Advertise Here

Promote your business.

Advertise with us

take your brand to new heights.

Advertising info

Let's do cool things together!.

Space available to advertise

Target your audience.

keep calm and advertise

Get your business noticed!.

Showing posts with label nusa tenggara barat. Show all posts
Showing posts with label nusa tenggara barat. Show all posts

Friday, December 5, 2014

GunungTambora


GunungTambora dengan ketinggian hanya 2.851 mdpl (meter di atas permukaan laut) mampu memikat hati para pendaki dengan pesona alamnya yang sangat unik. Lebar kawah Gunung Tambora tujuh kilometer, keliling kawah 16 kilometer, dan kedalaman kawah dari puncak sampai dasar kawah kedalaman 800 meter, sehingga kawah Gunung Tambora terkenal dengan The Greatest Crater in Indonesia (Kawah Terbesar di Indonesia) akibat dari adanya letusan terdahsyat di dunia terkenal dengan The Largest Volcanic Eruption in History. Selain itu keindahan Gunung Tambora lainnya adalah padang pasir luas di sepanjang bibir kawah yang ditumbuhi bunga Edelweiss kerdil sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter dengan jarak masing-masing berjauhan sekitar dua meter sampai 100 meter. Juga adanya keindahan batuan-batuan berlapis dan pada bagian atasnya datar seperti meja menjadikan fenomena alam yang menakjubkan. Ada pula lapisan batuan sepanjang tebing kawah yang berlapis-lapis.




Yang tak bisa dilewatkan adalah keindahan yang bisa dinikmati di puncak Gunung Tambora, dengan pemandangan kawah, lautan, Pulau Satonda, padang pasir luas yang indah. Gunung Tambora termasuk salah satu gunung yang indah di Indonesia, tentunya dengan fenomena alam yang menakjubkan.


Gunung Tambora secara administratif terletak di Kabupaten Bima, Pulau Sumbawa, dan secara geografis terletak antara: 8o - 25'LS dan 118o - 00' BT dengan ketinggian antara 0-2.851 mdpl, gunung tersebut merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kawasan Gunung Tambora terbagi menjadi dua lokasi konservasi yaitu: Tambora Utara Wildlife Reserve dengan luas 80.000 hektar dan Tambora Selatan Hunting Park dengan luas 30.000 hektar.


Tambora Utara Wildlife Reserve dengan ketinggian antara 1.000 sampai 2.281 mdpl sebagai kawasan yang penting karena berfungsi sebagai daerah tangkapan air Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, dan sangat berpotensial untuk menjadi tempat wisata karena ciri-ciri geologi-nya sangat berbeda dengan kawasan lainnya. Juga sebagai tempat perlindungan satwa (wildlife sanctuary). Tambora Selatan Hunting Park dengan ketinggian antara 500 sampai 2.820 mdpl sebagai kawasan yang dikelola secara khusus untuk daerah berburu. Kawasan Gunung Tambora sangat kaya dengan kekayaan flora maupun fauna. Jenis-jenis flora yang paling banyak dijumpai, antara lain: alang-alang (Imperata cylindricca), Dendrocnide stimulans, Duabanga molluccana, Eugenia sp, Ixora sp, edelweiss (Anaphalis viscida), perdu, anggrek, jelatan/daun duri. Jenis-jenis fauna yang banyak dijumpai, antara lain: menjangan/rusa timor (Cervus timorensis), babi hutan (Sus scrofa), kera berekor panjang (Macaca fascicularis), lintah (Hirudo medicinalis), agas.



Gunung Tambora termasuk tipe gunung strato vulkanik, gunung tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 4.000 mdpl terkenal dengan peristiwa pada tanggal 5 April 1815 letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah. Letusan dahsyat gunung tersebut telah menyemburkan materi paling banyak dalam sejarah manusia, diperkirakan menyemburkan sebanyak 36 mil kubik, menciptakan kawah dengan diameter tujuh kilometer dengan kedalaman kawah 800 meter, dan keliling kawahnya 16 kilometer, mengalahkan letusan Gunung Krakatau yang menyemburkan lima kilometer kubik dan letusan tersebut menimbulkan lubang kawah selebar lima kilometer dengan kedalaman kawah 500 meter. Ledakan dahsyat tersebut menyebabkan Gunung Tambora dengan ketinggaian di atas 4.000 mdpl menjadi 2.851 mdpl.

Debu halus yang disemburkan dari letusan Gunung Tambora menutupi langit di atas wilayah yang luas sekali dengan radius 200 mil yang mengakibatkan daerah tersebut menjadi hujan abu di kawasan seluas 900 mil. Hal yang menarik dari peristiwa ini adalah lapisan debu yang menyembur ternyata telah menghambat sinar Matahari untuk mencapai Bumi yang mengakibatkan terjadinya perubahan musim secara tiba-tiba di beberapa bagian Bumi dan temperatur udara mengalami perubahan drastis di dunia. Pada musim panas tahun 1815 di belahan Bumi sebelah utara menjadi musim dingin karena kurangnya sinar matahari yang mampu menembus ke Bumi. Masyarakat di Pulau Sumbawa mengalami kelaparan. Tanah pertanian tertutup debu dan tidak bisa diolah sehingga dalam waktu singkat sekitar 700.000 sampai 80.000 penduduk tewas karena kelaparan yang melanda Pulau Sumbawa dan juga Pulau Lombok.


Sebelumnya pernah terjadi pula letusan Gunung Tambora pada tahun 1812 sehingga penduduk Sanggar menyaksikan kejadian tersebut, walaupun tidak sedahsyat tahun 1815. pada tanggal 5 April 1815 dentuman letusan gunung ini terdengar sampai ke Jakarta (1.250 kilometer) dan Ternate (1.400 kilometer). Hujan abu pertama jatuh di Besuki, Jawa Timur. Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 dentuman letusan Gunung Tambora terdengar sampai ke Pulau Bangka (1.500 kilometer) dan Bengkulu (1.775 kilometer) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung ini terdengar sampai Surabaya (600 kilometer) dan mengakibatkan 92.000 orang meninggal dunia. Jumlah ini lebih banyak daripada jumlah korban letusan Gunung Krakatau yaitu sejumlah 36.000 orang.


KALAU melakukan pendakian ke Gunung Tambora sebaiknya melalui jalur resmi, yang relatif lebih aman dari jalur lain, untuk menuju ke Dusun Pancasila dengan menggunakan armada darat dari Cabang Banggo (baca: cabang Mbanggo) Kabupaten Sanggar dapat ditempuh selama dua jam 15 menit. Para pendaki sebaiknya menginap di basecamp Bapak Lewah, Kepala Dusun Pancasila, atau menginap di rumah Bapak M Yusuf (babe), seorang guide pendakian Gunung Tambora yang sangat berpengalaman mengenai seluk-beluk dan sejarahnya Gunung Tambora. Dari Dusun Pancasila menuju ke Pos I dapat ditempuh selama satu jam, di Pos I tersebut terdapat sebuah pondok dan sekitar 20 meter terdapat mata air berbentuk sumur dengan airnya yang jernih, Kemudian dari Pos I menuju ke Pos II dapat di tempuh selama satu jam, di pos tersebut terdapat tempat datar untuk beristirahat dan sekitar lima meter dari tempat tersebut terdapat sungai kecil yang mengalirkan air jernih. Dari Pos II melanjutkan perjalanan kembali menuju ke Pos III dengan melalui hutan yang lebat dapat ditempuh selama tiga jam. Di Pos III tersebut ada tanah datar luas, terdapat pula pondok untuk tempat berteduh para pemburu rusa timor, adapun cara berburunya yaitu dengan menggunakan anjing sebagai pelacak dan menggunakan senapan laras panjang. Di Pos III tersebut merupakan mata air terakhir untuk mengambil air.


Gunung api sangiang

Pulau Sangeang dengan Gunung Api SangeangGunung api sangiang api (1986 MDPL) adalah suatu pulau gunung api yang terletak di bagian timur laut pulau Sumbawa yang memiliki luas +/- 215 km2 dan termasuk dalam wilayah desa sangeang, kecamatan wera, kabupaten bima, nusa tenggara barat. Secara geografis berada pada 80 11’ LS dan 1190 3,5’ BT.
Untuk menuju lokasi gunung sangeang api dari mataram dapat dicapai dengan menggunakan perjalaan darat dan pesawat udara, Perjalanan Darat dari Mataram sampai dengan Bima menelan waktu selama ±12 Jam perjalanan, kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju desa sangeang api dalam waktu 3 jam, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberabngi selat dari sangeang darat ke sangenag pulau menuju sori fanda yang letaknya di bagian selatan pulau sangiang dengan menggunakan perahu motor selama 2 jam. Untuk menuju puncak gunug api sangiang api harus ditempuh dengan berjalan kaki, diantaranya dari arah selatan dimulai dari Sori Fanda menyusuri Sungai Kering Bekas Aliran Lahar, kemudian keluar melalui Jalur Ilalang dan Punggungan yang di tumbuhi puluhan pohon sejenis Flamboyan, dengan waktu tempuh selama ± 9 Jam,  kemudian dilanjutkan dengan menyusuri parit kecil dan bekas aliran lahar dengan kondisi medan yang berpasir dan berkerikil menuju lembah antara Puncak sangiang Api dan Puncak Doro Ma ntoi. Lokasi pendakian menuju puncak sangiang Api dimulai dilembah ini dengan melewati padang Ilalang dan pasir halus serta bebatuan yang mudah Longsor, untuk mencapai Puncak Sangiang Api, Pendaki harus berjalan di atas bibir kawah kemudian turun ke Lembah Kawah mati dan dilanjutkan dengan pendakian menuju PUNCAK Sangiang Api dari arah utara Bibir kawah.

Topografi
Kondisi topografi merupakan daerah ± 90% bergelombang dan berbukit-bukit hingga bergunung-gunung dengan puncak tertinggi adalah Gunung Sangiang (1986 MDPL). Kondisi geologi terdiri dari tanah berdebu dan ditumbuhi oleh vegetasi yang lebat. Di dalam kawasan terdapat dua buah sungai yang mengalir sepanjang tahun yaitu sungai Sori Sola dan Sori Feto dan ada sumber-sumber air dekat dengan pantai.

Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt-Ferguson kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang bertipe iklim E. Jumlah curah hujan 283 mm dengan jumlah hari hujan 18 hari.

Sejarah Letusan

Berikut catatan letusan yang pernah terjadi :
  • 1512 letusan terjadi di salah satu atau kedua kawah pusatnya
  • 1715 kegiatan letusan teramati tanggal 23 maret 1812 oleh reinwardt.
  • 1860 menurut Reiche letusan terjadi sejak tgl 11 september hampir satu bulan.
  • 1911 letusan eksplosif, keluar asap hitam sehingga turun hujan abu di sebelah utara. Pada tanggal 13 februari 1911 hembusan asap di puncak terus menerus.
  • 1927 eksplosif normal (keterangan lebih lanjut tidak ada)
  • 1953 letusan terjadi tanggal 9 maret dengan pusat doro api, sebelumnya diawali terasa gempa bumi terasa diikuti letusan yang menyebabkan gelap sekitar 3 hari akibat jatuhan piroklastik (abu sampai lapili) di sekitar pulau sangeang. Hasil letusan lainnya berupa aliran lava di hulu Sori Oi (bagian barat) dan endapan lahar sekitrar Sori Oi hinga pantai membentuk endapan selebar 2 km serta dio Sori Miro juga sampai [pantai membentuk tanjung kecil. Akibat letusan tersebut penduduk di Joro Sangenag (Pusat perwakilan Sdesa Sangenag Darat) dan Toro Ponda yang jumlahnya sekitar 1250 jiwa diungsikan ke sangeang darat.
  • 1964 letusan terjadi tanggal 29 januari dengan pusat Doro Api diawamli oleh gempa bumi kemudian kepulan asap, bara api dan aliran lava yang mengalir ke arah barat daya (Sori Oi dan Hulu Sori Mbere,) serta kle arah tuimur laut (Soir Berano) penduduk yang bermukim di pulau Sangenag pada saat itu seluruhnya diunsikan ke sangeang darat.
  • 1985 letusan terjadi tanggal 30 Juli dengan pusat Doro Api menghasilkan enpdapan piroklastik (abu – lapili) ke atrah selatan dan membentuk aliran lava ke arah Sori Mbere (selatan). Penduduk yang mengungsi dari pulau sangenag ke sangenag darata sekitar 263 KK yang bersal dari Kp. Joro Sangenang, Toro Ponda, dan Donggo.
  • 1997 letusan terjadi tangal 24 Januari sdengan pusat Doro Api, menghasilkan enndapan pirolasitik (abu – lapili) ke arah timur dan membentuk aliran lava ke arah Sori oi (barat) menutupi lava 1985 dan ke arah Sori Berano (timur laut) menutupi lava 1964, sedangkan endapan awan panas mengisi lembah Sori Berano dan Sori Isu. Mankin ke muara endapan awan panas ini berangsur – angsur menjadi lahardan di muara Sori Isu lebarnya mencapai 300 m. Da bagian puncak Doro Api terdapat kawah baru hasil letusan tahun 1997 dengan diameter sekitar 60 meter kedalaman sekitar 15 m dari dasar kawah dan masih terus tumbuh, mengalir dan gugur ke lembah Sori Berano dan Sori Oi. Penduduk yang diubngsikan setelah terjadi letusan Januari 1997. seluruhnya sekitar 110 kk terutama bersal dari kampung Joro Sangngeang, toro Ponda, dan Donggo.

Gunung api sangiang termasuk dalam gunung aktif tipe A. Gunung api ini terbentuk strato dengan beberapa kawah, kubah dan sekitar 6 (enam) buah kerucut, yaitu : Doro Ondo (1846,71), Doro Monggo ( 1332, 44 mdpl), Doro Mantoi ( 1795,86 mdpl), Dewa Mboko (1462,71mdpl), Doro Ego (1547,34 mdpl) dan Doro Sangeang atau Doro Api (1986 MDPL). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil pada kompleks gunung api sangenag api telah terjadi beberapa kali lertusan. Pusat kegiatan gununug api saat ini terletak di puncak Doro Api yang dikenal dengan nama gunung sangeang api.
Berdasar pada beberapa literatur (Kusukamdinata, 1979) sebelum periode letusan 1953 kaldera Gunug Sangeang api masih utuh di bagian utara dan timur, sisanya terdapat di sebelah barat –barat daya (Doro Monggo) dan sedikit di sebelah selatan (Doro Mantoi), sedangkan bagian selatan terbukla sama sekali, hingga pinggir sungainya menyerupai sebuah sepatu kuda. Setelah peristiwa pembentukkan kaldera maka di dasarnya terbentuk 3 (tiga) buah kerucut utamayaitu : Doro Ondom, Doro Api, dan Doro Mantoi. Doro Ondo dan Doro Api lahir di dalam kaldera, tetapi Doro Mantoi mungkin juga pada pematang lingkaran atau di luarnya (Keunen, 1953).
Doro Ondo merupakan kerucut tertua, tetapi mana yang lebih dulu terbentuk, Doro Api atau Doro Mantoi masih menjadi pertanyaan. Dilihat dari sejarah letusan terdahulu sampai dengan pemantauan tanggal 16 – 27 September 1998 (Heryadi & Rahmat, dkk) pusat aktifitas guung sangiang api terletak di Doro Api.
Berdasar pada sejarah erupsinya, gunung api Sangeang Api aktif meletus sebelum dan sesudah tahun 1953. setelah 1953 tercatat paling sedkit 5 kali dan dari letusan tersebut yang paling utama adalah letusan 1953, 1964, 1985, 1997 dan 1998 yang menghasilkan beberapa kawah, kubah lava, endapan awan panas, lahar disertai munculnya hembusan solfatara dan fumarolla pada dasar dan lereng kawah/kubah. Peningkatan kegiatan sebelumnya terjadi pada tahun 1512,1715,1860,1911,dan 1927.

Potensi
Kawasan Cagar Alam Pulau Sangiang mempunyai potensi flora dan fauna yang cukup penting diantaranya Kesambi (Schleicera oleosa), Maja (Crypterania puniculata), Bidara (Merrimis sp), dan Imba (Azodirachta indica). Sedangkan beberapa jenis fauna yang ada yaitu Rusa (Cervus timorensis), Raja Udang (Alcedo caerulies cens), Koakiau (Philemon buceroides) dan Elang (Haliastur indus).
Dikarenakan wilayah ini merupakan wilayah perlindungan, ekttifitas yang memungkinkan dilakukan adalah pendidikan. Namun di luar potensi tersebut, di Pulau Sangiang juga terdapat makam dua orang syech yang menyebarkan agama Islam pada jaman dahulu kala, yang terletak di Oi Kalo (Syech Syamsuri) dan Puncak Doro Ondo (Syech Syamsuddin). Di sekitar kedua makam ini merupakan daerah yang sangat kental nuansa religiusnya (keramat).

Gunung Rinjani

Gunung Rinjani 
Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia setelah gunung Kerinci atau puncak ketiga tertinggi setelah puncak Jaya / Carstenz pyramid di Papua.

Gunung Rinjani terletak di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Taman nasional ini juga terdaftar di UNESCO sebagai taman geologi di Indonesia.

Di puncak gunung Rinjani anda akan melihat kaldera yang sangat besar (dengan luas sekitar 50 Km2) dengan danau (Segara Anak) dan gunung kecil (Gunung Baru) di tengahnya. Pemandangan di puncak sangatlah indah, cukup untuk membayar lelah perjalanan anda selama mendaki. Apabila anda cukup waktu dapat mencoba turun ke kawah & memancing. Di danau Segara Anak banyak terdapat ikan Mas & Mujair. Selain itu juga terdapat kolam air panas, cobalah berendam di kolam ini yang mungkin merupakan kolam air panas tertinggi di Indonesia. Suhu udara di puncak Rinjani sangat dingin, bisa mencapai 4 derajat Celsius
Menuju puncak gunung Rinjani bisa ditempuh dari dua tempat yaitu pintu Senaru dengan ketinggian 600 M dpl dan pintu Sembalun (Sembalun Lawang) dengan ketinggian 1.150 M dpl. Pintu Sembalun lebih banyak dipilih karena lebih dekat ke puncak sehingga bisa menghemat tenaga.

Gunung Kalimutu

Keindahan alam Indonesia memang seakan tidak ada habisnya. Hampir di seluruh penjuru pulau Indonesia bahkan yang menyebar luas di setiap jengkal wilayahnya menyimpan keindahan dan keistimewaannya tersendiri. Termasuk dengan keindahan alam yang ada di Nusa Tenggara Timur, khususnya pulau Flores. Selain berbagai wisata alam yang indah dan menakjubkan yang ada di pulau ini, salah satunya adalah Gunung Kelimutu. Nama Kelimutu diambil dari kata ‘keli’ yang berarti gunung, dan ‘mutu’ yang berarti mendidih. Salah satu keistimewaan dari gunung Kelimutu ini adalah adanya danau berwarna-warni yang ada di puncak gunung Kelimutu ini. penduduk setempat mempercayai bahwa warna-warna yang ada di danau warna warni di gunung Kelimutu ini memiliki artinya masing masing dengan kekuatan alam yang sangat dahsyat.


Danau Tiga Warna

Gunung Kelimutu

Kawasan Kelimutu pada 26 Februari 1992 ini telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional. Dengan tinggi yang mencapai 1.640 m ini, gunung Kelimutu memiliki tiga buah kepundan yang diberi nama Danau Kelimutu yang berada di puncaknya. Danau tiga warna tersebut memiliki nama dan warna yang berbeda beda. Menakjubkan sekali, bukan? danau yang disebut Tiwu Nuwa Muri Koo Fai adalah tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda yang telah meninggal. Lalu danau yang berwarna merah atau hijau masing masing, yang disebut dengan Tiwu Ata Polo tempat berkumpulnya jiwa jiwa yang telah meninggal yang semasa hidupnya melakukan kejahatan. Serta, Tiwu Ata Mbupu atau danau yang biasanya berwarna biru adalah tempat berkumpulnya jiwa orang orang tua yang telah meninggal.

Untuk dapat menikmati dan merasakan sendiri sensasi berada di puncak gunung Kelimutu dan melihat keindahan danau tiga warna tersebut, waktu yang sangat baik atau waktu yang tepat untuk melihat keindahannya adalah pada pagi hari. karena, pada siang atau sore hari, danau danau juga kawasan tersebut ditutupi kabut putih yang cukup menghalangi pandangan anda. Itulah sebabnya para wisatawan yang ingin melihat pemandangan dan mengunjungi danau tiga warna tersebut bermalam di Kampung Moni, untuk selanjutnya melakukan perjalanan pada dini hari menuju puncak gunung Kelimutu. Namun anda jangan khawatir, 20 homestay dan beberapa

Gunung Inerie

Gunung Inerie atau disebut juga Ineri atau Rokkapiek merupakan gunung api tipe Strato dengan bentuk kerucut sempurna secara geografis terletak pada posisi 08o 53’ LS dan 120o 57’ BT dan secara administratif berada di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Puncak Gunung Inerie terletak pada ketinggian 2.230 m dpl dengan kota terdekat adalah Bajawa dan pos pengamatannya terletak di Jl. Raya Bajawa – Ende, Desa Bomari, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur pada posisi geografis : 08o 48’ 26,40” LS dan 120o 58’ 37,50” BT (1243 m dpl).

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 938 orang, yang terdiri dari 431 orang laki-laki dan 507 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 3.066 orang, yang terdiri dari 1.417 orang laki-laki dan 1.649 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 1, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 5.857 orang, yang terdiri dari 2.741 orang laki-laki dan 3.116 orang perempuan. Jumlah penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada seluruh KRB adalah 9.861 orang yang tersebar di 16 desa, terdiri dari 4.589 orang laki-laki dan 5.272 orang perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 214 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 715 bangunan rumah, 7 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 1.468 bangunan rumah, 13 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.179 ha, yang terdiri dari 405 ha hutan, 515 ha semak belukar, dan 259 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 3.631 ha, yang terdiri dari 394 ha hutan, 12 ha pemukiman dan bangunan, 307 ha perkebunan, 324 ha sawah dan ladang, 1.103 ha semak belukar, dan 1.491 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 6.040 ha, yang terdiri dari 359 ha hutan, 74 ha pemukiman dan bangunan, 1.655 ha perkebunan, 983 ha sawah dan ladang, 778 ha semak belukar, dan 2.191 ha tegalan.
Sementara itu lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.536 ha, yang terdiri dari 55 ha hutan, 19 ha pemukiman dan bangunan, 123 ha perkebunan, 122 ha sawah dan ladang, 759 ha semak belukar, dan 458 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 1.764 ha yang terdiri dari 471 ha hutan, 23 ha perkebunan, 96 ha sawah dan ladang, 542 ha semak belukar, dan 632 ha tegalan. Sedangkan pada KRB1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 1.045 ha, yang terdiri dari 34 ha hutan, 5 ha pemukiman dan bangunan, 269 ha perkebunan, 338 ha sawah dan ladang, 57 ha semak belukar, dan 343 tegalan.

Gunung Ili Boleng

Gunung Ili Boleng biasa juga disebut Bolin atau Wakka atau Lamatelang merupakan gunung api bertipe Strato dengan kawah 5 kawah utama (K1 s/d K5) serta memilki 2 kawah lain bernama Ili Balile, dan Kawah Riawale. Secara geografis terletak pada posisi 8o 20’ 30” LS dan 123o 15’ 30” BT dan secara administratif masuk dalam wilayah Adonara Timur dan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Puncak gunung berada pada ketinggian 1.659 m dpl atau 1.639 di atas Kota Wai Werang, sedangkan pos pengamatan ada di Desa Arubala, Kecamatan Ili Boleng, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 berjumlah 3.766 orang yang terdiri dari 1.684 orang laki-laki dan 2.082 orang perempuan. Pada KRB 2, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 5.776 orang yang terdiri dari 2.633 orang laki-laki dan 3.143 orang perempuan. Sedangkan pada KRB 1, penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan berjumlah 991 orang yang terdiri dari 441 orang laki-laki dan 550 orang perempuan. Jumlah penduduk yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan di seluruh KRB adalah 10.533 orang yang tersebar di 63 desa, terdiri dari 4.758 orang laki-laki dan 5.775 orang perempuan.
Bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi 954 bangunan rumah, 10 fasilitas pendidikan dan 3 fasilitas kesehatan. Pada KRB 2, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 1.420 bangunan rumah, 12 fasilitas pendidikan dan 5 fasilitas kesehatan. Sedangkan pada KRB 1, bangunan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi 242 bangunan rumah, 4 fasilitas pendidikan dan 2 fasilitas kesehatan.
Lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan pada KRB 3 meliputi areal seluas 1.708 ha yang terdiri dari 70 ha hutan, 39 ha pemukiman dan bangunan, 520 ha perkebunan, 278 ha sawah dan tegalan, 209 ha semak belukar, dan 592 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 2.036 ha yang terdiri dari 73 ha hutan, 109 ha pemukiman dan bangunan, 716 ha perkebunan, 327 ha sawah dan ladang, 26 ha semak belukar, dan 785 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang terancam aliran awan panas, lava, gas beracun atau lahar hujan meliputi areal seluas 419 ha yang terdiri dari 8 ha pemukiman dan bangunan, 83 ha perkebunan, 187 ha sawah dan ladang, 9 ha semak belukar, dan 132 ha tegalan.
Sementara itu lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik pada KRB 3 meliputi areal seluas 2.660 ha, yang terdiri dari 144 ha hutan, 12 ha pemukiman dan bangunan, 531 ha perkebunan, 235 ha sawah dan ladang, 322 ha semak belukar, dan 1.416 ha tegalan. Pada KRB 2, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 4.857 ha yang terdiri dari 267 ha pemukiman dan bangunan, 2.006 ha perkebunan, 697 ha sawah dan ladang, 30 ha semak belukar, dan 1.857 ha tegalan. Sedangkan pada KRB 1, lingkungan yang berpotensi terpapar akibat ancaman lontaran batu pijar dan hujan abu vulkanik meliputi areal seluas 8.049 ha yang terdiri dari 191 ha pemukiman dan bangunan, 2.141 ha perkebunan, 2.851 ha sawah dan ladang, 325 ha semak belukar, 5 ha tanah kosong, dan 2.536 ha tegalan.

Wednesday, November 26, 2014

Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat

Museum Negeri Provinsi Nusa Tenggara Barat dirintis pembangunannya sejak 1976/1977. Pembangunan prasarana museum berlangsung hingga tahun anggaran 1980/1981.

Kelembagaan museum ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 23 Januari 1982. Peresmiannya dilaksanakan pada 23 Januari 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef. Sejak diresmikan hingga tahun 2000, Museum Negeri Propinsi Nusa Tenggara Barat merupakan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Direktorat Jenderal Kebudayaan. Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 museum ini menjadi UPT Daerah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Barat.

KOLEKSI

Sampai dengan 2006 museum ini memiliki koleksi sebanyak 7.387 buah, berupa koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi, dan keramik.

ALAMAT

Jalan Panji Tilar Negara No. 6
Mataram 83114
Telepon 0370-632159, 637503
Faks. 0370-637503

Monday, November 24, 2014

useum Asi Mbojo (Asi dalam bahasa Bima berarti Istana) merupakan bekas istana Kesultanan Bima. Bangunannya merupakan perpaduan antara arsitektur Mbojo dan Belanda. Dengan berakhirnya masa kesultanan pada tahun 1952, kemegahan istana ini juga mulai sirna. Pada tahun 1980 di saat pemerintahan Bupati H.Oemarharoen B.Sc istana yang hampir runtuh ini segera diperbaiki dan dipugar. Oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kemudian dijadikan Benda Cagar Budaya.
Di sebelah kanan istana terdapat bangunan tua yang didirikan pada tahun 1872, yaitu Masjid Muhammad Salahuddin Bima. Konsep tata letak bangunan istana, masjid, dan alun-alun melambangkan tiga elemen yang harus membentuk kesatuan yang utuh, antara pemerintah (istana), religi (masjid), dan alun-alun (rakyat). Area istana memiliki pemandangan yang sangat indah. Ada juga meriam tua yang mengarah ke utara dan alun-alun. Meriam ini merupakan peninggalan Kolonial Belanda. Keberadaan pohon-pohon palem semakin menambah keasrian istana di tengah panasnya suhu udara di Bima.
Istana ini telah berfungsi sebagai Museum Daerah Kabupaten Bima sejak tanggal 10 Agustus 1989. Dengan adanya otonomi daerah, maka pada bulan Maret 2008 museum ini berubah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Asi Mbojo.

Koleksi
Koleksi Museum Asi Mbojo terdiri atas benda-benda geolgi, flora dan fauna, serta benda-benda yang berhubungan dengan upacara kehamilan, kelahiran, perkawinan, dan kematian. Di samping itu, terdapat pula pusaka milik kesultanan yang terbuat dari emas dan perak yang terdiri atas alat-alat upacara, senjata, peralatan makan, mahkota, dan perhiasan untuk penari.
Yang paling terpopuler dari Koleksi Museum yaitu “Gunti Rante” sebuah parang yang sangat menakjubkan di ukir pada Zaman Majapahit dan Mahkota Sulthan yang terbuat dari Emas.
Di lantai dua dari museum ini, terdapat sejumlah kamar atau ruang tidur keluarga Sultan. Diantara kamar-kamar tersebut ada satu kamar yang dulu pernah digunakan untuk menginap Presiden RI I, Soekarno, ketika berkunjung ke Bima. Presiden Soekarno berkunjung ke kasultanan Bima pada 1945 dan 1951. koleksi-koleksi yang ada di Museum Asi Mbojo itu hanya sebagian dari koleksi kesultanan Bima. Sebagian koleksi lainnya disimpan keluarga Sultan.

Kasultanan Bima
Kesultanan Bima adalah kerajaan yang terletak di Bima. Penduduk daerah ini dahulunya beragama Hindu (Syiwa). Menurut catatan lama Istana Bima, pada masa pemerintahan raja yang bergelar "Ruma Ta Ma Bata Wadu",  menikah dengan adik dari isteri Sultan Makassar Alauddin bernama Daeng Sikontu, puteri Karaeng Kassuarang.
Ia menerima agama Islam pada tahun 1050 H atau 1640 M. Raja atau Sangaji Bima tersebut digelari dengan "Sultan" yakni Sultan Bima I (Sultan Abdul Kahir). Setelah Sultan Bima I mangkat dan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Khair Sirajuddin sebagai Sultan II, maka sistem pemerintahannya berubah dengan berdasarkan "Hadat dan Hukum Islam". Sementara itu, Sultan Ibrahim (Sultan Bima ke- XI) dari pernikahannya melahirkan Sultan Salahuddin yang kemudian diangkat menjadi Sultan Bima ke- XII sebagai Sultan Bima terakhir.

Museum Asi Mbojo tepatnya berlokasi di wilayah  RT 08 RW 03 Kelurahan Paruga, Kecamatan Rasanae Barat Kota Bima,  Propinsi Nusa Tenggara Barat.

ads

ads