Thursday, November 27, 2014

Gunung Sago

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/05/13369656382019232657.jpgSete­lah beratus tahun lalu dinya­takan mati dan tidak aktif, kini Gunung Sago di Kabu­paten Limapuluh Kota mulai meng­geliat dan mengeluarkan kepu­lan asap hitam. Diduga kuat gunung setinggi 2.262 meter itu terbangun dari tidur panjang­nya. Kondisi ini mem­buat masyarakat setempat lebih meningkatkan kewas­padaan.
Mulainya peningkatan aktivitas di Gunung Sago mengingatkan kembali, bahwa masih ada beberapa gunung api di Sumbar yang masih tidur. Seperti Gunung Singgalang yang berketinggian 2.872 meter, Gunung Pasaman yang berketinggian 1.984 meter dan Gunung Talamau yang berketinggian 2.918 meter.
Sementara untuk gunung aktif yang masih mengancam dan menge­pung berbagai daerah di Sumbar diantaranya Gunung Marapi yang berketinggian 2.891 meter, Gunung Talang yang berketinggian 2.597 meter, Gunung Tandikek yang berketinggian 2.476 meter dan Gunung Kerinci yang berketinggian 3.300 meter.
Kabid Geologi Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Nuzuir menyatakan Gu­nung Sago termasuk gunung yang aktif dan telah tercatat di pusat geologi Sumatera Barat.
“Gunung Sago itu memang gunung yang aktif. Namun sejak tahun 1600-an tidak pernah menam­pakkan aktivitas seperti Gunung Marapi, Tandikek dan Talang. Jika sekarang gunung tersebut menam­pakkan aktivitasnya, itu biasa,” katanya.
Ia juga menyampaikan kepada masyarakat sekitar untuk waspada dengan aktivitas Gunung Sago seminggu belakangan ini. Karena dampak dari aktivitas gunung api yang biasanya diam dan tiba-tiba mengeluarkan energi, akan berdam­pak besar dibanding gunung yang sering aktif, terutama untuk dampak erupsinya.
“Gunung Sago dapat disamakan seperti Gunung Sinabung yang meletus pada tahun 2010 silam. Masyarakat sekitar menganggap Gunung Sinabung tersebut sebagai gunung mati, Namun kenyataannya gunung tersebut meletus dengan kekuatan yang besar,” ujar Nuzuir.
Ia juga mengatakan, sebenarnya keaktifan Gunung Sago sudah terpantau sejak tahun 2008 lalu oleh pusat geologi dan diperkuat dengan hasil visual satelit google.
“Kita memang sudah menjad­walkan dalam bulan Mei ini akan menerjunkan para ahli untuk melakukan penelitian ke Gunung Sago, sekaligus memasang alat pendeteksi gempa,” katanya lagi.
Sementara itu, aktivitas Gu­nung Sago hingga Rabu (9/5) kemarin masih terus bergejolak. Bujang Sawir (56) salah seorang warga Padang Laweh, Nagari Tanjung Aro, Kecamatan Situjuh Kota Paya­kumbuh, yang bermukim di sekitar di kaki Gunung Sago mengatakan, sejak seminggu belakangan telah tiga kali melihat asap tebal di puncak Gunung Sago. Asap tersebut terlihat sangat jelas mengepul bewarna hitam pekat.
Bujang juga mengatakan, semen­jak adanya asap yang keluar dari Gunung Sago, masyarakat sekitar kaki gunung juga mulai merasakan gempa-gempa kecil. “Kamis (3/5) sore, masyarakat di kaki Gunung Sago merasakan gempa yang tidak terlalu kuat. Namun cukup terasa oleh masyarakat di kaki gunung,” katanya.
Keterangan sama juga disam­paikan oleh Fauzan (21), yang melihat jelas asap dari puncak Gunung Sago pada Selasa (8/5) sore.
“Saya melihat jelas asap yang keluar dari puncak Gunung Sago. Asap itu juga diiringi dengan bunyi gemuruh yang berasal dari gunung,” katanya.
Tak hanya warga di sekitar kaki Gunung Sago, tapi sejumlah warga di kawasan Bonjol Kabupaten Pasaman juga sering merasakan getaran kecil. Namun getaran yang dirasakan warga itu masih miste­rius, karena belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait.
Menanggapi informasi masya­rakat tersebut, pernyataan berbeda dan sangat kontras diungkapkan Manajer Pusat Pengendalian Ope­rasional Penanggulangan Benca­na (Pusdalops PB) Sumbar Ade Edward.
“Gunung Sago masih mati dan belum aktif. Informasi masyarakat tersebut belum bisa diper­tang­gungjawabkan secara ilmiah. Jika memang ada gempa di sekitar kaki gunung itu, kenapa tidak terdeteksi oleh alat yang ada,” tutur Ade Edward bersikukuh

0 comments:

Post a Comment

ads

ads