Advertise Here

Promote your business.

Advertise with us

take your brand to new heights.

Advertising info

Let's do cool things together!.

Space available to advertise

Target your audience.

keep calm and advertise

Get your business noticed!.

Showing posts with label kalimantan timur. Show all posts
Showing posts with label kalimantan timur. Show all posts

Friday, December 5, 2014

Gunung Mesangat

Gunung Mesangat adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1847 meter, atau setara dengan 6060 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Mesangat ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Mesangat di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Mesangat merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Mesangat :

Nama : Gunung Mesangat
Nama Internasional  : Mount Mesangat
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1847 meter / 6060 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Kalimantan (Borneo)
Huruf Awal Nama : M
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Kabupaten Kutai Kertanegara
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Poin Penting / Kesimpulan dari Gunung Mesangat :

Kesimpulan 1 :  Gunung Mesangat berada di negara Indonesia di daerah Asia
Kesimpulan 2 :  Tinggi / Ketinggian Gunung Mesangat adalah 1847 meter atau 6060 kaki
Kesimpulan 3 :  Gunung Mesangat adalah merupakan dataran tinggi berupa Gunung
Kesimpulan 4 :  Secara internasional Gunung Mesangat bernama Mount Mesangat

Gunung Lumut


Puncak Gunung Lumut dari Kampung Suku Muluy. Foto: Hendar
Gunung Lumut terletak di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Gunung yang banyak memiliki cabang-cabang sungai ini, merupakan kawasan Hutan Lindung atau sering di sebut Hutan Lindung Gunung Lumut. Hutan perawan di kawasan gunung tersebut merupakan penyangga kehidupan 12 kampung dikawasan hutan lindung. Salah satunya adalah Kampung Muluy, Desa Swan Slotung Kabupaten Paser. dimana berdiam Suku Muluy, yakni salah satu dari 14 suku dayak Paser.
Hutan Lindung Gunung Lumut itu memiliki luasan sekitar 42 ribu hektar dan puncak tertingginya 1.210 meter di atas permukaan laut (dpl). Namun dari ketinggian 500 dpl kita sudah dapat melihat lumut menyelimuti hulu sungai yang keluar dari Gunung Lumut, salah satunya sungai Muluy.
Salah satu Suku Dayak Paser ini bernama Muluy, karena sejak jaman dahulu berada di pinggiran sungai Muluy, yakni aliran sungai dari Gunung Lumut. “Awalnya kami mau dipindah sangat jauh dari Gunung Lumut, namun kami menolak, kami tetap bertahan untuk tetap berada di bawah kaki Gunung Lumut, karena sejak nenek moyang, kami menjaga kelestarian di Gunung Lumut,” ungkap Jidan.
Kelebatan hutan hujan tropis di Gunung Lumut. Foto: Hendar
Suku Muluy telah berada di kaki Gunung Lumut sejak ratusan tahun yang lalu. Sebagai layaknya suku dayak, seharusnya Suku Muluy berada di daerah aliran sungai Muluy. Namun entah kenapa pada tahun 2000, Suku Muluy berada sekitar 700 meter dari pinggir sungai.
Kehidupan Suku Muluy di sekitar Hutan Lindung Gunung Lumut sangat sederhana. Bagi mereka, dengan menjaga kelangsungan alam sekitar maka alam akan memberikan apa yang dibutuhkan. Suku Muluy sekaligus menjadi penyangga terakhir Gunung Lumut yang telah ditetapkan sebagai hutan lindung pada tahun 1996 lalu. Dan Kampung Muluy merupakan salah kampung yang sangat dekat dengan Gunung Lumut tepatnya di bagian utara Gunung Lumut.
Keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut yang terletak 1200 meter di atas permukaan laut ini sangat luar biasa, belum lagi mineral yang terkandung di dalamnya. Banyak perusahaan yang berusaha untuk menaklukan kawasan Gunung Lumut, namun selalu kandas.
“Berapa banyak pengusaha yang masuk ke kampung Muluy untuk sekedar melakukan lobby agar diperbolehkan untuk mengeksploitasi kawasan Gunung Lumut, namun kami tidak sama sekali memperbolehkan, karena hutan dan Gunung Lumut merupakan penghidupan kami,” ujar Bapak Jidan, Kepala Adat Suku Muluy
Hingga pada tahun 2012 lalu, Bapak Jidan secara adat memutuskan untuk menutup segala akses ke Gunung Lumut. Keputusan tersebut diambil seorang kepala adapt, karena ia ingin alam Gunung Lumut tetap terjaga.
Seorang bocah Suku Muluy. Foto: Hendar
Suku Muluy hanya hidup dari hasil pertanian, berburu burung, perkebunan dan hasil hutan sejak jaman nenek moyang mereka. Hingga kini banyak nilai kearifan lokal yang masih merekat di Muluy untuk pelestarian lingkungan.
Masyarakat Muluy masih melakukan ladang berpindah. Namun jangan salah persepsi, karena berladang itu ada ketentuan, misal membuka ladang, tidak sembarang buka, mendengar dan melihat ladang. ”Kalau mau membuka ladang, semua harus melihat alam. Pertama melakukan pertemuan, lalu ditunjukan tempatnya, sama-sama menentukan dan jangan sembarang buka. Harus melihat alam, kesalahan manusia akan menhancurkan alam dan menimbulkan bencana untuk masyarakat Muluy. Saat membuka ladang juga menggunakan upacara adat.” ungkap Jidan
Lintasa logging yang digunakan penduduk untuk menuju ke Kampung Muluy. Foto: Hendar
Ladang yang sudah dibuka dimanfaatkan selama dua tahun, setelah itu berpindah lagi ketempat lain yang telah ditentukan. Namun ladang sebelumnya nantinya akan di pergunakan lagi setelah lima tahun, setelah humus terbentuk. Jadi tidak ada membuka lahan baru, yang ada hanya memanfaatkan ladang yang terdahulu yang telah ditinggal selama lima tahun untuk memenuhi humus tanah. Tanaman yang banyak terdapat di ladang suku Muluy yakni padi, jagung, pisang, sayur.
Bagi suku Muluy, berburu burung untuk dijual merupakan pekerjaan yang dilakukan suku Muluy, bahkan hingga berhari-hari mereka mencari burung ke hutan. Burung yang menjadi buruan yakni murai batu. Namun tidak setiap hari mereka melakukan penangkapan terhadap burung tersebut. Mereka tetap melakukannya di bulan-bulan tertentu dan hari-hari tertentu. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelestarian hewan tersebut. ”Kami tidak tiap hari mencari burung, biasanya setelah kami mendapat burung, pencarian selanjutnya dilakukan beberapa bulan, setelah burung jenis yang kami tangkap beranak pinak,” ungkap Jidan.
Hasil hutan lain yang menghidupi suku ini adalah gaharu dan madu. Saat ini suku Muluy telah melakukan pengembangbiakan pohon gaharu di hutan sekitar kampung. Sementara untuk kayu lainnya, suku Muluy melarang untuk mengambil, apapun bentuknya. ”Kami melakukan hukum adat untuk siapapun yang mengambil kayu di hutan lindung dan hutan kawasan kampung Muluy. Meskipun kayu tersebut digunakan untuk pembangunan desa. Begitupula dengan pohon Bangris. Pohon ini sangat di jaga, karena di pohon ini tempat menghasilkan madu, sehingga siapapun yang melakukan penebangan pohon tersebut terkena hukum adat. Hukumannya harus menganti sejumlah uang sesuai dengan nilai uang pohon yang di tebang,” ungkap Jidan
Penebangan yang terjadi di sekitar Gunung Lumut. Foto: Hendar
Hingga kini masih banyak pembalakan liar di kawasan pinggiran kampung Muluy diluar wilayah Muluy, dari hasil pengamatan ekspedisi lalu, kayu blambangan masih menjadi primadona para pembalak di kawasan terdekat kampung Muluy. Semua dapat terlihat di pinggir-pinggir jalan banyaknya kayu blambangan, terutama di desa Swan Slotung. Tanpa penanganan lebih lanjut dari aparat keamanan dan penegakan hukum yang tegas, kampung Muluy dan segala kearifan mereka terhadap alam akan musnah tertelan ekspansi uang yang menghantam.

Gunung Liangpran

Gunung Liangpran adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 2240 meter, atau setara dengan 7349 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Liangpran ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Liangpran di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Liangpran merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Liangpran :

Nama : Gunung Liangpran
Nama Internasional  : Mount Liangpran
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 2240 meter / 7349 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Kalimantan (Borneo)
Huruf Awal Nama : L
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : -
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Poin Penting / Kesimpulan dari Gunung Liangpran :

Kesimpulan 1 :  Gunung Liangpran berada di negara Indonesia di daerah Asia
Kesimpulan 2 :  Tinggi / Ketinggian Gunung Liangpran adalah 2240 meter atau 7349 kaki
Kesimpulan 3 :  Gunung Liangpran adalah merupakan dataran tinggi berupa Gunung
Kesimpulan 4 :  Secara internasional Gunung Liangpran bernama Mount Liangpran

Gunung Batubrok

Gunung Batubrok adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1546 meter, atau setara dengan 5072 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Batubrok ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Batubrok di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Batubrok merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Batubrok :

Nama : Gunung Batubrok
Nama Internasional  : Mount Batubrok
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1546 meter / 5072 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Kalimantan (Borneo)
Huruf Awal Nama : B
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : -
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Poin Penting / Kesimpulan dari Gunung Batubrok :

Kesimpulan 1 :  Gunung Batubrok berada di negara Indonesia di daerah Asia
Kesimpulan 2 :  Tinggi / Ketinggian Gunung Batubrok adalah 1546 meter atau 5072 kaki
Kesimpulan 3 :  Gunung Batubrok adalah merupakan dataran tinggi berupa Gunung
Kesimpulan 4 :  Secara internasional Gunung Batubrok bernama Mount Batubrok

Wednesday, November 26, 2014

Museum Sadurengas

Museum Sadurengas ini terletak di Kec. Paser Belengkong, Kab. Paser, yg merupakan bekas rumah kediaman salah seorang Sultan Pasir (Aji Tenggara) pada tahun 1844-1873, bangunan ini termasuk rumah adat Paser, “Kuta Imam Duyu Kinalenja” yg berarti Rumah Pemimpin yg Bertingkat. Kemudian dijadikan istana kesultanan oleh Sultan Ibrahim Khailuddin pada abad ke 19. 
Ini picnya ^^ 
 
Disamping bangunan museum jg ada bangunan Masjid Nurul Ibadah yg merupakan satu kesatuan dgn Museum Sadurengas, yg dibangun pada masa pemerintahan Aji Tenggara. Dgn satu kesatuan inilah, maka pada tahun 1999 dikeluarkan SK Mendikbud tgl 12 Januari, bahwa Museum Sadurengas dan Masjid Nurul Ibadah sbg Benda Cagar Budaya Nasional. 
Dalam perkembangannya, Museum & Masjid menjadi salah satu obyek wisata favorit dikalangan wisatawan domestik hingga menjadi agenda tetap tahunan kunjungan wisata pada hari besar Islam hingga saat ini. 
Jika kalian ingin mengunjungi Museum ini, kalian akan menempuh jarak 200 km dari bandara Sepinggan Balikpapan, 80 km dari Pelabuhan Semayang Balikpapan, dan 5 km dari Terminal Kota Tanah Grogot. 


Jalan Keraton Paser Belengkong, Kecamatan Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur

Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur “Mulawarman”

Alamat  :  Jl. Diponegoro No. 26 Tenggarong
Telp.     :  (0541) 661412  Faks: (0541) 662588  


Museum Negeri Mulawarman di Kalimantan Timur lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “Museum Tenggarong

Pengelolaan dan Operasional museum ini berada dibawah UPTD (Unit Pelaksana Tehnis Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara, yang bertanggung jawab terhadap Pengawasan, pemeliharaan, serta pemanfaatan koleksi museum



Lokasi Museum Negeri Mulawarman terletak dipusat kota Tenggarong, beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro No 25, Kelurahan Timbau, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur

Tenggarong terletak disebelah barat kota Samarinda dengan jarak sekitar 30 Km, kondisi jalanan untuk menuju ke kota ini lumayan baik, pada beberapa spot terdapat beberapa tanjakan serta turunan, kota ini dapat diakses dengan Kendaraan Darat, Kendaraan Air, dan Pesawat Udara

Sejarah Museum
Museum Negeri Mulawarman awalnya merupakan sebuah Bangunan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara yang didirikan pada Tahun 1935 sebagai pengganti keraton lama yang terbakar

Pembangunan Keraton, dipercayakan kepada Holland Beton Mastchappy (HBM) dengan konsep Arsitektur Kolonial Modern yang menampilkan kolom beton sebagai ciri khas arsitekturnya

Bangunan Gedung ini memiliki tiga bagian ruang utama, yaitu Bagian Depan, Tengah, dan Bagian Belakang, (menurut pengamatan Saya, bangunan ini ada kemiripan dengan desain Gedung Museum Nasional yang ada di Jakarta, hanya saja ukurannya lebih kecil)



Setelah terjadinya proses penggantian kepada pihak Ahli Waris sebagai Pemilik Syah Keraton,  yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur, kemudian Bangunan Keraton ini difungsikan menjadi museum

Keunikan yang dimiliki oleh bangunan Museum Mulawarman ini adalah, merupakan Bangunan Keraton Pertama di Kalimantan Timur yang bergaya “Indische

Koleksi Museum
Museum Negeri Mulawarman memiliki sekitar 5000 buah koleksi benda budaya dan benda sejarah, yang meliputi koleksi Ethnografi, Historika, Arkeologi, Kramologi, Numistika, Heraldika, Biologika, dan Geologika

Sebagian dari koleksi yang berupa prasasti pada ruang pamer, merupakan koleksi replikanya, sedangkan koleksi aslinya disimpan pada Museum Nasional di Jakarta

Benda Koleksi dari Masa Prasejarah yang terdapat pada museum ini berupa aneka ragam perkakas yang terbuat dari Batu, umumnya peralatan ini terbuat dari bahan Batu Rijang, dan Batu Andesit

Dulunya peralatan ini yang digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan Berburu, Bertukang, Berladang, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, (Beliung, Kapak Genggam, Kapak Perimbas, Kapak Lonjong, dan Kapak Persegi)

Benda Koleksi dari Masa masuknya kebudayaan Hindu dan Budha, berupa Yupa atau Prasasti, serta puluhan Arca, koleksi ini sebagian besar adalah benda sejarah yang ditemukan dari Goa Gunung Kombeng pada Tahun 1847

Menurut Pemandu Wisata, Sejumlah tulisan berbahasa Sansekerta pada Prasasti, menceriterakan tentang Kerajaan Kutai Kuno Martadipura, dengan rajanya yang bernama Mulawarman Maladewa (Tahun 423 Masehi)


Keberadaan prasasti ini merupakan bukti sejarah, bahwa di kawasan Kutai pernah berdiri sebuah Kerajaan Hindu tertua di Indonesia

Benda Koleksi dari Masa Kesultanan Kutai generasi berikutnya, (Masa transisi dari Hindu ke Islam) berupa sejumlah benda yang berasal dari hibah serta ganti rugi, seperti Singgasana, Mahkota, Busana Adat, Peraduan, dan sejumlah benda lainnya yang biasa dipakai dalam upacara adat




Pada upacara adat tertentu, seperti Pesta Adat Erau dan Upacara Resmi Keraton lainnya, benda koleksi yang ada di museum ini masih sering dipakai dan ditampilkan kepada publik

Benda Koleksi dari Masa Kolonial, berupa Pistol, Senapan, serta beberapa Meriam Besi berbagai ragam ukuran

Benda Koleksi yang terkait dengan Etnogafi, berupa aneka ragam Kain Tenun, Perhiasan, dan Senjata Tradisional Suku Dayak

Selain Bangunan Utama yang digunakan sebagai Museum, di area ini terdapat juga kompleks Pemakaman Keluarga Kerajaan yang boleh dikunjungi oleh masyarakat




Tempat penjualan souvenir dan penjual makanan/minuman terdapat pada bagian belakang sebelah kiri dari gedung museum




Motto Museum ini adalah “Cinta Budaya, Peduli Museum” Sebaris kalimat pendek yang mengandung makna yang dalam, semacam himbauan dan ajakan halus kepada siapapun untuk berkunjung ke Museum Negeri Mulawarman, Tenggarong


Seorang Bijak pernah berkata, "Budaya merupakan peradaban masa lalu yang sangat berharga untuk kehidupan pada masa kini, dan masa yang akan datang"

Ajaklah Keluarga Anda berkunjung ke Museum Tenggarong untuk lebih mengenal kekayaan budaya daerah dan sejarah masa lalu, dengan melihat benda koleksi yang dimiliki oleh museum ini

Tuesday, November 25, 2014

Museum Kayu Tuan Himba

Museum Kayu “Tuah Himba” terletak di kawasan Waduk Panji Sukarame atau sekitar 3 km dari pusat kota Tenggarong. Museum ini dibangun pada 1990 dan diresmikan secara simbolis pada 1991. Museum ini dibawah kewenangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.


KOLEKSI

Koleksi Museum Kayu Tuah Himba adalah beraneka koleksi hasil hutan, di antaranya koleksi daun-daun kering (herbarium), koleksi biji-bijian, koleksi potongan log atau batang pohon yang tumbuh di pulau Kalimantan, alat-alat pengolah kayu, alat-alat dapur tradisonal hingga perabot rumah tangga yang terbuat dari hasil hutan Kalimantan.
Selain itu, koleksi yang menjadi daya tarik di museum ini adalah koleksi dua ekor ‘monster’ buaya yang telah diawetkan. Kedua ekor buaya muara (Crocodelus porosus) ini pernah menggegerkan masyarakat Kaltim pada 1996 karena telah memangsa dua manusia di dua tempat terpisah, yaitu Sangatta (Kabupaten Kutai Timur) dan Muara Badak (Kukar) dalam selisih waktu hanya satu bulan. Kedua buaya besar ini berhasil dibunuh untuk mengeluarkan potongan tubuh korban yang tertinggal di dalam perutnya. Kemudian diawetkan untuk dipajang di Museum Kayu Tuah Himba.
Buaya pertama adalah buaya jantan yang memiliki panjang sekitar 6,6 meter, berat 350 kg dan lingkar perut 1,8 meter dengan usia sekitar 70 tahun. Buaya ini ditangkap pada 8 Maret 1996 di Sungai Kenyamukan, Kecamatan Sangatta (waktu itu masih masuk wilayah Kabupaten Kutai sebelum pemekaran) setelah memangsa seorang wanita bernama Ny Hairani (35). Buaya kedua dengan jenis kelamin betina yang memangsa pria bernama Baddu (40) di Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak (Kabupaten Kukar), berhasil ditangkap pada 10 April 1996. Buaya ini memiliki panjang 5,5 meter, berat 200 kg dengan lingkar perut sekitar 1 meter. Informasi mengenai kedua buaya yang telah diawetkan ini dapat diperoleh melalui pajangan tentang berita mengerikan mengenai buaya yang memangsa manusia ini, termasuk berita tertangkapnya buaya ini oleh pawang buaya yang sangat berpengalaman di Kutai.

ALAMAT

Kawasan Waduk Panji Sukarame
Kabupaten Kutai Timur
Provinsi Kalimantan Timur

ads

ads