuan-temuan, yang ditemukan ketika rekonstruksi bangsal berlangsung. Dan kami juga melihat, masih ada lantai semen yang asli didalam bangsal ini. Waah..semakin menarik saja untuk mengenal ada apa saja didalam rumah sultan ini (Sultan Castle).
Benda pusaka Keraton
Lantai hijau polos, adalah lantai asli
Artefak-artefak yang ditemukan
Setelah mengitari bangsal Trajumas, kami beralih ke bangunan disampingnya, yang kalau dilihat-lihat, bangunannya pendek dan terlihat kecil. Dan ternyata disitulah tempat menyimpan belandar dan saka. Kalau orang arsitek tentu lebih mengerti tentang hal ini. Disini juga ada namanya sendiri-sendiri, belandar dan saka itu.
Beragam belandar dan saka
1359637070920387128Beralih mengikuti jalur wisata keraton, kamipun memasuki sebuah gerbang kembali. Yang menariknya, digerbang kedua ini, sebelum memasukinya, disamping sebelah kiri kami, ada dua patung abdi dalem. Kami sempat tertipu, karena sangat mirip dengan manusia, hingga kami kira itu adalah orang yang sedang duduk bersila, seperti para abdi dalem yang memang sedang duduk bersila. Dan digerbang itulah kami melihat lambang keraton Yogyakarta.
Dua patung Abdi Dalem yang sedang duduk bersila
1359637179296881434
Melangkah sedikit kedepan, maka mata kami terbelalak terkagum-kagum, melihat bangunan utama keraton Yogyakarta, yang ada diseputar bangsal Kencono ini. Tetapi, jangan berharap kita yang datang ke keraton sebagai wisatawan, bisa melangkah masuk kedalam bangunan utama keraton ini. Untuk menginjakkan kaki kelantainya, ataupun hanya sekedar duduk dilantainya yang paling pinggirpun, kita tak diperkenankan. Karena tempat ini adalah tempat utama keraton Yogyakarta, tempat untuk menyelenggarakan acara-acara penting Sultan tentunya. Dan didalam sana, diseputar bangsal kencono ini, ada tempat berkantor Sultan HB X. Jadi, kita hanya cukup melihatnya saja, dengan mematuhi aturan, yaitu tidak diperkenankan untuk memasuki area utama keraton.
1359637260439065468135963735897985383
1359637616126469521513596374771127019262Kalau kita amat-amati, banyak aktifitas didalam keraton Yogyakarta ini. Dan dengan berkunjung kesini (Sultan Castle), kita bisa tahu aktifitas para abdi dalem, bahkan melihatnya langsung. Seperti ketika kami melihat benda pusaka keraton (Kyahi Gunturmadu dan Kyahi Nagawilaga), ada beberapa ritual yang dilakukan para abdi dalem. Dan ketika berada didepan bangunan utama keraton ini, kamipun melihat para abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya (caos). Melihatnya, diperbolehkan, tetapi tidak diperbolehkan kita untuk mengambil gambarnya dalam posisi membelakangi para abdi dalem ini. Meskipun dijadikan tempat wisata, kita sebagai pengunjung tentu juga harus menjaga sopan santun dirumah Sultan ini. Saat itu, kebetulan saya melihat abdi dalem yang sedang menuju tempat melakukan caos, ketika melewati bangunan utama keraton ini, abdi dalem itu berhenti mengahadap bangunan utama,  merendahkan badan, menunduk, mengatupkan kedua telapak tangan. Kalau kawan-kawan sekalian pernah melihat film-film kerajaan, tentu kawan sekalian tahu bagaimana sikap yang harus dilakukan para abdi dalem kerajaan ketika bertemu rajanya. Dan caos ini dilakukan dengan menghadap kebangunan utama keraton. Dengan hati-hati, kamipun melangkah meninggalkan para abdi dalem yang sedang caos. Dan berusaha agar tidak membelakanginya ketika berjalan.
Abdi Dalem yang sedang caos
135963831315189022261359638048775698400Selanjutnya, kamipun melihat koleksi-koleksi keraton. Yang pertama kami lihat adalah kereta pandu, yang digunakan raja dan ratu. Untuk saat ini, kereta ini tentu sudah tidak digunakan lagi. Tetapi, meski tak digunakan dengan umur yang mungkin sudah ratusan tahun, kereta ini tetap apik bukan?? Dan dibawah kereta ini, ada jejak ritualnya. Kalau saya perhatikan, sama seperti Kyahi Gundurmadu dan Kyahi Nagawilaga.
Gambar dari samping
Gambar dari belakang
135963857511413797081359638476183781992
1359638201447005833Kamipun melanjutkan perjalanan, dengan memasuki sebuah bangunan kaca yang sangat apik sekali. Didalam bangunan yang tak begitu luas ini, kami menemukan meja tulis pribadi Sultan HB IX yang jelas-jelas masih terawat. Begitupun dengan foto Sultan HB IX. Selain itu kami juga dapat melihat, beberapa penghargaan Pramuka yang dimiliki Sultan HB IX. Dibidang olahragapun Sultan HB IX, beliau mempunyai medali emas. Sejenak mata kami tercekat oleh kalimat yang ada disebuah lempengan marmer. Begini kata-katanya, “WALAUPUN SAYA TELAH MENGENYAM PENDIDIKAN BARAT  YANG SEBENARNYA, NAMUN PERTAMA-TAMA SAYA ADALAH DAN TETAP ORANG JAWA”. Ini adalah kalimat cuplikan amanat penobatan HB IX 18 Maret 1940. Kata-kata yang sederhana, tetapi sarat dengan makna bukan??
Apiknya tatanan atap bangunan
Meja tulis pribadi Sultan HB IX
penghargaan pramuka
Medali emas bidang keolahragaan
1359639353171124996Memasuki ruang selanjutnya, yang tertata rapi dengan bentuk memanjang, terdapat banyak lagi beragam koleksi yang berhubungan dengan HB IX. Ada foto HB IX, ketika masih berumur 4 tahun. Lantas ada pula mainan sebentuk mobil, dibawah foto kecil itu. Sampai dengan peralatan makan, kompor, dan beberapa sisa-sisa bumbu yang pernah dipakai oleh HB IX, juga masih ada dan terawat. Bahkan baju yang pernah dikenakan oleh HB IX, inipun masih ada. Mungkin kawan sekalian heran, kok ada bumbu dan kompor, memangnya sultan HB IX itu masak sendiri?? Ya, inilah sesuatu hal yang patut kita contoh, yaitu rendah hati. Sultan HB IX, yang bernama kecil GRM. Dorodjatun ini, adalah sultan yang sangat merakyat, dan terlatih mandiri. Sejak kecil sudah dikirim sekolah di Belanda, diikutkan dengan keluarga Belanda. Sekalipun putra mahkota, yang akan menjadi raja dikemudian hari, GRM Dorodjatun ini tidak sungkan untuk memasak sendiri. Suatu sikap yang patut untuk saya contoh, sayapun  bangga berada didapur memasak dan bergelut dengan bumbu-bumbu dapur, dan selalu berhadapan dengan kompor. Bagaimana dengan kawan sekalian, sungkan/ malu kah masuk dapur melihat kompor dan bumbu??
1359638686789658370
Foto Sultan HB IX sewaktu kecil
135963883917351991941359638919292503062
Kompor yang pernah digunakan HB IX
13596390511295716181
Sisa bumbu yang pernah digunakan HB IX
13596391951723013333
Peralatan makan
Keluar dari ruangan yang memanjang itu, kami memasuki sebuah ruang yang didalamnya ada lukisan Sultan HB X ketika dinobatkan menjadi raja. Besar sekali ukuran lukisan itu, sehingga sangat menonjol didalam ruangan itu. Kemudian dibawah lukisan Sultan HB X,  ada sebuah kursi. Kursi ini yang digunakan ketika penobatan berlangsung. Kemudian disebelahnya ada foto-foto ketika penobatan, dan foto lainnya, juga beberapa penghargaan, dan beberapa baju Sultan terdahulu, yang masih tersimpan didalam sebuah lemari kaca.
13596394681851396089
135963956413382028713596396321509590148
13596397081832214684
Selanjutnya, kamipun menuju ruang lain yang terdapat koleksi kristal dan koleksi keramiknya. Didalam masing-masing ruang koleksi kristal dan keramik itu, dijaga oleh satu abdi dalem. Banyak benda yang unik dan menarik didalam setiap ruang itu, entah didalam koleksi Kristal, ataupun keramik. Seperti namanya, ruang koleksi Kristal didalamnya terdapat segala macam benda, gelas, vas bunga, lampu, dan beragam hiasan yang rupanya sangat bening, mengkilat, dan mudah pecah. Maka jangan menyentuhnya, takut kalau pecah, apalagi punya keraton. Sementara diruang koleksi keramik, didalamnya berisi barang-barang yang kalau diamati barang-barang itu dari daratan Cina. Didalam ruang koleksi keramik, kami menemukan sebuah koleksi yang unik dan berbeda, kalau segala macam benda yang ada dalam ruang koleksi keramik adalah benda-benda keramik sebentuk pot bunga, guci, hiasan-hiasan, maka benda ini adalah sebuah jam.
1359639778204537264613596398411088755997
Puas mengitari koleksi Kristal dan keramik, kami menuju ruang lukisan. Ruang lukisan ini ada didalam sebuah bangunan, yang dijaga oleh beberapa abdi dalem diluarnya. Didalam ruang-ruang ini, saya kira pencahayaannya kurang, jadi terasa gelap, mengingat jendela tidak semuanya terbuka, bahkan tertutup. Didalam bangunan ini terbagi atas beberapa ruang/ kamar, dimana setiap ruang ada beberapa lukisan. Ketika itu, ada lukisan-lukisan yang tidak dipajang. Tetapi, kami masih bisa melihat lukisan yang lainnya, yang jumlahnya cukup banyak. Banyak lukisan yang bisa kita lihat, ada lukisan raja (Sultan HB I sampai Sultan HB IX),  ratu, selir,  anak-anak raja, dan Pakualam. Memasuki ruang lukisan ini, tempatnya sepi dibandingkan dengan ruang-ruang yang lain, yang banyak pengunjungnya.  Nuansa magispun sangat terasa, entah mengapa saya sendiri merinding, bulu kuduk berdiri semua, telapak tangan dan kaki terasa dingin sekali. Namun, saya tetap berusaha tenang, tetap melihat lukisan-lukisan tanpa memandangnya lama-lama, dari ruang yang satu beralih keruang yang lain, dan kemudian keluar bangunan tempat lukisan itu. Dan didalam ruang lukisan itu kamipun tak mengambil gambar masing-masing lukisan yang ada didalamnya. Hanya silsilah keluarga kerajaan, dan foto GRM Dorodjatun saja yang diambil.
Tak terasa kaki mulai pegal, mengitari kompleks keraton ini. Sebelum melanjutkan keruang berikutnya, saya dan suami berhenti sejenak disebuah tempat yang ada bangku-bangkunya. Sepertinya bangku-bangku ini memang disiapkan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Keraton Yogyakarta, agar ketika mereka merasa lelah, bisa beristirahat barang sebentar, sambil membeli minuman yang juga dijual disana. Namun, sayang sekali penjual minuman itu belum buka, bukanya jam sebelas siang, padahal saat itu baru jam 10.30 pagi, dan kami haus sekali! Akhirnya kamipun mengisi waktu dengan melihat-lihat souvenir yang dijual diseberang penjual minuman itu. Ada macam-macam souvenir yang ditawarkan, diantaranya, blangkon, kaos-kaos, topi, pernak-pernik lainnya. Penjual minuman belum buka juga, akhirnya kami berlalu saja…
13596404321005056020
Tempat beristirahat
Lanjut ke ruang koleksi lainnya. Kali ini, kami masuk keruang koleksi batik. Harap mematuhi aturan ketika memasukinya, saat membeli tiket, dan membayar Rp 1.000, ijin mengambil gambar, kita harus baca dengan seksama, ditiket itu tertulis, bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil gambar/ foto diruang koleksi batik. Kita harap maklum, ini sebagai langkah pencegahan bila mungkin ada pihak yang ingin meniru motif batik milik nusantara ini. Didalam ruang ini, beragam motif batik dipajang/ dipamerkan. Kita bisa melihatnya, juga bisa mengamatinya, begitu banyaknya motif batik yang kita miliki ini. Tidak hanya kain batik Yogyakarta saja yang dipajang, tetapi ada motif batik dari daerah lainnya, seperti Pekalongan, dan Madura. Adapun koleksi batik yang merupakan hadiah dari sejumlah pengusaha batik Yogyakarta dan daerah lainnya, didalamnya. Selain bisa menikmati koleksi batik, diruang koleksi batik ini, kami menjumpai peralatan membatik, mulai dari HB VIII sampai HB X. Didalam ruang ini, ada sebuah sumur juga. Sumur ini adalah sumur tua yang dibangun oleh Sultan HB VIII. Menarik bukan, ruang koleksi batik ini?? Dan ruang koleksi batik inilah yang disebut Museum Batik, yang diresmikan oleh Sultan HB X ditahun 2005.
Ruang koleksi batik menjadi penutup perjalanan kami berkunjung ke Keraton Yogyakarta. Sebelum melangkah keluar, sayapun mencoba fasilitas toiletnya, karena ingin buang air kecil. Kebetulan toiletnya ini berada tidak jauh dari Museum Batik. Masuk ke toilet, tempatnya bersih. Ada dua ruang, satu toilet ala barat, artinya tidak air hanya ada tisu toilet saja, ruang kedua ala Indonesia, lengkap dengan bak air dan gayung. Sayapun memilih ala Indonesia saja. Air didalam bak airnya itu,  jernih dan dingin. Sementara bak airnya bersih, hingga kedasar bak.  Jadi, fasilitas toilet dikompleks keraton ini sama nyaman dan bersih seperti fasilitas toilet di Mirota Batik.
Selanjutnya, kami keluar kompleks keraton melalui Regol Keben, tempat kami masuk dan membeli tiket tadi. Keluar dari Keraton hati kami merasa puas, karena ada banyak ilmu yang bisa kita bawa. Tetapi jangan berprasangka macam-macam tentang ilmu ini. Ilmu yang kami bawa pulang adalah ilmu bersikap rendah hati, tidak sombong, menjaga tutur kata, dan harus berlaku sopan dimanapun kita berada. Yang tak kalah penting yang harus kami ingat, sekalipun saya dan suami tinggal dinegeri orang, mungkin esok akan mengenyam pendidikan dinegeri orang, atau bahkan kelak anak kami mengenyam pendidikan dinegeri orang, hal yang pertama akan kami katakan, kami adalah orang Indonesia.

0 comments:

Post a Comment

ads

ads