Advertise Here

Promote your business.

Advertise with us

take your brand to new heights.

Advertising info

Let's do cool things together!.

Space available to advertise

Target your audience.

keep calm and advertise

Get your business noticed!.

Showing posts with label sulawesi utara. Show all posts
Showing posts with label sulawesi utara. Show all posts

Friday, December 19, 2014

Gunung Tondano

Gunung Tondano adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1202 meter, atau setara dengan 3944 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Tondano ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Tondano di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Tondano merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Tondano :

Nama : Gunung Tondano
Nama Internasional  : Mount Tondano
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1202 meter / 3944 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Sulawesi (Celebes)
Huruf Awal Nama : T
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Kaldera
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Gunung Tangkoko

Ditulis kembali dari buku : Pertambangan dan Geologi Kota Bitung, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kota Bitung, 2010.
Nama lain : Tangkoko
Nama gunung api parasit : Batu Angus, Batu Angus Baru
Tipe gunung api : Strato
Letak : Kel. Makawidey, Kec. Aertembaga Kota Bitung                      
Posisi Geografi G.Tangkoko : 10 31’  LU - 1250  11,5‘  BT
Posisi Geografi G. Batu Angus : 10  30,5‘  LU - 1250  13‘  BT
Tinggi di atas muka laut  : G. Tangkoko : 1149 m; G. Batu Angus : 700 m.
A. Bentuk dan Struktur  G. Tangkoko 
G. Tangkoko (1149 m) yang bertipe Strato mempunyai kawah yang besar dan dalam serta gunung api parasit yang bernama Batu Angus (700 m) atau Batu Angus Baru. Gunung api tersebut terletak di bagian timur laut minahasa di Desa Makawidey, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung.
Pemeriksaan kawah yang dilakukan dalam tahun 1971 melihat bahwa G.Tangkoko dan G. Dua Saudara, mempunyai morfologi yang amat sederhana. Kedua gunung api tersebut di pisahkan oleh sebuah pematang dengan jurus barat laut tenggara.
Di kaki pematang itu terletak hulu S. Batu Putih dan S. Air Prang. G. Tangkoko berbentuk elips dengan ukuran kawah ± 2 km x 1 km dan kedalaman ± 200m.
Di dasar kawah terdapat sumbat yang berbentuk kubah setinggi ± 100 m  di duga sumbat tersebut terbentuk dalam kegiatan tahun 1801 (Junghuhn,1844). Di lereng timur sejauh ± 2 km dari G. Tangkoko terletak kubah lava Batu Angus dan leleran lava sepanjang ± 2 km . Kawah G.Batu Angus bagian atasnya  berukuran 300 x 325 m dan garis tengah  dasar kawah ± 200 m, sedangkan kedalamannya ± 90 m.
Dalam masa sejarah kegiatan G.Tangkoko tampaknya letusan lebih banyak terjadi di G.Batu Angus dan tidak pernah di laporkan adanya korban manusia. Tetapi meskipun demikian, dalam  masa mendatang bahaya letusannya harus di perhitungkan karena daerah di sekitar gunung api itu, khususnya Kota Bitung, terus berkembang bahkan makin pesat.
B. Cara Mencapai Kawah Puncak
Ada tiga jalan untuk ke puncak gunung ini, yakni :
1.  Dari pelabuhan Bitung –Kp. Pinangunian - Puncak
2.  Dari Kp. Makawidey – Kp. Loari – Puncak
3.  Dari Kp. Batu Putih – Kp. Paring - Puncak
Umumnya ahli asing dan bangsa Indonesia seperti Kommerling (1923), Koperberg (1928) dan Djatikusumo (1947), mendaki puncak gunung ini dari Kp. Makawidey – Kp. Loari – Puncak. Demikian pula Reksowirogo (1971), melakukan pendakian puncak pada 9 Februari 1971, berangkat dari kampung Makawidey menuju utara sedikit ke timur, menyusur pantai lewat kebun kelapa. Setelah ± 1 km jauhnya, sampailah di kampung lembahao. Selanjutnya perjalanan menuju ke arah utara agak ke timur lewat tegelan dengan pondoknya, menuju Kp. Loari (sampai ketinggian ± 300 m, kemiringan rata-rata 15 º). Akhir nya sampai di pinggir kawah bagian tenggara pada titik ketinggian 670 m . Waktu yang di perlukan dari Makawidey – pinggir kawah ini ± 3 jam.
C. Sejarah Kegiatan  (Letusan yang pernah terjadi) :
Berdasarkan data yang pernah di kumpulkan dari berbagai laporan dan publikasi, maka erupsi Gunung api dapat diringkaskan sebagi berikut :
1680 :                 Koperberg (1928) dan Kommerling (1923) menduga bahwa mungkin letusan terjadi di G. Dua Saudara, tetapi Neumann Van Padang (1951) menganggap letusan normal di kawah pusat yang mengakibatkan rusaknya daerah di sekelilingnya .
1683 :                Letusan di kawah pusat G.Tangkoko
1694 :               Terjadi letusan tetapi tidak ada keterangan lebih lanjut .
1801 :              Menurut Junghuhn (1844 ),  Kommerling (1923) dan Koperberg (1928) letusan terjadi di G.Tangkoko. Letusan menyemburkan abu, pasir dan batu berwarna kemerahan seperti terbakar. Abu tersebar sampai di Airmadidi, Kema, Maumbi, bahkan sampai Manado. Setelah itu timbul sumbat lava di dasar kawah G.Tangkoko dan G. Batu Angus. Dalam tahun tersebut terjadi letusan yang bersamaan antara letusan normal di kawah pusat, letusan samping dan letusan di danau kawah.Pada kegiatan tersebut diduga terjadi aliran lava di G.Batu Angus (Neumann van Padang (1951)) .
1821 :                Terjadi aliran lava dari  G. Batu Angus .
1843 – 1845 :    Terjadi  letusan normal di G. Batu Angus
1880 :                Terjadi letusan dari G. Batu Angus, di sertai aliran lava.
1952 :                Kenaikan kegiatan di G. Tangkoko .
           
Batuan hasil letusannya adalah sebagai berikut :   andesit augit hipersten ditemukan di kaki G. Tangkoko. Sedangkan hasil letusan di G. Batu Angus terdiri dari andesit piroksen (Neumann van Padang, 1951 ).
D. Pengamatan G. Tangkoko
Dikuatirkan kemungkinan timbulnya bencana akibat letusan G. Tangkoko, sementara pemukiman makin berkembang, maka dalam usaha untuk mengurangi segala kemungkinan dan korban dibangun sebuah Pos Pengamatan Gunung Api . Dengan adanya pra-sarana tersebut berbagai usaha untuk memantau tingkah laku G. tangkoko dapat dikerjakan secara sinambung.
Diharapkan kelak dapat diperoleh data untuk menduga tingkat kegiatan gunung api tersebut atau dapat diketahui lebih awal bila ada gejala akan terjadi letusan sehingga peringatan kepada penduduk dapat diberikan lebih dini atau tepat pada waktunya.
Pos Pengamatan Gunung Api tersebut, sering disebut Pos Vulkanologi, mulanya terletak ± 5 km disebelah barat G. Tangkoko  atau  ± 3 km di sebelah barat laut G. Dua Saudara Dari Pos tersebut tidak hanya di amati G. Tangkoko, tapi dipantau G. Dua Saudara. Sejak Juli 2002 pos ini pindah ke Desa Winenet Kecamatan Aertembaga Bitung.
Dalam sejarah G. Tangkoko tampaknya kegiatan kedua gunung api tersebut tidak terpisahkan. Dikaki G. Dua Saudara inilah terletak Kota Bitung yang merupakan kota pelabuhan penting di Sulawesi Utara dan yang saat ini perkembangannya maju dengan pesat. Kenyataan tersebut yang yang menjadikan derajat bahaya  G. Tangkoko dan gunung api tetangganya makin tinggi.
Pengamatan menerus yang dilakukan pada waktu ini terutama visual dan seismik. Pengamatan visual memantau semua perubahan atau gejala yang tampak dipermukaan sedangkan seismik untuk mengetahui gerak-gerik magma di dalam tubuh G. Tangkoko khususnya dan gunung api lainnya berdekatan. Mungkin gejala-gejala tersebut akan muncul menjelang letusannya. Sejak dimulainya pengamatan yang sinambung di gunung api tersebut, tahun 1986, hingga awal 1990 ini belum pernah tercatat adanya perubahan atau kelainan gejala vulkaniknya.
E. Bahaya Letusan G. Tangkoko dan Kawasan Rawan Bencana 
Dalam sejarah kegiatan G. Tangkoko tercatat pernah terjadi letusan besar, yaitu dalam tahun 1801.Abunya tersebar sampai di Manado. Menurut Neumann van Padang timur, yaitu kearah  G. Batu Angus .
Dengan munculnya G. Dua Sudara di sebelah baratdaya G. Tangkoko, maka daerah yang berbahaya, baik karena aliran lava, awan panas maupun lahar hujan terbatas sampai di pematang yang memanjang barat laut –tenggara yang membatasi kedua gunung disemburkan keudara, arah bahaya dan sebarannya sangat tergantung pada arah dan kecepatan angin pada waktu letusan terjadi.
Berdasarkan jenis dan intensitas bahaya yang diakibatkan oleh kehebatan letusannya, kawasan rawan bencana di G. Tangkoko dibedakan dalam dua macam :
1. Kawasan Rawan Bencana II
Diperkirakan kawasan rawan bencana II, yaitu yang terancam oleh aliran lava, awan panas maupun lahar hujan yang dihasilkan oleh letusan G. Tangkoko, diduga akan meliputi daerah dengan jari-jari 5 km dari titik kegiatan. Tetapi daerah di dalam setengah lingkaran bagian barat daya relatif lebih aman. Sebaran awan panas aliran lava dan lahar hujan diduga akan bervariasi berdasarkan alur sungai, ke arah selatan mengikuti S. Prang, ke utara K . Batu Putih. Sedangkan ke arah barat di sepanjang pantai barat laut gunung api tersebut. Luas Kawasan Rawan Bencana II ± 89,4 km ²
2. Kawasan Rawan Bencana I   
Di kawasan Rawan Bencana I ancaman bahaya  disebabkan oleh sebaran bahan letusan yang disemburkan keudara bila letusan menunjukkan intensitas yang makin besar.
Daerah tersebut mencakup wilayah dengan jari-jari 8 km dari titik letusan dengan variasi bahwa bahaya dapat mengancam pula di sepanjang sungai karena aliran lava dan lahar hujan. Daerah tersebut ke arah selatan meliputi wilayah di sepanjang S. Tembaga, dan ke utara di sepanjang S. Kawua. Sedangkan ke arah barat adalah pada wilayah di sepanjang pantai. Luas Kawasan rawan bencana I ± 100,5 km² .   

Gunung Soputan

Gunung Soputan merupakan satu diantara gunung berapi paling aktif yang ada di Indonesia. Terletak di koordinat 1 derajat 6,5 Lintang Utara dan 124 derajat 43 Bujur Timur kabupaten Minahasa Selatan provinsi Sulawesi Utara. Kota terdekatnya adalah Amurang Minahasa Selatan.
Gunung Soputan memiliki dua kawah yaitu kawah K1 dan K2, serta merupakan tipe gunung api Strato. Ketinggian gunung Soputan mencapai 1.783,7 meter dari atas permukaan laut.
Letusan terakhir gunung Soputan terjadi tanggal 6 Juni 2008 dan merupakan letusan yang cukup dasyat.
Pertumbuhan kubah laca gunung Soputan dimulai sejak tahun 1991 hingga meluber keluar dari bibir kawah menyebabkan sering terjadi guguran lava dengan jarak luncur sekitar 2 hingga 4 Km dari puncak kawah. Penduduk terdekat berjarak sekitar 7 Km dari puncak Soputan.
Pada saat musim penghujan dapat terjadi pembentukan uap dari air hujan oleh kuba lava yang masih panas sehingga terjadi letusan sekunder berupa letusan Freatik (letusan upa) yang dapat memicu guguran kubah lava dan awan panas guguran (tipe Karangeranag).
Ancaman bahaya letusan gunung api Soputan bagi penduduk relatif kecil karena pemukiman dan aktivitas penduduk terdekat berjarak 7 Km dari puncak Soputan. Tercatat pada Agusutus 2007 terjadi luncuran awan panas mencapai 4 Km dari puncak.
Ancaman terbesar di daerah perkemahan (Camping Ground) di lereng Timur Laut berjarak sekitar 3 sampai 4 Km dari puncak gunung Soputan.

Sebenarnya ada banyak jalur pendakian ke gunung soputan, yang paling umum adalah jalur pinabetengan, ada juga jalur pendakian dari daerah Langowan, kemudian jalur turun ke arah Liwutung di sisi lain gunung Soputan, ada jalur dari desa tooure..  tapi kali saya ambil trek yang paling umum…

Gunung Sahendaruman

Sangihe Gunung Sahendaruman Nature Reserve
Longitude (DD) 125.56270401
Latitude (DD) 3.49029877
Designation Other Area
Status Proposed
Current Status Not Known
IUCN Category Not Known
Documented Total Area (ha) 5.000
GIS Total Area (ha) 9.800

Friday, December 12, 2014

Gunung Mahawu

Gunung Mahawu adala salah-satu gunung yang mengapit Kota Tomohon, dan disisi lainnya adalah Gunung Lokon. Sebagai Obyek Wisata Alam di Sulawesi Utara, Gunung Mahawu merupakan gunung berapi stratovolcano yang terletak di timur gunung berapi Gunung Lokon-Gunung Empung di Sulawesi Utara.
Gunung Mahawu memiliki lebar 180 m dan kedalaman kawah 140 m dengan dua kerucut Piroklastik di lereng utara.
Tahun 1994 terjadi letupan lumpur fumarol dan aktivitas geyser yang terjadi sepanjang danau kawah yang berwarna kehijau-hijauan
Mencapai lokasi ini dari Tomohon ke Rurukan. Kemudian berjalan kaki melalui jalan setapak yang melawati kebun kebun sayur dan akhirnya mencapai puncak (Ketinggian 1324mdpl), setelah melalui hutan yang rinbun dan indah dan kawasan kerucut kawah yang ditumbuhi rerumputan (ketinggian 1200 mdpl)
the-craterMenikmati mata-hari terbit di pagi buta yang terasa senyap dan diselimuti kabut tebal yang sangat dingin di puncak gunung Mahawu yang kadang kadang diselingi dengan  tamparan angin membekukan sendi tulang perlahan lahan sirna menampakan langit  menjadi kebiruan dan nuansa hijau pepohonan yang menghiasi hutan sekitar gunung Mahawu

Gunung Mahawu terletak di Kecamatan Tomohon, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara dengan ketinggian 1.300 mdpl dan merupakan gunung yang sering meletus. Seperti gunung - gunung lain, di sepanjang lereng Mahawu terdapat daerah pemukiman, hutan belantara dan beberapa area persawahan. Mahawu memiliki nama sebutan lain, yakni Mahawoe atau Roemengas. Gunung Mahawu meletus pertama kalinya dalam catatan sejarah pada tahun 1789, setelah itu meletus beberapa kali dan terakhir pada tahun 1999.


Tidak disarankan untuk melakukan perjalanan ke puncak Mahawu terutama dalam jumlah banyak, lebih dari lima orang. Hal tersebut disebabkan karena di puncak Mahawu lahan untuk berkemah sangat sempit, bahkan tempat duduk untuk beristirahatpun tidak leluasa dan langsung berhubungan dengan bibir kawah. Alasan lain, tidak disarankannya melakukan pendakian ke kawah Mahawu karena konsentrasi gas sulfur yang tinggi. Apabila pengunjung dalam kondisi yang lelah kemudian menghirup gas belerang dapat menyebabkan pusing dan mual.

Pendaki yang berada di gunung ini tak hanya menikmati pemandangan indah sekitar Mahawu. Namun lebih dari itu, keasrian dan pesona hutan lindung di kawasan gunung ini juga menambah daya tarik tersendiri. Kawasan hutan lindung tersebut hanya terdapat di daerah lereng hingga daerah menuju puncak Mahawu. Ketinggian hutan ini mulai dari 600 m hingga 1200 m di atas permukaan laut.
 

Gunung Lokon

gunung-lokonKawah Baru 2 Kawah Baru Terbentuk di Gunung LokonGunung Lokon adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1580 meter, atau setara dengan 5184 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Lokon ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Lokon di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Lokon merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Lokon :

Nama : Gunung Lokon
Nama Internasional  : Mount Lokon
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1580 meter / 5184 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Sulawesi (Celebes)
Huruf Awal Nama : L
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Gunung Berapi
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Gunung Klabat

Gunung Klabat Gunung Klabat merupakan gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Utara. Puncak ketinggiannya mencapai sekitar 2100 meter. Gunung ini oleh masyarakat Tonsea (Minahasa Utara) disebut juga Gunung Tamporok. Gunung ini merupakan obyek wisata alam dan dapat ditelusuri mulai dari Airmadidi (Ibu Kota Kabupaten Minahasa Utara). Gunung ini merupakan gunung api yang tidak aktif lagi. Puncak Gunung Klabat ini mempunyai kepundan berbentuk danau kecil dengan air yang sangat jernih.
Sejarah Nama Klabat

Kata Klabat diambil dari bahasa Minahasa "Kalawat" dialek Tonsea "Kalabat". Kalawat adalah nama dari sejenis satwa lokal yang juga disebut babirusa. Kata ini disebutkan oleh para pelaut Portugis "Calabets" sebagai nama gunung di pulau sulawesi, dari kata ini dinamakan sebagai nama pulau yang kemudian Calabes jadi Calabes = Celebes yang menjadi Sulawesi akhirnya kata ini menjadi nama pulau Sulawesi. Baca sejarah Sulawesi oleh David DS Lumoindong.

Gunung Kaweng

30869660.jpgGunung Kaweng adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1000 meter, atau setara dengan 3281 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Kaweng ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Kaweng di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Kaweng merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Kaweng :

Nama : Gunung Kaweng
Nama Internasional  : Mount Kaweng
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1000 meter / 3281 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Sulawesi (Celebes)
Huruf Awal Nama : K
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Kabupaten Minahasa; Diperkirakan tinggi gunung kaweng sekitar 1000 meter diukur dari permukaan laut
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Gunung Empung

100070.jpgGunung Empung adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia yang memiliki ketinggian 1340 meter, atau setara dengan 4396 kaki.  Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Empung ini berada di wilayah Asia.  Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Empung di Indonesia, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat).  Gunung Empung merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara.

Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Empung :

Nama : Gunung Empung
Nama Internasional  : Mount Empung
Bentuk / Nama Lain : -
Ketinggian : 1340 meter / 4396 kaki
Negara : Indonesia
Wilayah / Benua : Asia
Keterangan Wilayah : Pulau Sulawesi (Celebes)
Huruf Awal Nama : E
Tipe / Jenis : Gunung
Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia
Koordinat Peta : Belum Tersedia
Penonjolan (meter) : Belum Tersedia
Informasi Tambahan : Gunung Berapi
Keterangan : -
Sumber Data :  Wikipedia, dan sumber internet lainnya

Gunung Awu

Gunung Awu adalah gunung berapi aktif bertipe stratovolcano dengan kawah yang sangat dalam seluas 4,5 KM persegi dan merupakan salah satu gunung berapi paling mematikan yang terletak di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia.

Gunung ini tercatat pernah menciptakan letusan dahsyat yang terjadi pada tahun 1711, 1812, 1856, 1892 dan terakhir kali pada tahun 1966 yang menelan lebih dari 8000 korban jiwa oleh lahar panas yang besar.

Kawah dengan lebar 4,5 km terdapat di puncak dengan jurang yang dalam dikelilingi celah raksasa di sepanjang lembah sebagai jalan lahar yang membelah sisi-sisi kawah.

Terdapat sebuah danau dangkal di dalam kawah yang terletak di puncak gunung. Dasar kawah yang dalam di kelilingi lembah setinggi 1.320 meter membuat gunung Awu sebagai gunung berapi dahsyat yang berada dalam cincin api.

Gunung ini terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi dan dikelilingi oleh kepulauan Sangihe. Jalur pendakian untuk mencapai puncak gunung ini biasanya dimulai dari desa Anggis di pantai selatan yang berjarak sekitar 7 km dari kawah.

Perjalanan mendaki dimulai dengan menyusuri hutan kelapa untuk mencapai titik triangulasi sepanjang 350 meter dan kemudian akan sampai di Desa Kanaka, Panise dan terakhir Desa Panto Unema untuk mempersiapkan pendakian yang sesungguhnya.

Selanjutnya pendakian berat akan dimulai menuju ke puncak setinggi 500 meter dan masih bisa menemukan lahan tanaman pertanian, selanjutnya menembus lava keras setinggi 350 meter dan pendakian menjadi semakin mudah.




Tipe Gunungapi                                : Strato dengan danau kawah
Letak                                                      : Arsipel Sangihe, Kabupaten Taruna atau Tahuna dan Kabupaten Peta
Letak Geografis                                 : 3o 40’ Lintang Utara dan 125o 30’ Bujur Timur
Ketinggian (di atas muka laut)    : Puncak 1320 m; Danau Kawah 921,12 m
Kedalaman danau kawah              : Tahun 1922 => 150 – 172 m dan 1968 (2 tahun setelah letusan) => 5 – 10 m
Ketinggian (di atas dasar laut)    : 3300 m

BENTUK DAN STRUKTUR
Gunung Awu menempati daerah seluas 135 km2 terletak di bagian utara dari pulau Sangihe Besar dan bagian sebelah tenggara, jaringan lerengnya melandai teratur ke lautan yang mengelilinginya.
Lembah lahar yang dalam tampak di bagian atas dari kerucut rombakan yang datar dari kaki gunung. Puncak gunung Awu sekarang terjadi di dalam sebuah kaldera lama dengan garis tengah 4,5 km dan kapasitas kawah adalah 40 juta m3 air.

KEGIATAN
1640 – 1641Bulan Desember 1640, kemudian 3 -4 Januari 1641
Antara 1641-1677Letusan eksplosif dalam kawah pusat
171110 – 16 Desember. Letusan dengan awanpanas dan laharletusan dari kawah pusat, disusul lahar hujan. Daerah antara Tabuhan dan Taruna hancur. Korban manusia 3000 orang dengan rincian 2030 orang di Kendhar, di antaranya Raja Syamsialam; 70 orang di Koloza; 408 orang di Taruna.
18126 -8 Agustus. Letusan dan akibata serupa dengan yang terjadi dalam 1711. Pohon niur hancur di seluruh pantai, beratus-ratus penduduk Tabuhan, Khendar dan Kolengan menjadi korban.
18562 – 7 Maret. Letusan dan akibat serupa dengan yang sebelumnya. Awanpanas, laharletusan, dan laharhujan. Kampung Trijang dan pondok Pembalarian, Labakassin, Patung dan Hilang hancur sama sekali. Korban 2806 orang.
1875Bulan Agustus terjadi letusan kecil dari kawah pusat.
188518 Agustus. Sama dengan yang terjadi tahun 1875.
18927 Juni. Tipe letusan mengeluarkan awanpanas, laharletusan dan laharhujan. Hampir semua kampung sebelah pantai utara hancur, kampung yang paling parah ialah yang terletak antara Sawang dan Tabuka. Jumlah korban yaitu 1532 orang di daerah Mala, Akembuala, Anggis, Miteing, Kolongan, Metih dan Khendar Trijang akibat lahar.
1893Letusan preatik dari kawah pusat.
191314 Maret. Letusan kecil dari kawah pusat.
1921Bulan Februari. Terjadi letusan preatik.
192220 Juni – September. Terjadi letusan preatik.
193115 Maret terjadi letusan. Tanggal 7 April  tampak doma lava di bawah dekat permukaan danau. Pembentukannya terus berlangsung, hingga Desember mencapai tinggi 80 m.
196612 Agustus. Letusan berupa awanpanas, lahar letusan dan material jatuhan piroklastik yang mengakibatkan 39 orang korban. Pada tanggal 10 Agustus terjadi gempa tektonik di daerah Donggala dan Minahasa, pulau Sangir Talaud, dan di sekitar Gunung Awu akan tetapi tidak mempengaruhi kegiatan Gunung Awu yang ada dalam stadia istirahat.
TIPE LETUSAN GUNUNG AWU

Tipe letusan Gunung Awu sepanjang masa hingga 1966 ini serupa, tetap, konstan dan konsekuen dengan Tipe Letusan Gunung Kelut di Jawa.
Urutan jalan letusan adalah :
Fasa 1. Kawah Gunung Awu diisi air yang tiap terjadi letusan dilemparkan ke luar
Fasa 2. Air danau yang dilontarkan membentuk lahar letusan yang mengalir lewat jurang hingga laut, biasanya disertai dengan awan panas letusan
Fasa 3. Hujan abu dan hujan batuapung dimulai, disertai awan panas yang meluncur lewat jurang
Fasa 4a. Dalam Kawah
Terakhir hujan abu dan hujan batu, sebuah danau muncul pada pipa kawahnya, dasar kawah tertutup, lambat laun terjadi lagi sebuah danau
Fasa 4b. Di luar Kawah
Bahan letusan (ladu, abu dsb) yang terhimpun oleh letusan terakhir di hulu sungai disebabkan hujan dialirkan sebagai lahar ke laut

BATAS DAERAH BAHAYA
  • Daerah Bahaya
Batas daerah bahaya ini berdasarkan bahaya awan panas, aliran lava, lahar letusan dan lahar hujan, maupun bahaya bom diperkirakan meliputi :
-          Daerah yang dibatasi seluruh pantai di sekeliling gunung antar Taruna dan Kampung Sahabe
-          Di sebelah timur menenggara dibatasi oleh suatu garis perbatasan mulai dari Taruna melalui puncak Gunung Taruna, Gunung Pasong hingga di Kampung Sahabe di pantai timur.
Luas daerah ini sekitar 144,8 km2 dengan jumlah penduduk 24.100 orang (1973).
  • Daerah Waspada
Batas daerah waspada ini berdasarkan bahaya eflata dan merupakan daerah berbentuk lingkaran di luar daerah bahaya dengan jari-jari 8 km dengan titik letusan di kawah sebagai pusatnya. Sebagian besar daerah ini adalah laut, kecuali daerah sebelah timur menenggara antara Taruna dan Danau Utaurano. Luas daerah ini sekitar 55,3 km2 dengan jumlah penduduk 1.700 orang (1973).
  • Daerah Aman
Daerah aman yang dapat menjadi tempat berlindung yaitu
-          Kampung Talaud yang terlindung oleh beberapa bukit yang menghalangi serangan awan panas dan lahar, yaitu bukit Burude Dipahe, Br. Bio dan Br. Bowongguwe
-          Akembahi yang terlindung oleh Burude Laeke, Hope dan Banewa.
-          Daerah aman lainnya yaitu daerah antara Kampung Tabuhan Lama – Talolang – Pasih – Lengganeng – Taruna karena terlindung oleh bukit Lepu Sehengbaliba – Posong dan Baku.

Wednesday, November 26, 2014

Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara

Tahun 1967, Bola Lensun warga Rasi kecamatan Ratahan menemukan benda – benda keramik dihalaman rumahnya pada saat berkebun. Benda - benda tersebut diserahkan kepada pemerintah melalui kantor daerah Ditjen Kebudayaan Manado. Kemudian kantor daerah ditjen kebudayaan membentuk tim untuk mengadakan penggalian dilokasi penemuan, dan benda – benda sejarah lebih banyak ditemukan. Tahun 1974 didirikan museum persiapan diatas sebidang tanah dengan luas 200 M2,diJl.W.R.Supratman No.72 Manado.Tahun 1977, pembangunan museum dilanj utkan dengan ketambahan luas tanah menjadi 11.078 M2.
Tahun 1991, museum persiapan diresmikan menjadi museum negeri propinsi Sulawesi utara berdasasrkan surat keputusan meteri pendidikan dan kebudayaan RI no.001/0/1991 Tgl.09-01-1991,dan merupakan UPT pusat yang ada didaerah.
Tahun 2003, sesuai peraturan daerah propinsi Sulawesi utara no.14 tahun 2003,museum negeri propinsi Sulawesi utara menjadi UPT dinas kebudayaan dan pariwisata propinsi Sulawesi utara.
Museum Negeri Propinsi Sulawesi Utara bertujuan untuk mendokumentasikan segala hal yang berkaitan dengan Propinsi Sulawesi Utara, serta merepresentasikan kebudayaan, sejarah, dan seni masyarakat Sulawesi Utara. Museum yang bangunannya berupa rumah adat
Minahasa ini menampilkan representasi kebudayaan dan sejarah masyarakat lokal sulawesi utara, sejarah pra dan pascakolonial, percampuran budaya dengan masyarakat Cina dan Belanda yang menetap di Sulawesi Utara.
Koleksi
Koleksi Museum Negeri Propinsi Sulawesi Utara dibagi dalam 10 klasifikasi, yaitu: koleksi geologika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika/Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknologika.
Al amat Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara
Jalan W.R. Supratman No. 72
Manado 95123
Telp: 0431-862685 Faks: 0431-870308

Tuesday, November 25, 2014

Museum Karo Lingga

Museum Karo Lingga dan Desa Budaya Lingga

Museum Karo Lingga: menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo
Museum Karo Lingga: menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo

Museum Karo Lingga dan Kuta Budaya Lingga, adalah dua tujuan wisata yang ada di
Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia.
Perjalanan saya kali ini(Sabtu, 2 Maret 2013) tidak seperti biasa yang walau dadakan namun secara keseluruhan berjalan mulus. Kali ini tidak begitu mulus dan sidikit mengecewakan. Pasalnya, walau sudah ada rencana, manun sedikit perubahan lokasi tujuan dari semula ingin mengunjungi lokasi konservasi orang utan di Bahorok, Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara namun karena ada beberapa hal diluar dugaan, maka tujuan-pun dirubah ke tiga Museum yang menyimpan koleksi benda budaya Karo, yakni: Museum GBKP di kompleks RC. GBKP, Sukamakmur, Museum Pusaka Karo yang terletak di kota wisata Berastagi, dan  Museum Karo Lingga di Desa Lingga.

Perjalanan dari rumah(Patumbak, Deli Serdang) sekitar pukul 09.00 wib, cuma kali ini kami menelusuri jalur Patumbak – Delitua - Titi Kuning – Padang Bulan(Medan) – Pacur Batu – ke Kabupaten Karo, tidak seperti biasa yang mengambil jalur Patumbak – Delitua – Namorambe - Namom Mbacang/Bintang - Pancur Batu, sehingga tentulah kemacetan dan persimpangan lampu merah harus dihadapi.  Jalur ini diambil karena kami(saya dan adik saya) sekalian mengantarkan Nande(ibu) Ginting kami ke Jambur Pemere Padang Bulan, Medan untuk melayat acara adat kematian Bapak Depari. Sebelumnya saya mengucapkan turut berduka dan semoga keluarga Depari diberi ketabahan.

Memasuki Jalan Jendral A. H. Nasution hingga Simpang Pos kemacetan parah terjadi, hampir  2 jam lebih kami terjebak macet, baru memasuki Jl. Letjend. Djamin Ginting lalu-lintas kembali lancar hingga Jambur Pemere dimana kami menurunkan Nande beru Ginting. Sepanjang Jl. Djamin Ginting Padang Bulan, Medan kendaraan sangat padat, mengingat hari Sabtu walau demi kian tidak ada kemacetan berarti selain oleh karena sebuah angkot(angkutan kota) kuning yang mogok tepat ditengah badan jalan, namun segera ditanggulangi sang pengemudi dan beberapa orang yang kebetulan melintas, sehingga jalan kembali lancar. Baru di sekitar Tiga(pasar tradisional) Pancur Batau kemacetan kembali terjadi hingga melewati Puskesmas Pancur Batu. Berhubung hari Sabtu, maka kendaraan yang menuju gugung(dataran tinggi/pegunungan) cukup padat, setidaknya dari Bandar Baru samapi Peceren jalanan baru tampak lengang dan sepi, dan memasuki Kota Wisata Berastagi(sekitar 66 km dari Medan) kembali padat dengan kendaraan. Seperti biasa jika melakukan perjalanan ke dataran tinggi Karo, sebelum memasuki Kota Berastagi, pemberhentian pertama kami adalah SPBU Sukamakmur yang letaknya tepat di samping kompleks RC. GBKP Sukamakmur, dilanjut pemberhentian kedua yakni Peceren dimana disepanjang kedua belah sisi jalan terdapat toko-toko yang menjual panganan khas Peceren dan yang paling populer adalah Wajit Peceren dan beberapa aneka panganan lainnya.

Sampai di Kota Berastagi, kami langsung menuju Museum Pusaka Karo di Jalan Perwira No. 3, Berastagi yang tidak jauh dari bundaran Tuju Mejuah-juah(Perjuangan) Berastagi, namun di pintu museum tersebut tertulis “TUTUP” dan ada larangan parkir didepannya, maka tidak mau larut dalam kekecewaan kami pun melanjutkan perjalanan ke sekitar objek wisata Gundaling yang masih di kawasan kota wisata Berastagi. Dari Gundaling, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Karo Lingga di Lingga. Jujur, saya tidak tahu pasti letaknya, maka sambil berbelanja perbekalan saya mencoba bertanya-tanya kepada kasir swalayan dan masyarakat sekitar tentang informasi lokasi Museum Karo Lingga ini. Setelah mendapat informasi maka kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Lingga. Melalui Jl. Udara Berastagi hingga simpang empat kami berhenti sejenak bertanya lagi memastikan arah kami sudah tepat dan melanjut perjalanan mengikuti jalan menuju Desa Lingga dan Kabanjahe. Tidak jauh dari tempat kami bertanya, ada pertigaan dengan papan penunjuk arah dan plank bertulisakan Museum Karo Lingga dan sebuah komplex pemakaman dan geriten tepat di pertigaan itu, maka kamipun masuk ke kanan pertigaan itu menuju Desa Lingga, dan sekitar +/- 300 meter dari pertigaan akhirnya kami menemukan tujuan kami, yakni Museum Karo Lingga, tepat didepan sebuah Gereja Khatolik yang bangunannya juga bernuansakan Karo.

Museum Karo Lingga adalah museum yang menyimpan benda-benda dari kebudayaan Karo, yang letaknya di Desa Lingga(jalan menuju desa budaya Lingga), tepat didepan Gereja Khatolik Santo Petrus. Bangunan museum ini sendiri merupakan model rumah panggung yang terbuat dari kayu, dengan bernuansa Karo yang paling jelas tampak pada bagian atapnya dan ayo-ayo(muka) dari rumah yang ada bertuliskan salam khas masyarakat Karo: “Mejuah-juah.”

Saat masuk ke kompleks museum yang dimana halamanya ditumbuhi oleh rerumputan hijau, tanpa menunggu untuk disapa saya langsung turun dari mobil dan menyapa seorang peria paruh baya dengan sapaan khas Karo. Berikut percakapan antara kami di halaman depan museum.

Museum Karo LinggaSaya:  “Mejuah-juah, Pak!” sambil menjulurkan tangan saya.
Si Bapak: “Mejuah-juah” balasnya denga senyuman sambil menjabat tangan saya.
Saya: “Me enda nge ningin Museum Karo Lingga e, Pak?”
Si Bapak: “Ue, ku bas-ken, lit nge bas bibindu.” Jawabnya dengan penuh keramahan, sambungnya: “Egia, ja nari kin kena?
Saya: “Kami Patumbak nari, Pa?
Si Bapak: “Adi bage kubasken kena yah.” Katanya mempersilahkan kami untuk masuk.
Museum Karo Lingga
Bagian tengah museum
Untuk memasuki museum ini (tidak dipungut berapa beaya resmi, namun sukarela) kita harus menaiki anak tangga dari bambu bulat, dan ture-ture(teras)-nya juga masih terbuat dari bambu, dan menjaga kebersihan museum alas kaki harus dibuka. Namun tidak usah khawatir, karena lantai museum ini bersih kok dan cukup nyaman untuk menginjakkan kaki didalamnya, karena lantainya juga terbuat dari kayu.
Koeksi "gundala-gundala" di Museum Karo Lingga
Koeksi "gundala-gundala" di Museum Karo Lingga
Memang, koleksi dari museum ini masih jauh dari lengkap, akan tetapi, setidaknya kita sudah mendapat sedikit gambaran tentang kehidupan masyarakat Karo, khususnya dimasa lampau. Memasuki museum di bilik ruangan sebelah kanan kita akan menemui benda-benda kesenian dan kerajinan Karo, dari alat musik dan alat pertanian, serta alat dapur yang dipajang di lemari kaca, dan diatas meja yang terbuka dipajang patung dan tiga buah gundala-gundala (topeng Karo), dan sebuah replika manuk sigurda-gurdi(penggambaran jelmaan/siluman rajawali), serta beberapa photo yang dipajang di dinding(untuk menjaga keamanan benda dan kenyamanan pengunjung maka di setiap benda yang dipajang terbuka deiberi tulisan "Jangan Disentuh!") . Di bilik kiri didominasi dengan peralatan sehari-hari dari masyarakat Karo, mulai dari alat dapur, alat makan, alat mengambil/menampung air, dan pernak-pernik lainnya. Ada juga tongkat dan dalam lemari etalase kaca dipajang patung model yang memakai pakaian adat Karo(pria-wanita) dan uis(kain) tradisional Karo, serta photo-photo yang dipajang di dinding.         
Peralatan sehari-hari masyarakat Karo
Peralatan sehari-hari masyarakat Karo
 Yang menarik perhatian saya adalah dibagian tengah ruangan ada beberapa peralatan sehari-hari masyarakat Karo tradisional, dan yang paling menarik perhatian saya adalah “campah”, yakni: tempat makan orang Karo zaman dahulu yang terbuat dari kayu yang lebarnya sekitar 65 x 65 cm, dengan ketebalan sekitar 15 - 20 cm. Dan, beberapa benada yang mengingatkan saya kepada almarhum Nini Bulang(kakek) saya, seperti gelang-gelang(wadah memasak dari bahan kuningan), tumbak(tombak), guci, mangkuk, pinggan pasu, dll yang dulu sempat juga saya koleksi namun karena berpindah-pindah sebahagian entah kemana. Puas berbincang-bincang dengan bibi penjaga museum dan mengambil beberapa jepretan photo dari kamera digital, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Kuta(Kampung) Budaya Lingga yang tidak jauh dari museum.

Beranjak dari Museum Karo Lingga menuju Desa Budaya Lingga, optimis saya akan memetik makna yang berarti dan melihat objek-objek yang menarik, ya.. ada betulnya, karena disepanjang jalan menuju desa budaya Lingga banyak kita jumpai kuburan dan geriten(penyimpanan tulang) yang dibangun megah dengan gaya arsitektur khas Karo serta perladangan masyarakat setempat. Bagus sekali, namun tak sepenuhnya benar! Memasuki kompleks desa budaya Lingga, kita disambut gapura seperti sebuah gerbang yang berdiri megah dan kokoh dengan gaya arsitektur Karo. Melintasi gerbang, kita seakan melintasi ruang dan waktu dari modern ke klasik, setidaknya itu apresiasi dari saya. Namun jika sudah masuk maka sedikit rasa kecewa menerpa, karena apa yang diberitakan tidak lagi sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, atau dengan kata lain, yang diberitakan itu adalah cerita sejarah(masa lampau). Tidak jauh dari gerbang masuk, kita akan disambut sebuah bangunan yang cukup megah, yakni Jambur(balai) Lingga. Kami memutuskan untuk memarkirkan mobil tepat di depat jambur.

Sebuah Jambur  ber-cat putih yang berdiri kokoh dan megah dengan tiang-tiang kayu bulat menambah keunikannya. Di langit-langit jambur juga terdapat dua buah papan yang lumayan lebar(sekitar 1, 5 x 3 meter) yang bertuliskan nama-nama dengan bermerga Karo. Tidak menunggu untuk disapa, saya langsung menyapa orang-orang yang ada di jambur yang asyik menonton permainan tenis meja. Seperti biasa, diawali salam “Mejuah-juah” berkenalan dan basa-basi. Tidak mau sia-sia datang ke desa Lingga saya banyak bertanya tentang desa tersebut kepada seorang masyarakat setempat yang kebetulan ber-merga Karo-karo Sinulingga. Merga Karo-karo Sinulingga adalah kelompok merga yang memanteki(mendirikan) desa Lingga dan keturunannya juga dimasa aristokrak berbiak merupakan kaum Sibayak(raja, penguasa, si kaya, yang dimuliakan, bangsawan) di Lingga dengan gelar Sibayak Lingga. Salah satu pertanyaan saya yakni tentang nama-nama yang tertera di langit-langit jambur, dan beliau(Sinulingga) menjelaskan kalau nama-nama itu merupakan para tokoh pendiri jambur. Dia juga bercerita kalau jambur di desa itu dulunya memiliki halaman yang luas dan ditumbuhi rumput hijau dan tempat parkirnya juga luas, namun seiring bertambahnya populasi penduduk, maka bangunan bertambah dan semakin merapat ke jambur hingga kini hanya meyisakan bangunan utama jambur dan jalan yang ngitari jambur dari tiga sisi jambur.

Pak Sinulingga juga bercerita, dahulu bangunan rumah di Lingga bergaya arsitektur tradisional Karo(rumah panggung) dan banyak sekali didapati rumah-rumah adat(Si Waluh Jabu). Namun, beberapa tahun belakangan rumah-rumah itu runtuh dimakan usia dan diganti dengan bangunan yang lebih modern, sehingga kini hanya menyisakan dua rumah adat lagi yang juga terancam runtuh. Jadi ancaman kepunahan rumah adat Karo di Lingga sudah dalam ambang sangat kritis dan butuh segera diperhatikan. Lihat video Ekspedisi Cincin Api.

Lama berbincang-bincang dengan Pak Sinulingga saya banyak mendapat informasi kehidupan masa lampau dari desa Lingga yang membuat saya merinding sekaligus sedih. Desa Lingga yang tersohor dalam sejarah Sibayak Lingga dan pemberitaan dengan nama desa budaya dengan rumah adat yang berusia ratusan tahun, saya rasa sudah pantas menyandang istilah kini “hanya kenangan”. Apakah kita membiarkannya saja? Melihat apa yang terjadi di Desa Lingga mengingatkan saya dengan perjalanan Kerja Tahun(pesta tahunan masyarakat Karo) saya sekitar tahun 1997 di Desa Buah Raya dan Kuta Buluh Simole. Dimana, saya kecapekan bolak-balik menaiki anak tangga dari ruma adat Si Waluh Jabu yang  satu ke rumah adat lainnya, dan, sejak saat itu tidak pernah lagi mengunjungi dua tempat tersebut. Apakan disana juga rumah adat ini telah punah? Hm.. Menyedihkan sekali mendengar cerita dari Pak. Sinulingga dan melihat dengan kedua mata ini bahwa desa-desa tradisional Karo kini hanya kenangan seperti halnya Kerajaan Aru(Haru: Karo Kuno). 

Puas melihat sekeliling Desa Lingga, namun sengaja saya tidak mengambil satu gambar-pun, karena jujur untuk saat sekarang ini selain daripada sejarahnya, udaranya yang sejuk, serta masyarakatnya yang ramah dan bersahabat tidak adalagi sisa-sisa kebesaran Lingga yang diceritakan, dan, kami pun berpamitan pulang kepada beberapa orang tua dan masyarakat Lingga yang sangat ramah dan royal senyum. Sebuah pengalaman yang mengharukan tetapi kami harus kembali dan meninggalkan udara sejuk di Desa Budaya Lingga yang melegenda ini. Namun, saat perjalanan pulang, saya tidak henti-hentinya memikirkan rumah adat yang terancam punah itu dan hati kecil ini terus bertanya: apankah kejayaan Lingga akan kembali? Dimana dulunya Lingga tersohor bukan hanya alam yang indah dan kemajuan dalam bidang ekonomi, tetapi dengan rumah adatnya, dan tokoh-tokohnya terkhusus dari kaum Sibayak(Sibayak Lingga) yang melegenda dan disegani oleh negeri-negeri sekitarnya. Selain itu, dari tradisi yang beredar meyakini bahwa nenek moyang bangsa Batak atau sering disebut Si Raja Batak juga diyakini berasal dari Lingga dan masih keturunan dari Sibayak Lingga. Mungkin saat-saat kejayaan itu kembali hanya dalam mimpi saja.


Jam menunjukkan Pukul 15.45 wib saat kami keluar dari Desa Lingga. Tidak sempat untuk singgah di Museum GBKP yang terletak di Kompleks RC. GBKP Sukamakmur, karena semua fasilitas di RC dijadwal tutup pukul 16.00 wib. Tapi tidak apa lah, sebab museum yang satu ini sudah sering saya kunjungi dan selalu akan ada kesempatan untuk mengunjunginya, setidaknya saat menemani adik saya berenang di kolam rengan kompleks RC tersebut.

Juga menjadi kebiasaan saat kami kalau pulang dari dataran tinggi Karo selalu singgah makan BPK, cuma,  kali ini kami memutuskan makan BPK di sekitar Pancur Batu saja untuk mengejar waktu agar terhindar dari kemacetan yang biasa terjadi saat hari sabtu atau hari libur. Ya, tujuan utama tentunya di BPK Ketaren, Namo Mbacang sekalian ngambil jalan potong alternatif untuk pulang ke rumah. Bukan karena itu, lokasinya yang adem dan tenang, serta rasanya yang memenuhi standart dan selera kami membuat BPK Ketaren ini menjadi persinggahan kami jika melewati jalan ini. Ya, saya rasa ini patut menjadi rekomendasi buat teman-teman yang ingin menikmati BPK jika berkunjung ke Sumatera Utara dan tentunya buah salak yang dijajakan tidak jauh dari kedai Ketaren tersebut. Hehehe…. Capek jalan-jalan, ternyata lebih capek menceritakannya ya? Ok-dekh, jalan-jalan kita minggu depan kemana ya? Hehehehe…. Salam Mejuah-juah.

Spesial untuk Kuta Lingga tercinta, saya ingin menyanyikan satu lagu karya komponis nasional yang juga merupakan salah satu komponis legendaris Karo asal Kuta Seberaya, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang berjudul "Bunga-bunga Nggeluh."

Bunga-bunga Nggeluh (Komponis: Djaga Depari)

Layas-layasi lah ukurndu
Ola ndele la erluhu
Kerna pengindo kempu ninina Dibata metehsa 
Turi-turi'i lah ukurndu, layasi lah pusuhdu
Nde.. Kerna 'lajang aku nindu
Tuhu-tuhu kel meriso 
Daging ngalah lalap la lolo
Lampas tayang mata la tunduh
Ee..nda bunga-bunga nggeluh 
Kempu kel nini-na anakku, em  bunga-bunganta nggeluh.

Timai aku timai nini Tigan nindu, 

Tapi kena nadingken aku
Ola kel kita sirang nini Tigan ningku, 
Beru Tarigan ndai ngelukken aku 
Oh, kempu nini-na kuja pagi kami kerina
Turang nande Tigan kusayangi, bunga-bunga 'geluh..

Timai aku timai nindu
Tapi kena ngelukken aku
Ola kel kita sirang beru Tarigan ningku
Tapi genduari kam ngelukken aku
Oh, bere Karona kuja pagi mama Biringna
Anakku kempu ninina kusayangi, enda bunga-bunga nggeluh.

Timai aku timai nindu, 
Tapi kena ngelukken aku; 
Olakel aku tading nini ningku, 
Beru Tarigan ndai ngelukken janji. 
Oh, nande Tiganna kuja pagi mama Biringna; 
Turang ku sayangi ari aron enda bunga-bunga 'geluh.

Lihat video-nya berikut ini: Koleksi:  Bastanta Permana Sembiring;   Patumbak,  01 Agustus 2008; "Bunga-bunga Nggeluh - Pinta-pinta"  Cipt: Djaga Depari;  vokal: Sopian Surbakti; penata musik: Mustika Barus(alm).


Museum Karo Lingga


Lokasi: Jl. Kuta Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, Indonesia 22153.
Tiket masuk: Sukarela.
Parkir: Halaman museum dan jalan(geratis).
Koleksi: Benda-benda dari kebudayaan Karo.
Kategori: Museum, wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata pendidikan.
Akses jalan: Keseluruhan bagus(sekitar 15 km dari Kota Wisata Berastagi; 5 km dari 
Kota Kabanjahe(ibu kota Kabupaten Karo); 81 km dari Kota Medan).



Kuta Budaya Lingga
Lokasi: Kuta Budaya Lingga, Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo,
Sumatera Utara, Indonesia 22153.
Tiket masuk: Tidak dipungut beaya.
Parkir: Halaman, parkir, jalan(geratis).
Koleksi: Sejarah, jambur, pemandangan alam, dan rumah adat.
Kategori: Wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata pendidikan.
Akses jalan: Keseluruhan bagus(sekitar 15 km dari Kota Wisata Berastagi; 5 km dari 
Kota Kabanjahe(ibu kota Kabupaten Karo); 81 km dari Kota Medan).

ads

ads